
"Aku yang memblokirnya. Mau apa, kau?"
Surya langsung menoleh, terkejut dan nyaris tersentak akan kehadiran Kakak iparnya itu disana.
"Ka-Kak Bisma, sejak kapan-...."
"Sejak kau belum masuk, aku disini. Kau mau apa dengan uang perusahaan?"
Wajah marah yang tadi, langsung Bisma rubah menjadi wajah ramah dan penuh senyum. Walau Ia tahu, jika Bisma tak akan pernah melihat itu darinya. Tapi setidaknya ada Daksa yang selalu mengintainya disana.
Surya langsung melangkah dan menghampiri Bisma, lalu duduk disebelahnya, "Begini, Kak. Chesi kan mulai banyak kebutuhan. Susu pun harus susu alergi, dan itu harganya mahal. Untuk semua perlengkapan, baju, celana, sepatu dan yang lain. Jinan hanya ingin yang terbaik untuk putri kami."
__ADS_1
"Mobil?" terucap dengan wajah datar, tapi terdengar sebuah amarah dari nadanya. Surya pun langsung melirik sinis pada Daksa, tapi pria iti hanya mengedik kan bahunya.
"Itu.... Mobilku sudah mulai rewel, Kak. Kadang harus keluar kota pulang pergi, kadang macet di jalan." alasan terucap lagi dari mulut pria itu. Kali ini, tanpa respon berarti dari Bisma.
Surya mulai basa basi lagi, sok akrab untuk meraih hati meski sebenarnya begitu malas ketika Bisma si buta tak terlalu merespon nya. Ia menceritakan semua perkembangan Chesi, yang kini mulai aktif dan mulai merangkak membuat Mamanya selalu kelelahan dalam menjaganya. Apalagi, Ia tak membayar pengasuh untuk membantu Jinan mengurus Chesinya.
Bisma sebenarnya mendengarkan itu, hingga muncul rasa rindu nya pada sang keponakan. Tapi, Ia tak bisa lagi menggendongnya seperti biasa. Padahal, biasanya Chesi lebih dekat dengan dirinya di banding dengan Papanya sendiri yang selalu sibuk tanpa kepentingan yang berarti.
Obrolan dihentikan, ketika Daksa membahas waktu untuk keduanya. Dengan alasan kontrol mata, keduanya pergi meninggalkan Surya di kantor dengan segudang pekerjaan yang ada.
"Kita melakukan perjanjian di restaurant. Aku akan membawamu kesana, dan aku mengawasimu dari kejauhan. Jangan macam-macam,"
__ADS_1
"Kau kira aku bisa apa? Menyerangnya dengan agresif ?" tukasĀ Bisma. Daksa hanya menggeleng, dan membantu Bisma masuk ke dalam mobilnya. Ia pun menyetir dengan segera, membawa nya ke tempat pertemuan itu di langsungkan.
Tiba di restaurant itu. Daksa segera membawa kembali Bisma ke tempat yang telah Ia boking sejak tadi pagi. Dengan suasana yang nyaman, dengan kursi yang akan membuat Bisma tak terlalu lelah duduk disana. Hanya tinggal menunggu gadis itu, dan mereka akan bertegur sapa entah bagaimana keadaan nya nanti.
"Aku tak bisa membayangkan? Kenapa justru aku yang tegang?" gumam Daksa, yang duduk dengan segela syrup dalam genggaman nya.
Ia menatap suasana sekitar yang lumayan ramai dengan pengunjungnya, hingga Ia melihat seorang wanita masuk dan menghampiri Bisma di tempatnya. Ia langsung menduga, jika gadis itu lah yang di tunggu Bisma saat ini.
"Cantil juga. Mantep selera Bisma, meski ngga bisa lihat itu cewek." puji Daksa pada gadis itu.
"Permisi? Tuan Bisma?" sapa seorang gadis. Bisma mempersilahkan nya duduk, dan gadis itu langsung menurutinya. Sayangnya, wajah Bisma tampak datar dan tak seriang yang dibayangkan. Daksa memperhatikan nya dari kejauhan dan sedikit cemas akan hal itu.
__ADS_1
"Tuan perkenalkan, saya...."
"Kau bukan Dia..." ucap Bisma, seketika membuat Nanda gugup dan gemetar. Bagaimana bisa, seorang pria tanpa melihat tapi mengenali orang yang Ia tunggu.