Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Manager, atai Direktur?


__ADS_3

"Daksa sudah memilihkan posisi yang pas buat kamu nanti. Tinggal masuk dan kamu jalani semuanya sebaik mungkin,"


"Manager? Atau, Direktur?"


"Hikssss!" Surya tersedak mendengar penuturan dari segala rasa percaya diri istrinya itu. Tak perlu ditebak lagi, bagaimana Jinan amat tersinggung dengan ekspresi yang Ia berikan padanya.


"Maksud kamu apa, begitu?" tukas Jinan dengan wajah sinisnya.


"Ngga papa... Cuma kaget aja, masa iya kamu minta Manager. Sekelas aku aja ngga dikasih manager sama Kak Bisma, tawa Surya tertahan.


"Kamu bukan siapa-siapa, tapi aku adiknya."


"Officer," jawab singkat Bisma yang menerima suapan demi suapan dari istrinya dengan nikmat dan santai.


"Kan...." cicit surya yang tak kaget lagi dengan sikap Bisma yang teramat sangat profesional.


"Loh, kak. Yang bener aja, masa Jinan dijadiin officer? Jinan udah dandan rapi loh, ini." Jinan mmeperlihatkan dandanan hebohnya, yang Ia lupa jika Bisma tak dapat melihatnya saat ini.

__ADS_1


"Kau mau melamar kerja menggunakan ijazahmu? Maka, lakukanlah."


"Mccccchhh!" Jinan mencebik kesal pada Kakaknya, lagi dan lagi yang selalu membuatnya jengah.


Kia hanya diam, menyuapi Bisma sembari menggendong Sena yang amat anteng ditangannya. Bahkan, sepertinya sena lupa akan Mamanya yang ada didepan sana. Bahkan Ia selalu meraih wajah Kia dan menggodanya untuk bermain kala itu. Sedangkan Oma tengah menikmati sarapannya dengan begitu nikmat, tak mau Ia ikut campur dengan urusan mereka saat ini.


Sarapan usai. Jinan dan surya pergi bersama menuju kantor mereka, dan akan memulai tugasnya masing-masing. Sepanjang jalan Jinan meracau dengan segala kekesalan yang ada dan seolah tak mau berhenti hingga sepanjang jalan mereka lalui berdua. Rasanya, surya ingin menurun kan istrinya itu dipinggir jalan akan berfikir sendiri bagaimana caranya untuk sampai.


"Capek!" murka Surya dalam hati. Tapi Ia tak akan bisa mengungkapkan itu semua didepan jinan. Karena bukan istrinya yang akan minta maaf, melainkan dirinya sendiri yang akan mati. Lagi-kagi lagi diam, yang kini hanya bisa Ia lakukan. Tersenyum, meski hatinya sendiri menangis sesegukan.


Sementara itu, Kia dan Bisma telah sampai di Rumah sakit. Dan karena telah membuat janji, maka mereka langsung bisa masuk tanpa antrian yang panjang. Lebih lagi, Bisma adalah pasien tetap sang Dokter selama hampir satu tahun ini.


"Bagaimana, Dok?" tanya Kia, yang baru kali ini menemani Bisma. Dan dengan senyum ramahnya Dokter menjelaskan jika semuanya normal pada saat ini.


"Tak ada nyeri?"


"Tidak ada, Dok. Hanya saja, terkadang gatal dimata. Seperti iritasi, tapi beberapa hari lalu." terang Bisma saat itu.

__ADS_1


Dan lagi, Kia membawa beberapa obat yang tak sesuai dengan isinya. Dokterpun tercengang, karena Ia tak pernah salah memberikan resep apalagi vitamin untuk mata Bisma. Semua telah mereka cek dengan baik dari resep ataupun obat yang akan diberikan ke Apotek, dan pasti akan memberitahu jika stok obat kosong dan menggantinya dengan konfirmasi terlebih dahulu pada Daksa yang memang bertanggung jawab kala itu.


" Tandanya, kami perlu memperketat pengawasan obat untuk dirumah," lirih Bisma, yang amat yakin jika obat itu ditukar saat sudah ada dikamarnya.


"Mas, siapa yang...."


"Nanti, Kia akan tahu sendiri jawabanya." balas Bisma. Kia hanya mengangguk, dan kembali memperhatikan ucapan sang dokter pada keduanya. Ia amat memperhatikan apa pesan dari dokternya, terlebih lagi Ia tak sungkan bertanya apapun yang membuatnya sedikit penasaran.


" Mas... "


" Ya, sayang? Ada apa?"


"Kia boleh tanya?"


"Hmmm, apapun buat kamu," usap Bisma di rambut indah itu, tatkala keduanya telah keluar dari ruang Dokter.


"Mas buta karena apa? Hmmm maksudnya kecelakaan kenapa?" Kia memberanikan diri mengorek asal usul kecelakaan itu.

__ADS_1


"Waktu itu, Aku sedang mengendarai motor kesayanganku seperti biasanya menghabiskan waktu luang. Dan aku kurang ingat, tapi ada yang menabrak motorku dari belakang hingga aku oleng dan menabrak mobil lainnya. Helmku sendiri yang saat itu kacanya sampai pecah dan mengenai mata. Saat itu seketika semua gelap, dan hanya melihat seorang paruh baya dengan pakaian resmi menatapku dengan cemas. Aku juga tak ingat, bagaimana kelanjutannya," Bisma menghentikan cerita, karena semua memang berakhir disana.


__ADS_2