
Kia terus menepuk dada dan memijat lehernya. Rasanya begitu nyeri, jika harus bersin dengan cara seperti itu. Ia lalur berjalan turun, dan menghampiri yang lain untuk makan malam bersama. Meski, rasanya malas semalas-malasnya.
"Malam, Kak Kia." sapa Nanda dengan ramah. Dibalas Kia, meski hanya dengan gerakan bibirnya sedikit. Setidaknya itu kemajuan antara mereka.
Mama Lisa langsung mengambilkan nasi untuk Kia. Serta beberapa lauk yang Kia sukai, dan Mama Lisa sangat tahu semua itu. Kia pun mulai menyantapnya. Tampak tenang tanpa mau menyapa sang Ayah yang sedari tadi menatapnya.
"Bagaimana pertemuan tadi?"
"Bagaimana apanya? Bukan kah, Kia udah pesan sama Nanda?" tatap Kia pada adiknya. Nanda pun hanya bisa tertunduk seperti biasa.
"Ayah hanya ingin dengar dari bibir kamu langsung. Kesan setelah pertemuan dengan pria buta itu."
"Yah, jangan pernah hina orang dari fisiknya." Kia kesal, ketika Sang Ayah selalu memanggil Bisma dengan sebutan Pria buta.
__ADS_1
"Bukan kah, kamu tak suka karena dia buta? Kamu menolaknya lewat Nanda. Benar?"
"Kia hanya menolaknya. Tapi Kia ngga pernah menghina dia." tukas Kia. Rasa nya mood langsung hancur, ketika Sang ayah kembali mengajaknya berdebat seperti ini.
Beberapa kali Mama Lisa kembali menegur. Tapi tampaknya kedua orang itu masih pada pendirian masing-masing. Mama Lisa pun tak suka, jika suaminya terus membahas fisik pria itu di hadapan mereka.
"Papa jangan keterlaluan, Pa. Biar begitu, Papa sudah mau menjodohkan Kia sama Dia. Ucapan adalah Doa, jadi takut malah benar-benar berbalik pada apa yang tak di inginkan." tegur Mama Lisa. Kali ini, Kia tampak setuju pada Mama sambungnya itu, meski tak Ia perlihatkan dengan ekspresi di wajahnya.
"Plin plan..." cibir Kia pada sang Ayah. Mood nya benar-benar hilang, dan Ia malas menyelesaikan makan malam yang ada. Memilih berhenti dan berlari kembali ke kamarnya.
"Papa itu, maunya bagaimana sama Kia? Awalnya mau jodohin sama Pria itu. Tapi, sekarang beda lagi." tanya lembut Mama Lisa pada suaminya.
Pak Arman hanya tak mau punya menantu buta. Meski kaya raya, menurutnya tetap akan menjadi tak berguna di matanya. Apalagi menurut Nanda, Kia menolak semua perjodohan yang telah di rancang.
__ADS_1
"Tapi jangan lantas menghina fisik, pa. Pamali." tegur Mama Lisa.
"Aku hanya bicara kenyataan." ucap Papa Arman, dengan nada yang begitu santai.
Sementara itu, Kia berbaring di ranjangnya. Memikirkan semua ucapan sang Ayah. Kenapa dia harus sakit, jika Ayahnya menghina fisik Bisma? Kenapa sang Ayah selalu meremehkan orang lain, hanya dengan apa yang Ia lihat?.
"Tak bisa kah, mengerti kekurangan orang lain? Seperti diri sendiri selalu benar dan tak pernah salah. Padahal, begitu banyak kesalahan yang Ia perbuat." gerutunya.
"Mungkin, hanya sebatas empati dengan pasien dengan kekurangan seperti itu. Yakinlah, tak akan terjadi apapun." Kia menghela napas, dan mengusap dadanya. Menyabarkan dan menenangkan diri sendiri, karena tak ada yang bisa membantunya saat ini.
Seketika itu pun teringat Bisma. Sosok yang baru saja di bicarakan dengan ayahnya. Yang meski dengan segala kekurangan, tapi Ia masih begitu baik dengan refleksnya pada lingkungan sekitar. Dan sekejap ingatan, Pria itu memang tampan dari kaca mata wanita normal seperti Kia.
"Emang ganteng. Tapi kata-katanya nyelekit. Padahal aku belain Ayah di depan dia. Tapi, Ayah malah begitu. Kenapa ngga ada yang bener?!" rutuknya dalam hati. Bahwa seolah tak ada Pria yang benar-benar Ia andalkan dalam hidupnya.
__ADS_1