Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Celotehan Jinan


__ADS_3

Semantara itu dirumah besar, Bisma, Daksa dan Oma tengah berunding mengenai pernikahan. tak hanya mereka, Jinan dan Surya pub tengah dalam perjalanan menyusul untuk melakukan diskusi bersama.


"Bisma yakin, Nak? bahkan Bisma ngga tahu siapa Dia, bagaimana wajahnya. Kata Daksa, Kalian baru bertemu beberapa kali?" Oma berusaha meyakinkan sang cucu dengan segala keputusan yang Ia buat.


"'Bisma tak pernah seyakin ini, Oma. Dan Kia pun sudah menyetujui pernikahan ini. Ia pun bersedia Kia nikahi kapan pun." jawab Bisma dengan begitu yakin dan santai.


"Eh, bentar!" Mendadak Jinan datang dan menyela pembicaraan ketiganya. Ia yang membawa putranya, langsung duduk di dekat sang Oma usai mencium tangan nya. Disusul Surya, dengan gaya sok Coolnya masuk duduk diantara semua orang yang ada disana. Santai, bersandar di bahu sofa seolah Ia tak perduli ada masalah apapun disana.


"Kakak baru ketemu beberapa kali? Terus dia mau diajak nikah buru-buru? Jinan curiga. Itu cewek, masih gadis 'kan?"


"Aoa maksud kamu, Jinan?" tanya Bisma, sedikit tersinggung dengan ucapan sang adik.

__ADS_1


"Ya, ngga ada maksud sih. Cuma aneh aja bagi Jinan, Kak. Cewek itu mau sama Kakak, yang dalam keadaan seperti ini. Nikah dadakan? Jinan cuma takut kalau Dia cuma manfaatin Kakak aja nantinya. Kakak juga ngga tahu, bagaimana wanita itu... kan?"


"Nanti jangan-jangan, malah cewek ngga bener. Terus hamil dan...."


"Dia tak sepertimu, Surya." potong Bisma pada adik iparnya itu. Seketika membuatnya diam menutup rapat mulutnya, menatap sang istri. Sedangkan Jinan, langsung menatap kesal dan marah pada sang Kakak.


"Ngga berhenti bahas masalah itu. Jinan udah ngaku salah, semuanya khilaf. Masih juga dibahas. Jangan seperti manusia tanpa dosa, Kak!" sergah nya pada sang Kakak dengan segala emosi yang ada.


"Sudah, Nak... Sudah, ya Allah. Kalian ini, selalu saja ada bahan untuk bertengkar." tegur Oma sekar yang berusaha menengahi keduanya.


"Iya, sayang... Oma ngerti. Yaudah, tenang dulu. Dan Jinan, tolong jangan terlalu banyak bicara, Nak." pinta Sang oma dengan begitu lembut padanya. Oma lantas melirik Darma untuk melanjutkan semua keterangan darinya. 

__ADS_1


"Baiklah, saya akan memperkenalkan dulu mengenai calon istri Tuan Bisma. Namanya adalah, Akia Nurhaliza. Seorang perawat, dengan latar belakang keluarga yang jelas. Ayah nya juga memiliki hotel, meski tak sebesar milik Tuan Bisma."


Deeeggg! Surnya menelan salivanya ketika mendengar nama Akia disebutkan.


" Kan, bener. Hotelnya pasti hotel kecil, terus bakalan minta.... "


" Jinan, Diam!" kali ini Bisma menegur dengan nada yang cukup lantang, sementara Surya tak sama sekali bisa membela istrinya. Ia masih tampak bengong dengan apa yang Ia dengar saat ini.


Daksa pun melanjutkan semua keterangan yang ada. Alasan Bisma mau menikahinya, dan semua persyaratan yang ada dari Ayah Kia disana. Yang mana mereka tak mau adanya pesta saat pernikahwn keduanya.


"Intinya, hanya akan ada ijab qabul dihadiri orang-orang terdekat saja. Tapi pernikahan ini resmi sah secara hukum dan agama." terang Daksa, di dukung anggukan Bisma yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


Jinan masih sinis dan seolah tak menyetujui pernikahan itu terjadi. Mungkin wajar jika Ia khawatir, kalau wanita pilihan Kakaknhya hanya akan memanfaatkan nya saja. Dan Ia tak benar-benar tulus pada sang Kakak. Tapi caranya yang terlalu kekanak kanakan, hingga Bisma membalik semua ucapan yang terlontar dari mulutnya.


"Hotel Nala, benar?" tanya Surya meski dengan nada yang berat. Pembicaraan sudah merembet kemana-mana, tapi sepertinya Surya tak fokus dan ketinggalan begitu jauh mengenai topik yang ada.


__ADS_2