Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Aku ingin bertemu denganmu


__ADS_3

Gerakan demi gerakan ero tis terus Kia lakukan diatas tubuh Bisma. Dan kini dapat dipastikan gaun yang Ia kenakan sudah tak jelas lagi bentuknya karena sudah melorot kesana kemari dan bagian bawah yang sudah naik hingga kepinggang. Untung saja Bisma ingat itu gaun mahal, hingga tak sembarang tarik untuk merobek dan Ia lempar kesembarang tempat. Dengan bentuk yang demikian, Kia dengan segera membukanya agar Bisma lebih bebas menyentuhnya saat itu.


Tak hanya membuka miliknya sendiri, tapi Ia juga membuka sesuatu yang sudah amat sesak dibawah sana dan butuh udara segar sebelum masuk kedalam lembah syurganya. Kia sedikirt memanjakannya saat itu, dan itu adalah hal yang amat jarang untuk Kia lakukan. Dan kini, Kia seperti tengah memberi pelayanan istimewa untuk suaminya. 


"Aarrrghhh! Kiaaa!!" Bisma menge rang dengan deep voicenya, dan itu amat disukai oleh Kia. Ia melenguh dibawah sana dengan amat puas dengan ekspresi yang diebrikan suaminya saat itu. Tapi Bisma juga tak tinggal diam, Ia meraih sesuatu yang menganggur dibawah sana setelah pembungkusnya Ia lepas dengan sekali tarikan tangannya. 


Tak puas dengan itu semua, Bisma meraih kasar tubuh Kia dan menghempaskannya untuk berbarin diatas ranjang hingga Ia kembali mendominasi permainan.

__ADS_1


"Curang! Ini harusnya jadi malamnya Kia, bukan Mas Bisma!" cicitnya, yang meara dicurangi sang suami. Padahal Ia baru saja merasa akan menang saat Bisma seperti telah akan mencapai puncak terlebih dulu darinya.


Bisma bergeming. Ia melesat turun dari ranjang dan menarik sesuatu yang masih menutup dibawah sana dengan cepat. Ia semakin turun menaikkan salah satu kaki Kia diatas bahunya dan mulai membenamkan kepala disyurganya, sontak Kai berteriak dan menggeliat dengan segala gelenyar hangat yang Ia terima. Seperti sebuah sentruman dahsyat yang menyerang disekujur tubuhnya. 


Kia mengunci seluruh tubuhnya, pertanda Ia telah mencapai puncak tertinggi untuk pertama kalinya saat itu. Tubuhnya membeku dan ngilu, tapi Bisma yak kunjung berhenti dibawah sana dengan segala aktifitasnya. Kia meraih rambut Bisma dan mencoba menyinhgkirkan kepalanya dari sana, namun Bisma justru menahan tangan Kia dan melebarkan lagi kedua pahaanya itu. Membuat Kia megge linjang dengan segala rasa yang luar biasa dahsyatnya hingga berteriak untuk kesekian kalinya.


Hp Kia berdering sesaat Kia memejamkan mata. Bisma yang belum bisa tidur lantas membuka Hp itu dan menerima panggilan yang masuk. Namun belum sempat Bisma menyapa, pria itu langsung nyerocos dan memohon untuk mengajak Kia agar bertemu berdua saja di area luar kapal. Bisma hanya diam dan mendengar semua permohonan itu, dan sembari mengepalkan tangan Bisma memutuskan jika Ia yang akan menemuinya diluar sana.

__ADS_1


Bisma lalu melepas pelukannya dari Kia. Ia lantas turun dari ranjang dan meraih pakaian yang berserak dilantai lalu memakainya dengan benar sesuai insting yang ada, kemudian Ia keluar mencari arah yang sesuai seperti permintaan pria itu pada istrinya. Dan untung saja ada pelayan baik hati yang mau mengantar bisma hingga sampai ketempat tujuan yang Ia katakan.


"Sudah sampai, Pak," ucap sang pelayan, lalu Bisma memintanya pergi setelah mengucapkan terima kasih.


Semilir angin begitu kuat, dan Bisma tak dapat mencium aroma parfum pria yang mengajaknya bertmu malam itu. Ia hanya hapal suaranya, tapi itupun dibuatnya sedikit jauh dari suara asli. Atau, pria itu tengah macuk hingga suaranya serak. Bisma terus berjalan dan mencari arah mana Ia merasakan keberadaan seseorang, hingga sampai dipinggiran kapal dan Ia menangkap aroma alkohol yang amat kental.


"Untuk apa, kau meminta istriku datang kemari?" tanya Bisma. Pria itu menoleh, dan kaget karena saat itu Bisma yang datang, dan bukan Kia yang Ia maksud.

__ADS_1


__ADS_2