Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
SAH!!


__ADS_3

Semua kata sambutan dan penyerahan telah selesai. Tiba waktunya untuk Bisma saat ini dengan ikrarnya pada Pak Arman. Mereka pun saling bersalaman dengan tatapan mata yang sama-sama serius, bagai Bisma pria normal yang menatap Pak Arman dengan matanya yang tajam. Jantung Pak Arman rasanya berdegup kencang saat itu.


"Apakah dia benar-benar buta?" tanya Pak Arman dalam hati dengan tajamnya tatapan Bisma padanya.


"Siap, Nak Bisma?" tanya pak penghulu padanya. Dibalas anggukan Bisma yang begitu sangat yakin dengan tekadnya. Bahkan genggaman tanganĀ  ya pada Pak Arman pun menguat, membuat Pak Arman sedikit terkejut karenanya. Sebegitu yakin pria ini pada putrinya yang belum memiliki sikap dewasa.


"Ay, Pak... Kita mulai ijab qabulnya," ajak Pak penghulu pada Pak Arman.


Pak Arman pun mengucapkan nya pada Bisma. Dengan maskawin yang telah mereka sepakati sebelumnya. Simple, tak terlalu sulit dan panjang untuk diucapkan oleh Bisma. Dan dengan lantang, Bisma mengucapkan ijab qabulnya tanpa terjeda sedikitpun. Dengan Satu tarikan napas panjang, dan seketika semua saksi berteriak dengan lantang.


"SAH! SAH!"


Bisma dan keluarga nya pun menghela napas lega. Terutaman Daksa dan Oma. Akia pun menitikan air mata nya saat itu.


"Hey, kau menangis?" Bisma langsung mendekat dan mengusap air mata yang jatuh dipipi Akia. Wanita yang telah sah menjadi istrinya hari ini.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Kia hanya terharu dengan moment ini. Maaf, jika Mas Bisma merasa kurang nyaman."


"No... Aku bukan tak nyaman dengan tangismu. Hanya saja, itu tangis haru yang bercampur dengan bahagia?" tanya Bisma yang masih mengusap wajah mulus Kia, dan Bisma merasakan anggukan Kia disana.


Kia mencium punggung tangan Bisma dengan segenap ketulusan dari hatinya. Bisma mengusap rambut Kia, yang saat ini terhias dengan sanggul indah nya. Ia membayangkan betapa cantik Kia saat ini, apalagi dari deskripsi Daksa yang membuatnya semakin mempesona.


"Kau telah menjadi istri sah ku. Dan setelah ini, Kau akan ku bawa ke istanaku dan kita tinggal bersama disana."


Deggg! Jantung Pak Arman langsung berdegup dengan kuat. Rasanya masih tak ikhlas melepas Kia jauh darinya saat ini. Andai waktu bisa diulang, mungkin semua tak akan tergesa-gesa seperti ini dan Kia masih dapat Ia pertahankan.


"Kenapa lihatin dia? Naksir?" tanya sang istri yang tengah memeluk putranya.


"Engga. Cuma, memang cantik sih. Meski ngga bisa lihat, tapi pilihan nya sempurna. Instingnya bagus rupanya," puji Surya sembari terus mengunyah hidangan yang ada di tangan nya. Sementara, kedua mempelai itu tengah sungkem dengan orang tua masing-masing.


Tak ada yang diucapkan dalam sungkeman itu. Hanya Mama Lisa yang menyatakan beberapa doa dan pesan baik pada anak dan menantunya. Sedangkan Pak Arman, hanya diam kaku dengan tatapan nya yang datar.

__ADS_1


Untung saja, Ia tak menarik tangan nya lagi ketika Bisma meraihnya untuk sungkem.


Acara pun dilanjut dengan sesi makan bersama, karena memang tak ada undangan lain yang harus mereka sambut. Bahkan pelaminan pun tak ada disana untuk sekedar membuat foto indah antara keduanya


"Mas Bisma mau makan? Biar Kia ambilin, ya?" tawar Kia, sebagai bentuk pelayanan pertama untuk suaminya. Bisma mengangguk, tak enak hati menolak Kia saat ini. Meski Ia sendiri jarang untuk makan siang.


Kia berjalan menjauh dengan pengawasan nya, mengambilkan makan siang untuk sang suami. Tapi, Ia pun bingung mana saja tak tak disukai oleh Bisma.


"Maaf, Kia belum bisa jadi istri yang baik." sesalnya dalam hati.


"Kak Bisma ngga makan daging." bisik seseorang dibelakangnya. Kia tersentak kaget. Apalagi pria itu adalah Surya, mantan kekasihnya.


"Ngga ku sangka, kamu menikah dengan kakak iparku. Rupanya, kita memang tak pernah bisa jauh. Iya kan, Kia?" tatapnya narsis pada wanita itu.


Kia hanya diam, meninggalkan Surya dengan segala rasa geli dalam dirinya.

__ADS_1


"Apaan? Iiish."


__ADS_2