
"Yak... Kamu kenapa?" tegur Kia yang nyaris saja tertabrak olehnya.
"Kia?" kaget surya kala itu. Ia memperhatikan Kia yang seolah tenang dan tak melihat apapun disana, seperti yang Ia lihat saat ini. Surya merasa itu hanya halusinasinya saja kearena sudah terlaku lelah dengan semua pekerjaan yang ada.
Kia kemudian meninggalkan surya sendirian, karena Kia meyakinkan jika surya sebentar lagi akan dipanggil keatas panggung. Dan bahkan Kia mengucapkan selamat dengan sebuah pelukan yang hangat untuk mantannya itu. Suryapun seolah menjadi seorang cassanova mendadak, karena merasa Kia luluh padanya.
Semua ketakutan itu membawa surya mendarat diatas panggung. Saat itu pembawa acara tengah membacakan susunan acara dari konser yang megah itu. Tapi surya sudah ada disana, hinga Ia langsung menyambutnya untuk membuka acara sebagai Direktur mereka.
"Berhubung Pak Surya sudah ada disini, maka kita sekalian akan mendengar pidato Beliau untuk peresmian konser. Kepada Pak Surya, kami persilahkan." sambut Sang pembawa acara padanya. Dan dengan segala percaya diri yang Ia miliki, Ia segera menuju tempatnya untuk mulai berpidato sesuai dengan apa yang telah Ia hafalkan sejak beberapa hari lalu.
Semu sorak sorai untuk Surya saat itu. Rasa nerveusnya sudah hilang dengan segala sanjungan yang diberikan untuknya dibawah sana. Ucapan demi ucapan terimakasih secara simbolis Ia haturkan untuk para pengunjung yang ada dan mensupportnya dari belakang. Istri, dan teman-teman yang lain. Entah siapa itu karena Ia tak punya teman.
Dalam semua ucapan resmi itu, sebuah sorot lampu kembali menyorot sosok Bisma yang kembali Ia llihat. Masih dengan bentuk yang sama, menakutkan dengan banyak perban dimatanya. Tersentak dan mundur, tapi Surya berusaha menjaga wibawanya saat itu. Meski sebenarnya lututnya bergetar tak karuan dan amat sulit Ia kontrol bersama segala rasa takut yang ada. Apalagi, mereka semua seolah tak melihat Bisma yang ada disekitar mereka saat itu.
__ADS_1
Daksa, Nanda dan kia kompak tersenyum dengan ekspresi takut yang surya berikan. Benar-benar usaha Surya membohongi dirinya itu amat lucu dan membuat mereka tertawa bersama disana. Getaran suara surya pun terdengar dengan amat jelas ditelinga mereka, seraknya membuat mereka mengetahui seberapa keras surya dalam semua ketakutan yang Ia alami barusan.
Surya menyambung setiap kalimat demi kakimat yang Ia ucapkan, amat puitis apalagi saat Ia membicarakan semua perjalanan kariernya hingga saat ini. Dan itu tandanya, video dikumenter untuk surya itu akan segera diputar sebagai tontonan menarik untuk mereka semua yang ada disana.
"Nah... Ini adalah video tentang semua perjalanan karir saya selama ini. Merangkak dari titik terendah hingga akhirnya bisa menduduki kursi direktur dihotel dengan segala kepercayaan yang mereka berikan. Tentunya, semua didapatkan dengan segala kerja keras yang saya lakukan demi hotel ini." Semua itu surya ucap dengan penuh rasa bangga seolah itu prestasi yang amat membanggakan.
Saat semua orang fokus dengan tontonan itu, Bisma kembali muncul dan berjalan dengan santai tanpa balutan lagi yang membungkus matanya. Hanya saja kaca mata hitam itu masih Ia pakai agar tak terlalu silau, mengingat belum terlalu bisa menatap cahaya yang berlebihan saat ini.
Surya begongm dan tubuhnya membeku saat itu. Tangannya mengepal dengan wajah yang kembali pucat, karena Ia merasa itu nyata adalah Bisma yang datang. Apalagi semua orang menyambutnya dengan penuh rasa hormat.
"Hey!! Kalian ini apa-apaan?" pekik surya padanya, hingga Bisma menelpon pada Hp yang Pegang saat itu.
"Lihat pertunjukan dibelakangmu," ucap Bisma dengan baritonnya saat itu.
__ADS_1
Surya perlahan menoleh dan memutar tubuhnya kebelakang. ia melihat semua film pendek mengenai perjalanan menuju suksesnya itu dengan seksama, namun perjalana itu menunjukkan semua kejahatan yang Ia lakukan disatukan dalam sebuah video dokumenter yang cukup panjang tanpa iklan, Dan semua sudah melihatna sejak awal. Sejak saat Surya meminta Nining mmemberikan obat agar Bisma tak kunjung bangun dari tidurnya saat itu.
Saat ini adalah bukti terbaru, saat Surya mendorong Bisma jatuh kelaut dengan tangannya sendiri.
"Bagus bukan? Itu semua video perjuanganmu selama ini. Perjuangan untuk naik, tapi menjatuhkan orang lain." seringai Bisma, lalu menutup panggilannya saat itu.
Surya jatuh terduduk, lemas dan tenaganya seketika hilang. Darah disekujur tubuhnya seolah berehenti mengalir hingga Ia lunglai tanpa tenaga. Bahkan dari pintu masuk menuju panggung itu, tampak Jinan tengah menggendong anaknya menyaksikan apa yang Ia perbuat selama ini.
Jelas sudah, wajah kecewa Jinan yang diberikan untuknya. Bahkan tanpa ingin meminta penjelasan, Jinan pergi meniggalkannya usai melemoar sebuah surat pengajuan cerai yang sudah Ia tanda tangani.
Liana yang menjebaknya, agar Surya tanda tangan tanpa melihat isi didalam dokumen itu.
"Aaaaaarrrrrrrggghhhh!!!!!" Surya menjerit sejadi-jadinya. Semua berantakan dan semuanya hilang seketika. Ia hanya bisa berteriak, berkali-kali berteriak tanpa ada satu orangpun yang mau untuk menenangkan dirinya saat itu, hingga tubuhnya tergolek lemah dilantai panggung dan beberapa satpam menggotong tubuhnya keluar seperti korban bencana alam.
__ADS_1
Menangispun sudah tak mampu, hanya bisa merintih dan merutui nasibnya dibelakang sana. Memeluk surat cerai sembari bersender di tiang panggung itu sendirian tanpa ada yang perduli padanya.