
Bisma meraih pinggul ramping kia, dan membawa tubuh itu jatuh diatas pangkuannya. Tangan kekarnya mulai menelusup kedalam lingerie tipis itu, membuat kia seketika membusungkan tubuhnya kebelakang. Itu lantas memberi akses pada Bisma untuk mendapatkan akses lebih lagi padanya.
Kia mendekatkan wajahnya, hingga dahi keduanya saling beradu saat ini. Hembusan hangat itupun keluar dari napas Bisma dan menambah gelenyar hangat ditubuh keduanya. Kia spontan, tangannya bergerak membuka satu persatu kancing piyama yang Bisma kenakan. Naluri seorang wanita, dengan pasangannya dan itu wajar. Apalagi bagi kia yang memang dengan begitu banyak pandangannya diluar sana.
Sementara itu, didepan pintu kamar keduanya tengah berdiri seorang pria. Ia seperti tak ada kerjaan lain, hingga harus menguping kegiatan pengantin baru itu dikamarnya. Ia mendekatkan telinga tepat dipintu, dan mendengar samar aktifitas mereka disana. Lenguhan, *******, dan betapa indah aktifitas yang mereka kerjakan. Terbayang oleh otak mes sum surya, bagaimana panasnya kasi bercin nta mereka di dalam sana.
"Ooh, Kia! Sepertinya kau sangat... Aaaaah, aku rasanya menyesal telah meninggalkanmu saat itu," sesal surya dengan masa lalunya.
Samakin kuat yang ia dengar dari dalam, semakin Surya mendekatkan telinganya dipintu itu. Seolah ikut menikmati apa yang yang mereka lakukan disana. Bahkan, terdengar sangat erotis ******* Kia didalam sana.
"Wah, Kia sedang ngapain? Dahsyat bener. Hebat juga Kak Bisma, buta tapi bisa membuat istrinya seperti itu. Waaaah," Surya terkagum-kagum dengan apa yang Ia dengar.
__ADS_1
"Yaaang! Sayaaaang! Kamu dimana?" panggil Jinan pada suaminya. Ia terbangun saat mendapati suaminya tak ada diranjang. Iapun segera keluar dan mencarinya meski matanya masih sangat lengket. Surya yang mendegar panggilan itu hanya mencebik kesal, tapi langsung turun untuk menemui istrinya.
"Ya, sayang, ada apa?" jawab Surya. Untungnya Jinan tak melihat saat surya berlari turun kebawah, hingga ia tak curiga dengan aktifitas suaminya.
"Kamu darimana aja? Tengah malem begini keluyuran?"
"Maaf, sayang. Aku kehausan, jadi ambil minum ke dapur. Biasanya kan, kamu yang sediain minum buat aku. Gara-gara kesel, aku jadi terabaikan." balas surya penuh dusta.
"Kan belum jadi, yang. Aku pipis dulu barusan, sekalian lewat kekamar mandi dapur." surya masih penuh dengan alasan dibibirnya.
Jinan mendengkus kesal karena tingkah suaminya. Ia berjalan dengan hentakan kaki yang kuat menuju dapur dan mengambilka air minum pesanan suaminya itu. Surya hanya melirik langkah kaki sang istri, sembari menatap tubunya dariatas sampai kebawah. Tampak sedikit kucel dan berantakan, beda sekali seperti saat pertama bertemu. Jinan yang modis, wangi, dan tubunya selalu mendapat perawatan hingga semakin sempurna. Bahkan amat bangga si surya, saat dapat menaklukan JInan sebagai istrinya meski harus diDp terlebih dulu.
__ADS_1
Saat itu Jinan sebenarnya tengah dekat dengan seseorang yang cukup mapan. Tapi akibat segala rayuan maut Surya, Jinanpun terjerat kedalam lembah cinta yang mereka buat. Membawa mereka kedalam sebuah pernikahan yang sebenarnya tak pernah Bisma restui selama ini.
"Ini minumnya... Yuk, balik ke kamar. Aku amsih ngantuk banget nih," ajak Jinan menggandeng suaminya.
"Yaaa, jangan lagsung tidur dong."
" Udah loh, yang. Aku tuh capek, mana ngga mood banget gara-gara dia..." tatap Jinan kekamar Bisma yang ada diatas. Kebetulan, mereka baru saja mematikan lampu kamarnya. Jinan semakin sinis, membayangka apa yang baru saja mereka lakukan berdua.
"Yang, mau juga."
"Engga... Ayo tidur," tarik Jinan pada lengan suamiya. Masuk kekamar dan segera mengunci pintunya dengan rapat.
__ADS_1
Entah bagaimana perasaan surya saat ini. Lagipula salahnya sendri kenapa harus menguping aktifitas malam orang lain. Jadi, jsutru dirinya sendiri yang tersiksa malam ini.