Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Jangan mencoba menjadi Kia


__ADS_3

"Yak, ngapain kamu disini?" tanya Kia yang datang dengan makanannya. Ia langsung duduk disebelah Bisma dan bersiap menyuapinya dengan makan siang yang Daksa pilihkan. Sementara Daksa memilih menunda makan siang karena ada panggilan mendadak untuk sebuah pertemuan.


" Ngga papa... Cuma mau makan bareng Kakak ipar aja disini. Aneh?"


"Anehlah. Kursi banyak, tapi kamu kesini mulu mepet. Atau, yang lain juga males deket sama kamu?" tanya Kia bernada sindiran.


"Yang mau bertemen sama aku banyak, Ki. Apalagi kalau aku naik jabatan, dan aku bisa hidup mewah seperti manager yang ada. Pasti...."


"Naiklah jabatan, tak ada yang melarangmu. Tapi dengan kerja kerasmu sendiri, ada Daksa selalu mengawasimu." potong Bisma yang baru saja menelan makan siangnya.


Surya hanya manyun dan memainkan bibir dihadapan keduanya. Bisma memang tak pernah bisa Ia rayu dengan apapun, dan membuatnya melunak dengan dirinya. Bahkan dengan nama sena sekalipun, Bisma tetep kekeh dengan prinsipnya surya.


"Apa salahnya, membela adik ipar sendiri?"

__ADS_1


"Tak akan ku bela, jika tak pantas dibela. Cukup aku menutupi aibmu dalam perusahaan ini, agar kau masih bisa bernapas dengan segala penyelewenganmu."


Gleeek! Surya menelan salivanya dalam-dalam. Lagi-lagi Ia kalah telak, dan lagi-lagi Ia dikuliti oleh kakak iparnya itu. Memang lah buta tak pernah menghalangi dan mematikan langkahnya untuk tetap mengawasi dirinya.


Surya langsung berdiri, dan perlahan melangkahkan kakinya untuk pergi dari mereka. Ia tak ingin Bisma membahas semuanya lagi saat ini, karena itu akan membuatnya habis dan bahkan semua rahasia akan terbongkar. Sudah bagus, jika Bisma masih memberinya posisi dihotel hingga sekarang yang tanpa prestasi. Sama sekali.


Kia melanjutkan makan siangnya usai menyuapi sang suami. Ia makan dengan lahapnya, dengan semua hidangan yang Ia pilih sendiri. Agaknya napsu makan kia benar-benar naik, atau karena Ia bahagia bersama Bisma? Entahlah. Ini baru awal dari rumah tangga mereka. Dan akan banyak rintangan nantinya.


Apalagi, Bisma yang akan mulai menaikkan kembali kasus kecekaan yang menimpanya setahun yang lalu.


"Papa kenapa? Ada masalah?" tanya Nanda, sembari menyuapi papa sambungnya itu.


"Papa baru saja lihat siaran live kia bersama suaminya,"

__ADS_1


"Terus, apa masalahnya? Kok Papa kayak ngga seneng gitu?"


"Ngga senang. Dia bahas kalau Papa mengekang dia selama ini. Papa ngga pernah mengekang, dan Papa tahu yang terbaik buat akia. Jadi perawat, berapa sih gajinya? Belum lagi resikonya. Selalu saja membangkang," geram sang papa.


Nanda tak dapat berkomentar akan hal itu. Ia butuh pendekatan dengan sang Kakak, agar tahu bagaimana cara pandangnya sendiri mengenai bidang yang Ia ambil. Ia tak berani memutuskan untuk sebuah keberpihakan, karena Ia hanya orang baru dalam hidup ayah dan anak itu. Hingga Ia sendiri belum mampu menengahi keduanya.


"Apakah, jika Nanda punya keputusan dan berlawanan dari Papa, maka Papa juga akan melarang?" tanya Nanda, menghentikan santap siangnya sejenak.


"Kamu memliki jalan seperti apa? Setahu Papa, kamu sudah baik dengan cara mau menuruti Papa untuk menjalankan hotel ini."


"Ya, itu karena bidang Nanda memang pas disini. Tapi, jika urusan lain?"


"Jangan mencoba menjadi Kia dimata papa. Karena Nanda, akan tetap Nanda selamanya." ucap Pak Arman, meraih sendok dan menyuap nasinya sendiri kedalam mulut.

__ADS_1


Nanda hanya diam, mencerna semua kata-kata yang terlontar. Ia sama sekali tak pernah ingin menjadi Kia, apapun alasannya. Tapi Ia sendiri menyukai prinsip hidup Kia yang selalu memegang teguh apapu  pendiriannya mengenai hidup yang Ia pilih. 


__ADS_2