Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Akan tetap pada pendirianku.


__ADS_3

Bruuuggghhh!! Braaakkk! Braaaakkkk!!


Kia melempar tasnya di atas ranjang. Di susul dengan melayangkan kaki hingga sepatunya terlepas sendiri menerjang dinding yang ada di hadapan nya. Nanda yang sejak tadi ikut di belakang, terkejut dan beberapa kali mengelus dada melihat kebrutalan kakak nya itu. Tampak memang, betapa Kia tengah emosi saat ini.


"Kak, jangan begitu, Kak." pinta Nanda, bergerak merapikan semua yang tampak berantakan dimatanya. Sementara Kia, menghempaskan tubuh nya setelah semua pakaian nya terbuka. hanya menyisakan pakaian dalam nya yang tipis dan sejuk dengan semua hawa panas di tubuhnya.


"Pergilah... Katakan pada papamu itu, Aku tak mau di jodohkan seperti ini. biar bangkrut, Aku akan tetap pada pendirianku," ucap Kia pada Adiknya. Dan tanpa banyak berkata lagi, Nanda keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan rapat. ia tahu benar, jika Kia pasti begitu malas mendapat gangguan dari siapapun saat ini. Dan lagi, Ia tak ingin jika Mama nya menjadi sasaran kemarahan Kakak angkatnya itu.


Nanda menuruni setiap anak tangga dengan lesu. Sang Mama pun menghampiri  dan mempertanyakan apa yang terjadi pada kedua putrinya. Dan mau tak mau, Nanda menceritakan semuanya. Mengenai pertukaran yang mereka lakukan, penolakan Bisma padanya dan marahnya Kia pada pria itu.


"Pernikahan, jika dilakukan dengan terpaksa memang tak akan baik, sayang. Akan banyak pertentangan yang terjadi. Apalagi jika menurut keterangan dari Nanda, jika keduanya sama-sama keras dan berpendirian seperti ini. Akan susah mengendalikan semuanya."

__ADS_1


"Tapi Nanda lihat, Tuan Bisma sangat menginginkan Kak Kia, ma."


"Kita lihat saja, sayang. Nanda jangan terlalu ikut campur dengan urusan ini."


"Iya, Ma. Nanda pamit, mau ke Papa." kecupnya di tangan sang Mama.


Mama Lisa menatap ke atas. Kamar itu telah tertutup rapat, hingga Ia tak berani mendekat sama sekali. Padahal begitu ingin rasanya, mengajak Kia mengobrol dan berbagi cerita tentang semua kegiatan hari ini. Tapi Ia memilih mundur, daripada harus kembali bertengkar dengan putri sambungnya itu.


"Papa," sapa Nanda, lalu duduk di sebelah Pak Arman.


"Perkenalkan, ini putri saya. Namanya Nanda. Ada Satu lagi, yang tua namanya Akia. Usianya tak beda jauh," ungkap Pak Arman, pada koleganya itu.

__ADS_1


"Papanya di usia segini saja masih segar. Wajar, jika punya putri yang cantik seperti ini." puji Pria itu, dan langsung membuat Nanda tersipu malu. Gadis itu memang lembut, berbanding terbalik dengan Kia yang keras kepala. Tapi wajar, karena mereka lahir dari rahim yang berbeda.


Rapat selesai. Pak Arman dan Nanda berjalan bersama menuju ruangan mereka. Dan seperti sang Mama, Papa Nanda pun mempertanyakan pasal pertemuan tadi antara Kia dan Bisma.


"Kak Kia bilang, Dia ngga mau di jodohin sama Tuan Bisma, Pa." ucapnya, tertunduk seperti tak tega melihat ekspresi sang Papa padanya.


Pak Arman memang tampak pening. Mengerutkan dahi dan memijatnya hingga kemerahan. Memikirkan bagaimana cara nya bicara akan penolakan itu. Biar bagaimana pun, Ia juga tak tega jika anak kandungnya menikahi pria buta seperti itu.


"Apakah, Papa harus jodohkan dengan yang lain. Pria normal, dan setidaknya Kia lebih pantas bersanding dengan nya. Jangan... Pria tanpa pengelihatan seperti itu. Yang pasti akan merepotkan Kakak mu."


Saat itu Nanda lupa menjelaskan, betapa sensitif Bisma dengan lingkungan nya. Yang bahkan sudah begitu paham dengan Akia yang memang Ia begitu inginkan. Nanda hanya fokus, mendengar segala keluh kesah sang Papa, yang sampai berlinang air mata menyesali keputusan yang Ia ambil tanpa fikir panjang itu.

__ADS_1


"Ya... Papa harus carikan yang lain, agar Kia tak terpaksa menikahi pria buta itu. Rasanya tak ikhlas, jika Kia mendapat pria yang kurang normal, sekaya apapun dia."


__ADS_2