Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Kapan kita menikah?


__ADS_3

"Bagaimana caramu mengenalku, Tuan? Padahal, kita baru beberapa kali bertemu." tanya Kia tanpa basa basi. Bisma kembali tersenyum, begitu manis dari sebelumnya.


" Kau tahu? Aku bahkan sudah hapal suaramu meski dari kejauhan. Dan kau, kenapa meminta Adikmu menggantikan pertemuan kita? Bukan kah itu tak sopan?" Bisma mengambil giliran untuk  pertanyaan nya.


"Jika Anda tak suka, Anda batalkan saja perjodohan ini." sergah Kia. Lagi lagi tanpa pernah mau menyaring kata-katanya pada Bisma. "Bukan kah, Anda merasa tertipu dengan ulah ku?"


"Tidak sama sekali." Jawaban itu seketika membuat Kia merubah mode wajahnya. Dari yang mulai senang, kembali pada mode kesalnya. Ia berharap, Bisma kecewa dan langsung membatalkan rencana itu. Atau bahkan, memblokir namanya dari daftar wanita yang Ia ingin kan.


"Kau tahu? Aku sendiri yang memilihmu untuk menjadi istriku. Melalui Daksa, kaki tangan ku yang mencari semua info tentang dirimu. Aku menyukaimu,"

__ADS_1


Kia menarik nafasnya dengan begitu dalam. Geram, emosi, dan semuanya berbaur menjadi satu saat ini. Rencana nya gagal total, bahkan membuat pria itu semakin gencar menginginkan nya. Entah bagaimana lagi, cara agar ia dapat menolak perjodohan dengan pria yang ada di hadapan nya saat ini.


"Aku bahkan sudah bilang pada Ayahmu waktu itu, jika kau adalah calon istriku bukan?"


"Iya, tapi itu kan ngga serius. Saya hanya minta tolong saja waktu itu, agar Ayah saya berhenti mengejar dan memaksa saya pulang." semua tekanan ini, membuat kia seolah kehilangan semua kata-kata yang telah Ia susun rapi selama perjalanan ke restaurant itu.


"Tapi, Aku tak pernah bermain-main dengan ucapan ku. Dan saat ini, Kau adalah calon istriku." ucap Bisma.  Kia pun semakin pening di buatnya. Ia memijat pelipisnya dengan keras hingga berbekas kemerahan disana. Ia 


"Ya, aku memang menyukaimu. Aku tak pernah mau mempermainkan sebuah kata pernikahan. Pendekatan, pacaran, atau yang lain. Lakukan saja setelah menikah."

__ADS_1


Lagi-lagi semuanya terbantahkan oleh Bisma. Kia sampai begitu sulit membalas yang satu ini, dan hanya bisa kembali tertunduk dengan lesu karenanya, dengan segala kebingungan yang ia rasakan. Entah dengan cara apalagi Kia menolak dengan segala perjodohan yang Pria ini buat sendiri. Padahal, biasanya para orang tua lah yang pasti akan sibuk menjodohkan anaknya. Lain dengan Bisma, yang begitu ingin berjodoh dengan dirinya hingga seperti ini.


Sedangkan dari kejauhan, Nanda dan Daksa tengah mengawasi dan mengalami ketegangan yang sama. Mereka yang was-was, jika keduanya akan adu argumen atau bahkan berkelahi disana. Karena yang mereka tahu, masing-masing dari mereka adalah pria dan wanita yang teguh dalam berpendirian.


"Dia Kakakmu?"


"Ya, meski Kakak sambung. Tapi, Aku tahu bagaimana Kak kia. Mungkin akan sulit untuk menerima semuanya. Kak Kia, tak suka dipaksa." jawab Nanda, dengan menyeruput segelas jus di tangan nya.


Daksa hanya mengangguk tanpa menambah kata apapun. Ia kembali fokus menyaksikan kedua insan yang tengah adu argumen dengan segala keanggunan masing-masing disana. Suasana nya yang ramai, mungkin membuat Kia segan untuk bertingkah bar-bar dengan sifat aslinya. Daksa bisa membaca semua  dari raut wajah gadis itu. Dan tangan nya yang mengepal meremas celana bahan yang Ia pakai di pahanya.

__ADS_1


Ketegangan pun masih terjadi disana. Bisma masih dengan ekspresi datarnya, dan Akia dengan ekspresi tegangnya terus menerus meminum jus yang sedari tadi dipesan Nanda untuknya. Perhatian, meski hanya bisa mengawasi dari kejauhan.


"Bagaimana, Akia? Kapan kita menikah?" tanya Bisma dengan segala rasa percaya diri yang Ia punya.


__ADS_2