
"Kia sejak kapan pinter begitu?" goda bisma pada istrinya. Kia yang merasa diremehkan langsung mengangkat kepala dari sandaran mesranya pada bisma.
"Mas kia kira sebodoh apa?" ketus Kia, tapi Bisma hanya tersenyum melihatnya. Sayangnya perdebatan tak bisa dilanjutkan karena mereka telah tiba diruang perawatan Sena. Mereka masuk dan mengantar sena tidur diruangan barunya untuk beberapa hari ini.
"Kakak sama Kia kalau mau pulang, pulang aja ngga papa. Jinan bisa kok, rawat sena disini sendirian. Lagipula, banyak perawat yang bantuin jaga." ucap Jinan. Ia tampak sedikit kalem saat ini pada kedua kakaknya itu. Wajahnya pun tampak tenang dan tak seperti biasanya, apalagi saat menatap Kia.
"Jinan serius?" tanya Kia. Bukan karena meragukan, tapi takut jika kondisi sena masih belum stabil saat ini. Tapi Jinan meyakinkan semuanya baik-baik saja dan Ia janji tak akan teledor kali ini. Apalagi sena berada diruang VVIP, yang pastinya dalam penjagaan akan lebih baik dibanding kamar lainnya. Dan tak lama kemudian Dakda datang bersama Oma, membawa beberapa keperluan sena dan Jinan selama menginap disana. Yanto dan Bik is yang mengantarnya dari rumah setelah Oma menelpon.
__ADS_1
"Sekalian aja, Oma pulang. Oma kelihatannya udah capek banget karena kelamaan disini,"
"Loh... Jinan sendirian?" tanya Oma. Tapi Jinan mengangguk sebagai tanda jika Ia baik-baik saja saat ini.
Kia pu pamit usai mengecup keponakannya itu. Ia memeluk Jinan dengan hangat dan berpesan agar tetap tenang selama menjaga sena, karena jika Jinan cemas makan sena juga akan rewel.
"Firasat bayi itu kuat terhadap mamanya. Jadi, berusaha tetap tenang dan bahagia agar Sena juga seperti itu." lirih Kia ditelinga Jinan."
__ADS_1
Bagaimana tidak, selama ini Jinan selalu tancap gas setiap bicara dengan kakak iparnya itu. apalagi saat membahas pengurusan anak, yang mana mereka akan selalu berselisih paham antar satu sama lain.
Mereka semuapun keluar dari ruangan itu, membiarkan sena dan Jinan beristirahat dengan tenang berdua. Dan amat disayangkan jika hingga saat itu, surya belum juga terlihat datang pada anak istrinya. Seketika hal itu membuat Bisma amat emosi, apalagi saat itu juga termasuk jam pulang kantor dan harusnya sudah pulang dari semua pekerjaan yang ada.
"Apa sih, pekerjaan surya? sampai begitu sibuk hingga sekarang belum juga datang." gerutu Bisma dengan segala rengamnya dalam hati. Rasanya ingin memberi hadiah sebuah bogem mentah sebagai luapan emosinya saat itu, agar surya tahu jika mereka bisa menghajarnya kapan saja saat melihat Jinan dan sena susah begitu.
Perjalanan terasa lengang untuk saat ini. Mulut cerewet itu terkatup saat lelahnya sudah tak mampu Ia lawan lagi. Kepalanya sudah lemah dan bersandar dibahu suaminya, dengan deru napas yang teratur terhembus keluar, dan Bisma tahu benar jika saat itu Kia tengah tidur dengan amat pulasnya. Ia meraih kepala Kia dan mengusap rambutnya dengan lembut, sembari sesekali mengecupnya dengan hangat.
__ADS_1
Memang tepat rasanya saat Bisma memilih Kia saat itu, meski dengan sebuah huru hara yang cukup rumit. Tapi benar, jika Kia bisa menjadi cahayanya saat ini yang dapat membantunya menerangi kehidupan yang sempat gelap itu. Satu yang nyata adalah saat Kia bisa membuat Jinan lepas dari egonya yang amat keras seolah tak terkalahkan. Jika orang lain yang menghadapi Jinan, maka akan ada Dua kemungkinan. Yaitu tertekan, atau sama sama keras hingga tak akan ada penyelesaian antar keduanya.
"Semoga Jinan benar-benar berubah setelah ini," harap Bisma dalam hati.