
Suara langkah kaki itu mulai terdengar, Bisma langsung bangun dan duduk ditempat tidurnya saat ini. Ia mencium aroma parsum itu dan menghirupnya dengan dalam, lalu merasa tangannya digenggam dengan begitu erat seperti yang sering Ia minta, dan tak ada yang lain selain Kia saat itu.
"Hey, kau datang?" sapa Bisma dengan lembut, lalu terdengar tawa Kia sembari mencium tangannya.
"Mas sudah mandi?" tanya Kia yang mulai menciumi aroma tubuh Bisma saat itu. Bisma menggeleng lalu merentangkan tangannya pertanda meminta Kia memandikan dirinya saat itu.
" Tak ada yang boleh menyentuh tubuhku," balas Bisma.
"Ya, Kia juga ngga boleh terlalu sering kesini, Mas. Si surya tuh, udah mulai curiga sama protes. Nanti dia malah ikutin Kia kalau keseringan," tukasnya sembari membuka pakaian bisma satu persatu. Kia juga telah mengunci pintu ruangan itu agar tak ada yag sembarang masuk kedalamnya dan Ia bebas mendandani suaminya itu.
__ADS_1
Kini Kia tengah menyisir rambut Bisma agar lebih rapi, tak lupa Ia potong sedikit karena sudah cukup gondrong. Begitu juga dengan kumis dan brewoknya yang sudah tampak lebat. Bisma seolah tak bisa diam dengan posisi istrinya yang ada didepan mata. Ia memeluk, bersandar manja dan semua aktifitas yang bisa Ia lakukan disana.
"Eeh... Nakal!" tepuk Kia pada tangan jahil suaminya.
"Kau tahu, bahwa aku sudah benar-benar yakin jika kau adalah cahayaku dalam semua kegelapan yang aku rasakan."
"Udah, janga ngegombal, Mas. Kita tinggal menunggu aja dan bersiap untuk operasi donor kornea, dan setelah itu cahayanya Mas Bisma akan kembali." ujar Kia.
"Ya, kau cahayaku. Entah apa jadinya aku jika tak ada kau saat ini, yang bahkan saat aku tenggelam hanya kau yang aku ingat untuk terus berusaha naik dan berenang keatas, Hingga mereka menemukan aku." ucap Bisma saat mengingat kejadian mengerikan itu. Kia langsung memeluknya dengan erat didadanya, membuat Bisma lebih tenang saat ini. Asal, Bisma tak kembali nakal dan membuat Kia yang justru tak tenang.
__ADS_1
Kreeekkk... Kreeekkk!
"Kia, kamu didalam?" panggil Daksa dari luar. Ia memang datang kesiangan karena harus mengurus beberapa pekerjaan dikantornya, dan mengurangi terlalu banyak libur agar tak menimbulkan rasa curiga antara yang lainnya.
Kia langsung merapikan diri, terutama pada dressnya yang sudah hampir terbuka dibagian dada akibat ulah suaminya itu. Kia langsung berjalan menuju pintu dan membukanya untuk Daksa agar segera masuk kedalam.
"Ada apa, Mas Daksa?" tanya Kia padanya, karena Kia melihat Daksa membawa sebuah map yang Ia tahu adalah surat izin melakukan operasi. Dan saat itu, dadanya langsung bergetar dengan hebat karenanya.
"Kia siap? Operasinya lusa, dan setidaknya Kia harus menemani. Tahu sendiri, jika aku sangat sibuk dikantor. apalagi Jinan memberitahu mengenai Daksa yang makin berulah." terang Daksa, yang sejujurnya berat membiarkan sahabat dan istrinya berjuang sendirian saat itu.
__ADS_1
"Alasan apa Kia untuk pergi beberapa hari, Mas? Bukan takut, tapi Kia malas mendengar rempongnya surya yang makin sulit. Dia sudah mulai banyak bertanya," jawab Kia.
"Nanti aku suruh Nanda mengatasinya. Kamu tenang saja," ucap Daksa. Mereka berdua berjalan bersama menemui Bisma yang tengah sarapan dibrankarnya saat itu. Sebenarnya bosan, tapi apalah daya Ia tak diizinkan keluar sedikitpun dari ruangan dengan pengawasan ketat itu.