
"Mas Daksa, jaga suami Kia baik-baik, ya?" pinta Kia padanya.
"Kamu seperti dengan siapa saja, Kia. Aku bahkan akan selalu ada didekat Bisma nanti. Atau jika aku pergi, maka Liana akan turun tangan."
Kia hanya mengganguk padanya. Dilepasnya tangan Bisma dari genggaman, dan Ia segera memberi wajahnya pada sang suami untuk Ia raba seperti biasa lalu Ia kecup dengan mesra. Setelah itu mereka pergi, begitu jiga Jinan dan Surya yang turut dibelakang dengan mobil mereka ssndiri.
"Lebay! Cuma ke kantor, kenapa segitunya sih? Kayak mau ditinggal keluar kota aja." sinis Jinan pada keduanya. Dan entah kenapa, Surya hanya diam saat ini tanpa menjawab celotehan istrinya. Kemudian Ia menyetir, dan masih saja diam disepanjang perjalanan keduanya.
"Kamu kenapa diem?" tanya Jinan.
"Ngga papa, Yang. Lagi kurang enak aja ini," jawab Surya. Kali ini tampak seperti Ia berfikir dengan amat keras, tapi entah apa. Jinan hanya menggeleng dan seperti biasanya tak terlalu perduli. Justru menatap kaca dan merapikan polesan make upnya. Sesekali menatap Daksa dan Bisma yang ada dibelakang.
"Adeknya kekantor yang sama, kenapa harus dijemput Daksa?" gumamnya kala itu. Ia juga kesal karena kadang Bisma memperlihatkan ketidaksukaannya pada sang suami. Maka dari itu, Ia juga melakukan hal yang sama pada Kakaknya.
__ADS_1
Ia berharap dengan tingkahnya, Bisma akan berubah untuk menganggap surya sebagai adiknya dan percaya akan apa yang surya kerjakan dikantor. Ia sedih, saat suaminya seperti orang tak dianggap. Tapi itu menurutnya, karena sebenarnya posisi surya sudah amat baik dikantor itu. Hanya saja Ia selalu kurang dengan apa pemberian Bisma padanya.
*
"Apa yang kau temukan?" tanya Bisma yang membuka percakapan.
"Tatapan surya pada Kia, saat membahas obat itu. Ia gugup,"
"Belum ditemukan. Bahkan ketempat yang dimana Surya mengambilnya waktu itu. Bahkan yayasan tak mengenal Nining," jawab daksa dengan segala laporan yang ada. Para anak buah yang Ia perintahkan tengah berpencar untuk mencari tahu semuanya.
"Sabar, dan tetap bersikap biasa saja." pinta Daksa yang meyakinkan jika semuanya akan terungkap dengan cepat.
"Aku hanya khawatir akan Kia saat ini. Pasti Dia akan memperalat Kia nantinya,"
__ADS_1
"Tak akan, Bis. Kia itu wanita yang berpendirian teguh, dan tak akan mudah termanfaatkan oleh keadaan."
Bisma hanya menghela napas dengan ucapan Daksa saat itu. Bahwa tak hanya kia, tapi semua yang berhubungan dengan istrinya. Terutama sang mertua yang masih tak menyukainya hingga saat ini, dan mungkin saja akan mudah terpengaruh oleh keadaan.
" Untuk disana, ada Nanda. Aku sudah meminta Nanda mengawasinya," jawab Daksa, dengan sedikit ragu. Dan benar saja, Bisma langsung menoleh padanya dengan senyuman penuh ejekan.
"Kau... Diam-diam mendekatinya?" tatapan devil itu seperti amat menusuk, dan pasti akan banyak ledekan berikutnya yang akan bisma berikan. Daksa hanya menelan salivanya dalam-dalam sembari menggaruki kepalanya yang tak gatal.
"Hey... Ayolah, biasa saja. Wajar jika kau menyukai seorang gadis. Apalagi Nanda, yang kurasa Ia baik meski masih mencari jati diri. Apalagi keadaannya yang hidup bersama Papa tiri."
"Ya... Sepertinya Nanda mulai terkekang saat ini, karena Ia sempat cerita." balas Daksa lagi. Itu semakin membuat Bisma terbahak-bahak bahagia, karena tandanya Bisma memiliki kemajuan akan sebuah perasaan.
Ya, Daksa biasanya amat kaku. Ia terlalu fokus bekerja hingga seperti apatis tentang cinta. Semua wanita didekatnya, hanya Ia anggap profesional sebagai rekan kerja.
__ADS_1