Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Surya terobsesi pada Kia


__ADS_3

Kapal mulai berlayar, namun memang dirancang agar tak terlalu jauh hingga ke lautan. Mereka hanya menggunakan kapal itu untuk berpesta hingga tak akan berjalan terlalu jauh.


Seharian mereka semua melakukan rapat disebuah ruangan. Dihadiri oleh para pemilik hotel besar dikota mereka, namun Pak arman tak ada diantara mereka. Rupanya Nala tak masuk klasifikasi serikat hotel mewah.


Saat itu Surya menemani Bisma kemanapun pergi, karena Ia yang harus menyaksikan semua isi rapat itu dan memberitahu Bisma secara rinci saat bersama. Sengaja Bisma meminta Surya mengulang pembicaraan dalam rapat itu, agar tahu apakah surya benar-benar fokus pada isi rapat mereka barusan.


"Bukannya kakak juga dengar?" protes surya saat Bisma memerintah.


"Aku hanya ingin tahu bagaimana kamu mengikuti rapat itu. Ceritakan," titah Bisma, lalu duduk santai dengan segelas jus wortel didekatnya. Sementara Kia tengah menikmati semua pemandangan disekitar bersama rekan yang lain. Kia gampang bersosialisasi hingga mudah akrab dengan para istri pengusaha yang ada disana.

__ADS_1


Surya dengan amat terpaksa melakukan semua perintah dari Bisma. Ia menjelaskan kembali isi dari rapat itu meski dengan terbata-bata karena sembari mengingat semua inti pembicaraan yang ada diantara mereka beberapa jam lalu. Padahal surya amat ingin berkeliling kapal dan menikmati pemandangan, lalu memotretnya dan memamerkan semuanya pada sang istri dirumah. Semua harapan pupus hanya gara-gara perintah konyol dari Bisma yang amat menjengkelkan dan menyulitkan dirinya.


"Sudah... Itu saja yang ku ingat," ujar Surya, usai mengulang semua inti rapat sebisanya.


"Bahkan hal terpenting dari rapat itu tak kau dengar," sanggah Bisma. Surya hanya menunduukkan kepalanya dan menggerutu dalam hati, entah apa yang Ia lontarkan untuk Bisma sebagai wujud segala rasa kesalnya.


Hari mulai sore, Kia kembali kekamarnya untuk menemui Bisma dan ada surya yang masih duduk diam disana. 


"Main kemana saja, sayang?" tanya bisma.

__ADS_1


"Keliling aja tadi, keseluruh sisi kapal. Gede banget Mas, Kia sampai capek." celotehnya, menceritakan semua pengalaman yang ada dan terdengar begitu bahagia. Bahkan tanpa sadar, Kia mengecupi tengkuk leher Bisma dengan begitu gemasnya. Bau maskulin itu begitu menyegarkan dan menjadi sebuah candu baginya, seolah membuatnya lupa dengan segala rasa lelah yang ada.


"Eheeeemmm," surya memudarkan kemesraan keduanya. Wajah sinis itu terpasang saat menatap mereka berdua. Bahkan wajah yang terpasang seolah Ia tengah cemburu dengan kebucinan Kia apda Bisma saat itu. Padahal Ia tahu jika Kia akan bucin jika telah memberi heti pada pria, seperti saat bersamanya dahulu. Namun ini lebih, dan surya nyeri melihatnya seperti ini. Sepertinya memang surya belum ikhlas melepaskan kia sejak dulu. Sayang saja, Ia sudah terlanjur menghamili Jinan dan harus bertanggung jawab dengan bayinya.


"Eh... Lupa ada surya." tatap Kia pada sang mantan. Kia lalu melepas pelukakannya dan masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri, dan setelah itu mereka akan makan malam bersama menuju pesta yang sesungguhnya.


" Apakah sudah selesai?" tanya surya, yang matanya terus melirik kearah kamar mandi dimana Kia baru saja masuk. 


"Sudah... Pulanglah kekamarmu," balas Bisma. Surya mengangguk, dan Ia berdiri menuju keluar kamar itu. Tapi, tatapannnya selalu tertuju kekamar mandi untuk mencari celah agar Ia dapat mengintip Kia saat itu. Entah bagaimana isi pikiran surya saat ini, yang masih saja terobsesi dengan mantan yang kini menjadi kakak iparnya.

__ADS_1


"Andai saja refleksnya tak sebagus itu, pasti akan ku gunakan kesempatan ini untuk melirik Kia disana. Matanya saja yang buta, tapi tetap menyebalkan." gerutu Surya, dengan tatapan begitu lurus menuju pintu kamar mandi.


__ADS_2