
"Aku tak memintamu bekerja. Hanya ingin memperkenalkan Nyonya Bisma pada para karyawannya. Hmmm?" Bisma membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Kia. Wanita itu seketika terdiam tersipu malu dengan tatapan yang Bisma berikan nan penuh arti. Walau Bisma sendiri tak dapat menikmati pemandangan indahnya sendiri.
"Yaudah, Kia siap-siap dulu," Kia meninggalkan Bisma yang telah rapi dengan seragamnya. Ia mencari beberapa pakaian fromal yang cocok Ia pakai untuk bersanding dengan suaminya alam pertemuan nanti.
Bisma mencium aroma Kia yang begitu harum dan amat menyukai bau itu. Dihirupnya dalam dalam seolah membiarkan semua meresap kedalam inti tubuhnya dan menambah semangat pagi untuknya.
"Ayo," gandeng kia padanya. Cukup mengagetkan, karena terlalu larut dalam lamunannya yang begitu menenangkan.
"Wajahmu," pinta Bisma padanya. Kia pun segera meraih tangan Bisma dan memberikan wajahnya untuk Bisma raba dengan lembut, dan merasakan setiap lekukan indahnya disana berakhir dengan colekan mesra dihidungnya.
"Cantik," puji Bisma pada istrinya.
"Ih, sok tahu.." ledek Kia pada suaminya.
__ADS_1
"Jangan hanya karena aku tak bisa menatapmu, kau kira aku tak bisa tahu seberapa cantik dirimu."
"Iiiih, gombal! Udah , ih. Ayo turun, Oma udah nungguin." Kia meraih tongkat Bisma dan memberikannya. Mereka berjalan berdua menuruni anak tangga dan disabut semua orang yang memang telah menunggunya dibawah sana.
"Hay, Oma...." sapa Kia pada Oma sekar. Setelah membimbing Bisma duduk dan menyipkan sarapan suaminya, Kia mempersiapkan sarapan untuk yang lainnya disana. Bahkan, untuk Jinan dan Surya tanpa rasa segan pada keduanya. Tampak surya mencuri-curi pandang pada kecantikan Kakak iparnya itu.
"Jinan, Sena mana?"
"Ini, Yak..." Kia mengambilkan sepotong lagi untuk adik iparnya. Dan lagi-lagi, hanya cebikan sinis yang Kia dapat dari Jinan.
"Hmmm... Katanya, ini ayam goreng buatan Kia? Benar?" tanya Oma yang tampak menikmati hidangan itu.
"I-iya, Oma. Enak kah? Kia cuma bantu racik bumbu aja, sisanya Bi Is dan Nani yang masak. Kia beberes aja, tadi tuh." balas Kia tersipu malu, sembari membantu suaminya sarapan agar tak berceceran.
__ADS_1
"Kia rajin, loh. Ngga capek, sayang? Bangun pagi-pagi bantuin masak, beberes, ngurus suami dan...."
"Halaaah, itu masih baru, Oma. Makanya rajin, biar sana sini muji. Ntar kalau udah beberapa bulan, baru kelihatan malesnya."
Taakkk!!! Bisma meletakkan sendoknya dengan keras dimeja. Seketika Jinan diam, karena Ia tahu jika Bisma tengah memberinya peringatan untuk diam. Jinan tampak langsung melahap makanannya dengan rakus dan penuh emosi.
"Engga juga, Oma. Kia hanya pernah ngekost kurang lebih setahunan ini. Itu, saat jadi perawat kemari. Jadi biasa, semua kerjaan Kia lakuin sendiri."Kia berusaha menengahi, dan mencairkan keadaan diantara Jinan dan Bisma yang selalu tegang jika membahas dirinya. Sementara Surya diam seribu bahasa, menikmati makanan yang begitu nikmat baginya itu.
Jaman pacaran dulu, Kia pernah membuatkannya saat main ke kost surya. Dan saat ini, seperti terkenang kembali olehnya segala perhatian Kia yang dulu sempat Ia berikan. Kasih sayang tulusnya, dan semua kelembutan Kia untuk cinta mereka. Semua membuat surya sedih, karena serasa makin tak rela melihat kia menjadi milik orang lain saat ini.
Sarapan selesai. Mereka merapikan diri dan bersiap menuju hotel, namun berjalan terpisah. Surya sendiri dengan mobilnya, dan Bisma bersama supir dengan Kia didekatnya. Hal seperti ini, yang membuat kesenjangan sosial antara Jinan dan Bisma. Jinan selalu merasa Bisma tak perduli lagi padanya, menelantarkan Ia dan keponakannya. Hingga Ia kesulitan dari yang terbiasa hidup mewah serba ada dan dicukupi.
Namun, ada maksud sendiri untuk Bisma melakukan itu. Diantaranya, mengajarkan Surya untuk bekerja keras dan tak lagi selalu mengandalkan uang perusahaan seenak isi kepalanya.
__ADS_1