
"Apaan sih, Iiish!" tukas Kia pada pria narsis itu. Ia kembali fokus pada menunya untuk Bisma dan menyelesaikan semuanya. Namun, Surya mencekal tangan Kia untuk kembali mendekat padanya.
"Surya... Apa-apaan? Ini lagi ramai!" sergah Kia dengan suara lirihnya, menatap ke sekitar tempatnya berdiri. Hanya takut jika banyak orang melihat, dan berfikiran macam-macam pada keduanya.
"Katakan, alasan apa kamu nikah sama Kak Bisma?"
"Alasan apa? Ngga ada alasan. Lepasin aku, atau..."
"Atau apa? Kamu mau ancem aku apa? Aku cuma nanya, kenapa seorang Kia mau menikah dengan Bisma yang buta. Dan lagi, aku tahu benar jika kamu menginginkan sebuah pesta mewah, bukan? Kenapa justru saat ini dengan ... Dengan acara sederhana seperti ini? Ada apa sebenarnya?" Lagi-lagi Surya mengungkit masa lalu mereka yang bahkan telah Kia lupakan sejak lama.
"Udah, nanya nya? Sekarang aku balik tanya. Apa urusan kamu?" Surya seketika diam dengan pertanyaan Kia saat itu. Diam sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal dan wajahnya yang mulai gugup dihadapan Kia. "Ngga bisa jawab? Sama, Aku juga ngga ada jawaban buat kamu. Bye!"
__ADS_1
Kia membawa makanan nya menuju kembali pada Bisma yang duduk diam di sofanya.
"Mas, maaf lama. tadi Kia bingung mau pilih menu apa. Kia... Kia belum tahu kesukaan Mas Bisma." sesal Kia dengan menunduk kan kepalanya.
"Apapun yang Kia hidangkan, pasti ku makan. Mana suapan nya? Agar acara segera selesai dan kta segera pulang kerumah."
"Pu-pulang?"
"Kau ikut kerumahhku. Kenapa canggung?"
"Kia dulu awalnya memang kabur dari rumah, karena ngga suka ayah nikah lagi. Gimana, makam Bunda aja belum kering, masa mau nikah lagi? Gitu lah lelaki. Mereka ngga akan pernah bisa setia dengan satu wanita. Pergi satu, segera cari baru. Gitu aja terus," papar Kia dengan segala rasa kecewa dihatinya.
__ADS_1
"Itu Ayahmu. Lantas, kenapa kau justru memukul rata semua pria seperti itu?" tanya Bisma, yang terus menerima suapan dari istrinya.
"Bukan cuma satu. Kia aja ditinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya. Pacar Kia, tau-tau hamilin wanita lain. Ya, gitu deh." ucapnya lagi dengan segala pengalaman pribadinya. Dan lagi, curhatan pada sahabat yang seringkali diskiti sang pacar. Bahkan kadang mengalami kekerasan dalam berpacaran, tapi heran nya mereka masih mau bertahan karena berbagai alasan.
"Kau bahkan bisa sekecewa itu dengan pengalaman yang dihadapi orang lain. Tak bisa seeperti itu, Kia. Hidup bukan berputar dengan orang yang sama seterusnya. Hanya dijadikan pelajaran, jika kamu mendapatkan pengalaman dari kisah orang lain. Dan kamu, hanya harus membuat kehidupan mu sendiri lebih baik dari mereka."
Deg!
Kata-kata yang keluar dari bibir Bisma seperti tamparan keras untuk Kia. Memang, selama ini Kia selalu overthinking dengan pengalaman hidup yang dirasakan orang lain dan membawanya ke pribadi. Hingga semua menjadikan wataknya sendiri keras kepala dan sulit mendengarkan kata-kata dari orang lain untuknya.
"Kenapa diam?" tanya Bisma. Karena memang senyap tanpa suara dari Kia ditelinganya.
__ADS_1
"Cuma... Lagi mencerna kata-kata Mas Bisma. Bagus juga," puji Kia yang menyuap makan siang Bisma ke dalam mulutnya sendiri. Bisma agaknya menyadari itu, dan hanya tertawa dengan tingkah menggemaskan yang Kia lakukan saat ini.
"Andai aku dapat melihatnya, pasti akan semakin menggemaskan." gumamnya dalam hati.