
"Sayang... Hey, kau ngambek?" tanya Bisma, menggoda Kia yang tengah tidur membelakanginya saat ini.
Sejak tadi makan malam bersama hingga mereka kembali kekamrnya, Kia mendiamkannya meski masih melayaninya untuk makan dan obat-obatan yang ada. Tapi setelah itu, Ia diam tanpa suara sama sekali terdengar dari bibirnya yang biasa cerewet dan merdu ditelinga Bisma.
"Hey... Biacaralah, sayang. Tanpa suaramu beberapa menit saja rasanya amat kurang. Jangan mendiamkan aku seperti ini, karena aku tak akan..."
"Mas Bisma jahat! Jahat banget sama Kia..." sergahnya dengan suara yang sedikit serak. Bisma pun segera tanggap, bahwa Kia tengah menahan tangisnya saat ini. Ia pun sadar, mungkin Kia masih memikirkan pembicaraannya pada Daksa tadi sore mengenai penitipan akan dirinya.
"Sayang... Aku hanya,..."
"Hanya apa? Kia selama ini fikir Mas bisa bawa Kia dari kekangan Ayah. Dan memang bisa, tapi kenapa makin kesini makin begini? Apa tujuan Mas nikahin Kia?" tangis itu akhirnya memuncah. Bisma amat tak bisa mendengar istrinya menangis seperti ini, dan Ia memeluk tubuhnya dengan erat dari belakang.
Kia berusaha berontak dan ingin melepas pelukan itu, tapi Bisma terus saja mendekapnya semakin kuat dan bahkan mengecupi setiap bagian yang Ia raih dengan wajahnya. Wanita yang kuat, Akhirnya menangis dalam pelukannya saat ini.
"Aku tahu kau wanita yang kuat, Sayang. Aku tak akan pernah meninggalkanmu,"
__ADS_1
"Bohong! Itu tadi ngomong sama Mas Daksa, apa? Apa Mas? Kalian punya rencana yang bagaimana sama Kia?"
"Bukan padamu, tapi dengan yang lain. Tapi maaf, jika aku harus melibatkanmu dalam semua ini. Apa kau siap?" bisik Bisma pada istrinya.
Seketika Kia membalik tubuhnya. Ia menatap mata serius Bisma dan nenyentuhnya saat ini. Entah apa, tapi Ia memang selalu tak bisa menolak pesona Bisma apalagi dengan tatapan yang diberikan padanya.
" Mas... Ngomong sama Kia," mohonnya dengan sangat. Hanya karena Ia takut salah bertindak dan mungkin bisa mengacaukan rencana yang ada.
"Wajahmu," pinta Bisma, yang langsung diberikan oleh Kia saat itu juga untuk Ia raba seperti biasa.
"Dan apapun yang terjadi nanti, tetaplah menjadi Akia yang kuat dan kokoh pada pendiriannya." kecupnya dibibir indah itu. Terasa Kia mengangguk, dan Bisma kembali mendekap untuk mengajaknya tidur bersama.
*
"Yang... Jangan ngambek lagi lah," bujuk Surya pada istrinya.
__ADS_1
"Males aku sama kamu,"
"Lah, terus maunya gimana? Aku cuma mantanan sama Kia, terus harus apa? Pindah kesinipun, itu kamu yang minta."
"Tapi kamu seneng kan? Bisa deket sama dia? Membayangkan lagi semua kenangan indah kalian kala itu?"
"Yang... Aku ngga pernah gitu loh, tapi kamu nuduh terus. Aku deket sama Kia cuma menghormati dia sebagai ipar kita. Apalagi dia kesayangan Kak Bisma saat ini, aku cuma mau manfaatin itu semua."
Jinan segera berbalik dari pelukannya pada sang putra dan menghadap sang suami.
" Memanfaatkan apa maksud kamu?"
" Ya... Memanfaatkan aja. Mana tahu, dengan baiknya aku dengan dia, maka dia juga ngga segan bilang ke Kak Bisma supaya aku sedikit naik jabatan. Ya... Namanya usaha. Kamu sih, terlalu ngebet benci sama dia. Jadi Kak Bisma juga kesel sama kamu,"
Jinan memicingkan matanya mencerna apa yang surya katakan. Tapi memang ada benarnya, karena Ia sendiri begitu terang-terangan membenci dan memusiuhi Kia, hingga Bisma juga terang-terangan akan sikap tegas itu padanya.
__ADS_1
" Kan, sayang... Biar diantara kita diangkat sama Kakakmu. Kalau saja kamu ngga begitu, pasti Kak Bisma ngga akan setegas ini. Sabar dong, makanya..." bujuk Surya dengan segala kata manisnya.
Jinan akhirnya luluh dan meminta maaf, hingga luluh kembali dalam pelukan sang suami. Betapa bahagia bagi Jinan, karena surya memikirkan kehidupan mereka sampai sejauh itu. Ia yakin, bahwa Surya benar-benar mencintai dia saat ini.