Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Menjauhkan surya dari Jinan


__ADS_3

Semua rencana dari Kia berhasil, hingga akhirnya sang ayah mengizinkan untuk Ia kembali bekerja di Rumah sakit. Meski itu hanya alasan agar Kia bisa keluar dari rumahnya.


Rencana surya pun berhasil. Ia kini menjadi Direktur dihotel milik Bisma dengan segala kekuasaan yang ada. Tapi satu yang tak bisa Ia lakukan, yaitu menggulingkan Daksa. Bahkan menggesernya dari tahtapun tak dapat Ia lakukan kala itu. Karena Daksa adalah asisten yang ditunjuk langsung oleh Direksi dan seluruh pemegang saham di Prada.


Surya kini mulai tertekan dengan segala aturan dan pekerjaan yang diberikan Daksa padanya.


"Kau hanya mengerjaiku, begitu kan?" tukas surya padanya dengan segala lelah yang ada. Pasalnya, Sepuluh kali rapat dengan tempat yang berbeda harus Ia datangi. Apalagi dengan segala pembahasan yang harus detail.


"Jangankan mengerjaimu, bertemu denganmu saja sebenarnya aku muak." Daksa tak pernah menyembunyikan semua rasa benci itu pada surya.


"Ciiihhhh... Alasan!" geram Surya sembari melonggarkan dasi yang Ia pakai.


Daksa hanya memberi senyum sengitnya saat itu, lalu kembali keruangan miliknya sendiri untuk mengatur jadwal mereka kembali bersama Liana. Bahkan mereka sama sekali tak pernah membahas pasal Bisma selama ada dikantor, meski sebenarnya amat penasaran dengan keadaan pimpinan mereka.

__ADS_1


Apalagi, konser yang sebentar lagi akan diselenggarakan disana. Dan itu memakan waktu seluruh staf yang ada, hingga perlu kerjasama yang lebih kuat diantara merka..


Sementara itu, di Rumah sakit tempat Bisma dirawat selama ini, Ia tengah melakukan operasi didalam sana. Sendirian, dan hanya ditemani istrinya seorang. Itupun Kia ada diluar dan tak diizinkan masuk dalam ruangan steril itu.


Ya, Bisma sendiri tak mengizinkan meski para dokter memberi akses karena status kia yang seorang perawat. Bisma hanya tak ingin Kia cemas dan takut saat didalam sana.


Selama diluar, Kia tak hentinya berdoa untuk suaminya. Kia bahkan mengucapkan sebuah nazar agar operasi korne untuk sang suami berhasil dan Ia bisa melihatnla lagi secepatnya, seperti sedia kala.


"Akia," panggil dokter padanya, pertanda Operasi selesai dan Bisma sudah bisa dipindahkan keruangan perawatannya.


Proses penyembuhan masih tergantung kondisi pasien, serta bagaimana kornea baru bisa melekat dengan normal hingga dapat digunakan seperti seharusnya. Tapi setidaknya, kali ini mereka hanya menunggu kesembuhan itu dan Bisma pulih seperti sedia kala.


Beberapa jam berselang, setelah operasi dan pemberian obat antibiotik dan sebagainya. Dan dalam jadwal dinas, harusnya Kia sudah pulang kerumah.

__ADS_1


"Ayah nanti menelpon," ucap Bisma saat mulai sadar dan bisa bicara dengan istrinya.


"Kia bilang double shift. Biarin aja," jawab Kia, dengan menggenggam tangan Bisma erat-erat. Ia pun telaten menanyakan bagaimana keadaan sang suami saat ini, dan Bisma merasa baik dengan mata yang tertutup kasa itu.


"Hanya gatal, rasanya tak tahan ingin mneguceknya." rintih Bisma kala itu.


Kia hanya bisa membaringkan kepalanya diranjang, sembari terua mengusap tangan suaminya. Hanya suport dan doa yang Kia berikan saat ini. Hingga nanti Daksa datang untuk menggantikannya merawat Bisma meski hanya sejenak agar Kia pulang kerumah.


*


Setelah seminggu berlangsung, semua tampak baik-bail saja. Surya tak terlalu ingin tahu lagi tentang Kia, karena Daksa selalu membuatnya sibuk dengan segala pekerjaan yang akan selalu menuntut waktunya.


Bahkan, dengan hal itu Jinan merasa bersyukur karena perlahan terbiasa juah dari suaminya. Ia sama sekali tak merasa kehilangan surya, Ia sama sekali tak merasa kesepian saat surya makin jarang memberinya waktu bersama.

__ADS_1


"Justru rasanya lepas. Rasanya begitu ringan dari semua beban dan tekanan yang ada. Meski awalnya sulit karena terbiasa bersama, tapi nyatanya itu bukan cinta mati seperti yang biasa ku agungkan selama ini." gumam Jinan, yang tengah duduk dengan tenang diteras belakangan bermain bersama sena.


Jinan begitu santai dengan wajahnya yang semakin berseri dengan segala ketenangan hatinya. Ya, rasanya begitu lega dengan helaan napas panjangnya menghirup udara yang segar dibarengi aroma buah haitnya.


__ADS_2