
Kia turun kebawah setelah mematikan Bisma telah beristirahat. Ia berniat membantu Bik Is masak, atau duduk menyapa Oma sekar dibawah. Dan benar saja, Oma sekar tengah duduk menikmati secangkir teh hangat yang ada disampingnya.
"Oma," sapa Kia tanpa rasa canggung.
"Hay sayang, cucu mantunya Oma. Kamu ngga istirahat bareng Bisma?"
"Engga, Oma. Kia ngga pernah tidur siang kecuali kalau abis dinas malam. Nanti malah pusing dan ngga bisa tidur." jawab Kia.
"Oh iya, Kia itu kemaren pernah jadi perawatnya Bisma kan, ya? Oma baru inget."
"Hehe, iya, Oma..." Kia tersenyum tersipu malu saat itu. Yang entah kenapa, Kia merasa nyaman dengan Oma sekar walau pernah galak padanya saat di RUmah sakit menunggu Bisma yang koma. Dan saat ini, mereka dengan akrab membicarakan itu kembali dengan tawa yang tampaknya memang sangat seru bagi keduanya. bahkan Oma tak segan mengucap kata maaf pada Kia.
__ADS_1
"Tapi terimakasih juga. Karena ketegasan Kia saat itu, Bisma sadar dari komanya. Tapi entah, sampai sekarang Oma masih belum tahu siapa yang sengaja melakukan itu pada Bisma. Bisma tampak tak pernah memiliki musuh, Kia." Oma dengan tatapan sedihnya mulai bercerita akan Bisma. Cucu yang selalu Ia banggakan dengan segala ketegasan, kekuatan dan keceriaannya selama ini.
"Semua menjadi gelap, setelah cahaya Bisma hilang. Sampai sekarang, belum ada petunjuk lagi dengan donor mata yag kami daftarkan. Mungkin, Bisma pun telah lelah berharap saat ini."
"Ada Kia disini, Oma. Kia janji, Kia akan selalu menjadi penyemangat untuk Mas Bisma." ucap Kia dengan antusias. Meski ia sendiri masih bingung bagaimana caranya nanti, tapi Oma cukup terhibur dengan ucapan Kia hingga spontan tertawa,
Tiba-tiba, tawa itu terhenti ketika Oma melihat sebuah mobil masuk kehalaman rumahnya. Mobil Jinan dan Surya, membawa beberapa koper diatas seperti orang yang akan pindahan. Dan benar saja, mereka menunaikan niat mereka untuk kembali kerumah besar itu ketika Kia datang. Tak ingin jika Kia menjadi penguasa dan merebut segala perhatian untuk dirinya selama ini.
"Jinan capek tinggal dirumah itu, Oma. Mana ngga dikasih pembantu, semua Jinan kerjain sendiri, punya bayi. Tersiksa banget," keluh Jinan, sementara Surya dengan PeDenya menurunkan barang dan memasukannya ke kamar mereka. Jinan pun segera berlari untuk membantu suaminya.
"Permisi, Oma... Surya cuma mau nurutin Jinan aja, biar ngga terlalu stres dirumah," kilah Surya, saat mendapat tatapan tajam dari Oma sekar. Tak merasa bersalah atau sungkan sama sekali seperti biasanya. Entah, jika Bisma mulai bertindak nanti.
__ADS_1
Oma melirik Kia, Ia yang tampak belum tahu apa-apa masih ramah terutama pada sena keponakannya. Oma merasa tak enak hati dengan tingkah Jinan, apalagi saat menatap Kia barusan. Tampak tak bisa menutupi ketidaksukaanya pada kakak iparnya itu. Berharap Jinan tak berulah, atau Kia yang kuat dengan tingkah Jinan yang keras kepala nantinya.
Oma mengajak Kia masuk. Duduk diruang tengah untuk sama-sama mengasuh sena, sementara kedua orang tuanya sibuk menyusun kamar untuk mereka tempati. Kia cepat akrab pada sena, dan bermain dengan menyenangkan di depan Oma. Bahkan terdengar tanpa jaim saat mengasuh batita gemas itu.
"Kia, tolong ambilin minum, dong. Aku haus nih, gerah banget." panggil Jinan tanpa sungkan pada kakak iparnya itu. Karena Ia tahu, jika mereka seumuran, Bahkan, Kia lebih muda beberapa bulan dari Jinan menurut bulan lahirnya. Ia amat sungkan untuk memanggilnya Kakak atau yang lain.
"Iya, sebentar...." jawab Kia, yang kemudian kembali menitipkan Sena pada Oma.
Kia berjalan meraih air minum di meja makan. Tapi berhenti ketika mendengar suara Bisma ang menuruni anak tangga sendirian. Ia memilih meraih dan membantu Bisma terlebih dahulu untuk turun kebawah, meski sebenarnya Bisma pun mempu melakukannya sendiri.
"Kia!! Minumku mana? Lama banget sih, ngga tahu orang udah...." ucapan Jinan terhenti, ketika tahu Bisma ada dibawah mentapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Kau fikir, istriku pelayanmu?"