Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Rencana itu, bagaimana?


__ADS_3

Kia memastikan tak ada satupun orang yang mengikutinya saat ini. Ia berjalan dengan yakin setelah Ia keluar dari mobi yang Ia parkirkan dilantai bawah Rumah sakit tempatnya berada. Langkah demi langkah Ia ayunkan menyusuri lorong menuju ruangan suaminya itu, ruangan khusus yang Ia buat sedemikian rupa agar tak diktehui dan dicurigai banyak orang saat Ia datang kesana. Untungnya cara Daksa sangat efektif untuk mempersibuk surya hingga tak lagi bisa mencari info apapun tentang Kia saat itu.


Pintu Kia buka dengan perlahan. Tampak Bisma tengah duduk dikursi roda dan menghadap keluar jendela meski Ia belum bisa melihat apapun seperti beberapa bulan yang lalu. Tapi setidaknya, ini awal kesembuhannya untuk menatap dunia.


Kia mengendap-endap dan mendekat pada suaminya, lalu duduk dibelakangnya dengan menarik sebuah kursi yang ada. Tangan Kia naik ke bahu Bisma, meraba dari punggung hingga kelengan kekarnya, lalu menautkan jari-jarinya ke sela jadi Bisma yang masih diam tanpa kata. Kia bahkan dengan isengnya mengecup tengkuk leher Bisma hingga pria itu menghela napas panjang menahan gelenyar rasa yang ada dan seolah menyengat seluruh tubuhnya.


"Ya... Ngga kaget," kesal Kia melepas genggamannya saat itu. Bisma hanya tertawa dan menahan satu tangan mungil Kia untuk Ia genggam dan Ia kecup dengan gemasnya.


"kenapa harus kaget? Bahkan aku tahu jika itu kau yang masuk. Aroma tubuhmu, dan genggaman tanganmu, itu semuanya aku sudah hafal. Tak ada yang bisa membohongi aku dengan segala sentuhan darimu," ucap Bisma dengan bibir manisnya.

__ADS_1


"Iya... Iya... Kasih surprize dikit kek, biar seru gitu." kesal Kia pada suaminya.


"Yaudah sana balik lagi, nanti aku pura-pura kaget dan tercengang dengan tingkahmu." pinta Bisma dengan tawa renyahnya. Kia hanya merengek saat itu dengan memanyunkan bibirnya, mencubit perut Bisma yang penuh otot itu hingga Bisma ber aduh ria karenanya.


Kia meraih semangkuk bubur ayam yag terhidang dimeja Bisma kala itu. sepertinya Daksa segera pergi setelah membantu sahabatnya mandi dan kembali untuk bekerja. Dan sepertinya Rumah sakit juga menjadi rumah kedua untuk Daksa saat ini karena Ia sudah bermalam, mandi dan makan disana selama beberapa hari belakangan.


Kia menyuapi Bisma makan, setelah itu menunggu perawat memberikannya obat lanjutan pasca operasi yang Ia jalani saat ini. Sebentar lagi, dan hanya tinggal menunggu waktu untuk membuka verban yang menutupi kedua cahaya bisma hingga Ia dapat melihat cahaya yang sesugguhnya saat itu.


"Ya, udah makan pakai roti tawar sama telor dadar, Nanda buatin," jawab jujur Kia sembari menikmati sedikit bubur Bisma saat itu.

__ADS_1


"Nanda baik, kan? Tak seperti yang Kai fikirkan selama ini?" tanya Bisma. Seketika kepala Kia tertunduk menyesali semua perlakuannya pada sang adik beberapa bulan lalu, yang menganggapnya buruk karena hanya ingin sesuatu dari pernikahan ayah dan mamanya.


"Maaf, Kia salah. Kia hanya terbawa emosi dengan segala keadaan yang ada, Mas. Kia yang saat itu selalu merasa ditampar oleh kenyataan yang ada dan begitu menyakitkan bagi kia," sesalnya mendalam.


"Yang kamu lihat salah, itu tak selamanya salah. Kadang yang kita anggap benar, justru itu kesalahan terbesar." balas Bisma, berusaha meraih kepala sang istri untuk membela rambutnyanyang lembut itu, dan Kia segera memberikannya dan mendekat.


"Rencana itu, bagaimana?"


"Mas yakin bisa? Nanti disana ramai, apalagi belum sembuh benar. Takutnya malah kenapa-napa, Kia takut," ucapnya.

__ADS_1


"Aku bisa... Banyak yang akan membantu kita disana, tenang saja."


"Baiklah, Kia nurut aja. Toh semuanya udah matang," pasrah Kia, lalu kembali menyuapi suaminya hingga tandas.


__ADS_2