Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Undangan kapal pesiar


__ADS_3

Makan malam tiba, dan semua berkumpul untuk menyantap makanan masing-masing. Bisma segera sadar jika kala itu surya ada dibagian depan tempatnya.


"Kau tak ke Rumah sakit?" tanya Bisma dengan nada datar.


"Disana sudah banyak yang menunggi, kan? Nanti jika terlalu ramai, Sena akan menjadi tak nyaman. Makin jadi aja sakitnya," balas Surya dengan santai.


Bisma mengepalkan tangannya mendengar ucapan itu, namun Kia menggenggamnya untuk meredam emosi sang suami.


" Lagian, aku sudah kesana saat pulang kerja." lapornya lagi dengan terus mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya saat itu.


Surya dengan cepat menyelesaikan semuanya. Ia segera berdiri dan masuk kekamar, lalu keluar lagi dengan sebuah undangan untuk Bisma. Ia memberikannya pada Kia agar membacakan untuk suaminya, entah saat ini atau nanti.


"Undangan, Mas." ucap Kia.


"Bacakan," pinta Bisma saat itu juga, dan Kia segera nenurutinya untuk membaca undangan itu.

__ADS_1


"Dari Tuan Alexio, mengundang Mas Bisma untuk hadir dalam sebuah pesta yang akan Ia adakan. Di kapal pesiar miliknya," jawab Kia. "Wow, kapal pesiar..."


"Kau suka kan, Ki? Itu kan impianmu sejak lama, saat kamu berlibur dengan kapal pesiar mewah. Itu undangan, setidaknya sama saja karena kamu bisa naik." cicit Surya, yang mulai memancing pembahasan akan masa lalu mereka didepan Bisma secara terang-terangan.


Kia hanya melotot, lalu menatap Oma karena tak enak hati. Apalagi Bisma, yang langsung menghela napas kesal saat mendengarnya. Jika Ia normal, Ia akan dengan cepat meraih rahang Surya untuk memberi tanda biru tua disana.


"Ya, memang pengen sejak dulu." jawab Kia, berusaha bersikap normal.


"Ya itu, dateng aja kesana. Setiap undangan dapat kamar khusus, sekalian bisa bulan madu. Kasihan, pengantin baru cuma jadi perawat sana baby sitter."


"Mas, udah Mas. Kia ngga papa kok. Ngga usah datang kalau kita ngga bisa, lagian Sena belum sembuh." Kia mengusap dada sang suami untuk menenangkannya. Barulah bisma menghela napas dengan panjang saat itu juga.


Surya tetap tenang disana, seolah tak terjadi apapun. Ia bahkan tengah sibuk menikmati sebuah apel ditangannya saat itu, menatap Kia yang tengah membujuk suaminya. Hanya Oma menatapnya dengan kesal, bagai ingin meraih kerah baju pria itu dan menariknya keluar dari rumah. Sayangnya tak bisa, karena keterbatasan tenaga yang Ia miliki saat ini.


Bisma dan Kia kembali kekamar mereka dan Kia mulai memberinya berbagai vitamin yang ada. Saat itu juga, Bisma menghubungi Daksa untuk mempertanyakan perihal undangan yang ada.

__ADS_1


"Ya, sebenarnya aku juga menerimanya. Tapi aku sangat sibuk saat ini mengenai konser itu, bagaimana?"


"Tuan Alexio jarang sekali mengadakan perjamuan, apalagi seperti ini. Dan lagi, Kia...." Bisma diam sejenak memikirkan ucapan surya dimeja makan barusan.


"Ada apa dengan Kia?" tanya Daksa, menghentikan pekerjaannya sejenak.


"Kapal pesiar, rupanya keinginan Kia sejak dulu. Aku ingin membawanya," ujar Bisma. Daksa langsung menghela napas saat mendengar semuanya, apalagi Bisma amat ingin membawa istrinya kesana.


"Apa ini saatnya kita memberi kepercayaan pada surya?" tanya Daksa. Karena memang jadwalnya begitu mepet hingga Ia tak dapat membagi waktu untuk ikut dengan Bisma saat itu. Entahlah, Ia juga bingung dengan semua jadwal yang ada saat ini.


Bisma tertegun. Ia memikirkan dengan keras agar dapat memutuskan semuanya dengan baik kala itu. Memang selama ini Ia begitu keras pada surya dan Jinan, berharap mereka berdua dapat berubah dan bisa saling melengkapi dalam keluarga. Tapi Ia sadar, jika keras tak selamanya berhasil untuk mendidik seseorang untuk menjadi lebih baik.


"Ya, aku akan bersamanya juga, nanti." balas Bisma. Daksa menganggukkan kepalanya, Ia berusaha menghormati keputusan sahabatnya itu. Dan kini, Ia mencari cara bagaimana pengawasan Bisma dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.


"Seperti yang kau bilang, Bisma. Bahwa tak ada yang bisa dipercaya saat ini." gumam Daksa.

__ADS_1


__ADS_2