Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Kau nakal, Kia!


__ADS_3

"Mas... Mau ngapain?" tatap Kia tampak cemas.


"Mau apa lagi? Aku lapar," tatapan Bisma tampak begitu memburu, seolah ingin segera memakan Kia saat itu juga.


Kia tak akan bisa menolak jika Bisma sudah dalam mode seperti ini. Sekuat apapun melawan, pasti Ia akan kalah dalam geliat nikmat yang diberikan. Yasudah, pasrah saja dan nikmati semuanya.


Kia melepas cengkraman tangan Bisma darinya. Ia lalu meraih kemeja yang Bisma pakai dan perlahan membuka kancingnya satu persatu tapi pasti. Merasa mendapat lampu hijau, Bisma segera menjalankan aksinya dengan menyerang bibir tipis Kia yang manis. Ia melumaatnya dengan pelan pada awalnya.


Tapi karena balasan dari Kia yang mulai lihai, lumaataan itu menjadi semakin agresiif dan menuntut hingga terasa semakin dalam. Kia membusungkan dada untuk menyeimbangkan semua permainan itu, sembari terus melenguuh merasakan sebuah sengatan yang cukup hebat mengalir ditubuhnya.


"Massss..." Desaahan itu tedengar begitu indah ditelinga Bisma, membuatnya semakin semangat menyusuuri setiap lekuk tubuh indah istrinya. Saat semua kancing kemejanya terbuka, dengan cepat Bisma meloloskannya dari tubuh berototnya itu.

__ADS_1


Kia selalu terpesona menatapnya, dan Ia langsung meraabaanya dengan bahagia. Seperti mendapat sebuah objek yang amat menyenangkan untuk Ia mainkan. Apalagi saat jari-jari lentiknya dengan nakal bermain disana.


"Kau nakal, Kia..." bisik Bisma dengan suaranya yang mulai berat. Dan sebagai pembalasan, Ia merabaa tubuh mungil itu untuk membuat score mereka sama dalam permainan.


"Aaaaaahhh... Maaas!" Kia memekik, saat Bisma mulai meraih salah satu asetnya, dengan mulut dan dengan telapak tangannya yang besar. Gelenyar hangat semakin meningkat menjadi panas, saat semuanya lolos tak tersisa ditubuh akia.


Andai saja Bisma dapat melihat, pasti sensasinya akan semakin luar biasa saat itu. Setidaknya itu menjadi salah satu pemacu semangat untuk Bisma saat ini.


Bisma terus merayapi inci demi inci tuubuh kia saat itu, membuat Kia semakin gelisah dan terus menggeliat bagai seekor ulat bulu. Apalagi, saat Bisma menemukan titik inti dari tubuhnya dan meraih dengan lidahnya yang cukup lihai.


"Maasss!" lenguuh manja Kia saat mendapat pele pasan pertamanya. Bisma tersenyum puas kala itu, dan kembali merayap keatas membawa kia masuk dalam kungkuungannya untuk memulai penyatuuan.

__ADS_1


*


Gleeek! Tubuh surya terasa menegang saat sayup-sayup suara kenikmataan itu terdengar ditelinganya. Tangannya menggenggam gelas itu dengan kuat, sembari menarik napasnya dengan panjang..


"Gila... Kia ternyata menggemaskan banget," kagum Surya dalam hati. Hasraatnya seolah terpancing dengan apa yang Ia dengar saat ini. Telinganya memang tajam, tapi tidak untuk kepekaannya terhadap anak dan istri.


Surya memutuskan kembali kekamarnya, entah mau apa dia saat ini disana. Memilih memejamkan mata, atau menuruti nalurinya dengan bermain solo. Tapi parah, jika dalam permainan solonya Ia membayangkan sosok Kia menjadi bahan untuk napsunya itu.


*


Sementara itu didalam kamar sana, dua insan yang tengah memadu cinta itu belum kunjung selesai dengan aktifitasnya. Peluh dan keringat yang membanjiri, menunjukkan betapa panas permainan mereka saat itu.

__ADS_1


Kia duduk dipangkuan Bisma saat ini. Dengan segala gerakan liaarnya menikmati semua permainan yang tengah Ia ciptakan sendiri, menatap wajah sang suami yang memiliki tatapan tajam dan selalu bisa meluluhkan hatinya. Dahinya Ia rekatkan di dahi Bisma, beradu napas panas dengan irama yang sudah tak teratur lagi. Apalagi saat Bisma mulai mengguncangnya dengan cepat, lalu meraih bibiir Kia dengan kasarr.


Keduanya mengeerang saat meraih puncak bersamaan, lalu saling berpelukan dengan kecupaan dipipi Bisma.


__ADS_2