Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Kepergok


__ADS_3

Pulang kerumah, Jinan langsung masuk ke kekamar dan membersihkan diri. Karena Ia tak mendengar sena rewel atau menangis, Ia pun memanfaatkan waktunya sejenak untuk rebah dan memainkan gadgednya membuka sosmed.


"Anak mana, Anak? Main hp mulu kerjaan. Sampe ngga inget anak entah dimana sama siapa," omel surya pada istrinya.


"Lagian ngga kedengeran juga sih. Anteng lah pasti sama Uyutnya, atau sama Tantenya tuh. Dia kan lagi cari perhatian, biarin aja urusin sena biar disayang kak Bisma."


"Tanpa cari perhatian, Kia itu udah disayang sama Bisma. Buat apa cari perhatian sampai mau ngasuh anak orang begitu? Kia bukan kelas begitu," tukas surya yang tengah memakai pakaiannya saat ini. Jinan hanya menatap dan mencerna kata-kata yang terdengar janggal itu, seperti Surya paham brtul akan Kia dan bagaimana dirinya.


Setelah rapi, Ia keluar dengan siulan tanpa menoleh sedikit pun pada Jinan yang sedaritadi menatapnya penuh rasa curiga.


"Perlu diselidiki ini," umpatnya, lalu segera berdiri untuk diam-diam menyusul kemana surya pergi.

__ADS_1


Di teras depan, Kia tengah menyuapi Sena makan sembari santai berdua. Bisma tengah melakukan meeting virtual bersama Daksa, serta mambahas yang lain mengenai penyelidikan yang akan Ia lakukan. Sedangkan Oma, Kia memintanya agar istirahat karena lelah setengah hari mengurusi buyutnya itu.


Datanglah surya dengan penuh keramahan, bahkan membawakan sebuah jus tomat kesukaan Kia dan duduk disebelah Kia walau terhalant meja kecil yang ada.


"Terimakasih, sudah membantu anak ku. Pasti repot, karena harus mengurus suami dan keponakan seperti ini." ucap Surya dengan nada yang lembut. Kia bahkan tercengang dengan nada bicara yang Surya keluarkan saat ini.


"Ya... Ngga papa. Menyenangkan memiliki kesibukan seperti ini. Itung-itung, belajar kalau misal punya anak sendiri," jawab Kia tanpa menoleh, karena Ia sembari menggoda sena agar lahap makan kali ini. Dengan duduk dikusri khususnya, sena merespon dengan baik apa yang Kia berikan padanya saat ini.


" Bagaimana kamu dengan kak Bisma?" Pertanyaan mulai menjurus, dan Kia mulai malas untuk menjawab nya.


"Dia buta loh, Ki. Emang bisa, memuaskan kamu?" tukasnya dengan santai dengan pertanyaan aneh itu. Entah apa maksudnya, padahal Ia kadang mendengar betapa panas permainan mereka didalam sana.

__ADS_1


"Terus... Apa urusanmu? Yang buta matanya, tapi yang lain engga. Daripada yang normal, tapi apatis dengan apa yang ada dihadapannya." ujar Kia.


"Aku loh, cuma nanya..." Surya menyeruput jus miliknya sendiri, bersantai seolah Ia tengah dalam mode liburan atau Ia merasa didalam rumah miliknya sendiri saat ini. Ia tak sadar, jika Kia yang lebih berhak disana dan bahkan memiliki hak jika hanya untuk mengusir dirinya.


" Jangan sok tegas didepan aku, Ki. Aku tahu kamu gimana. Toh... Kamu pernah bucinin aku 'kan? Sayang aja, Ayahmu ngga restuin kita bersama."


"Jangan bahas itu, Yak. Atau...."


"Atau apa?" tiba-tiba Jinan keluar dari persembunyiannya. Ia menghampiri keduanya dengan tatapan nyalang penuh kebencian. Apalagi dengan Kia, saat Ia tahu bahwa Kia adalah mantan kekasih Surya di masa lalu sebelum bersamanya.


"Bagus, ya... Rupanya kalian mantan pacar? Udah tahu sifat masing-masing. Makanya, kamu dengan santai puji dia di depan aku."

__ADS_1


"Ji-jinan?" Surya langsung berdiri dan menatapnya cemas. Sementara Kia, masih santai menghabiskan sisa makanan untuk sena dan terus menggodanya tanpa rasa bersalah apapun.


Lagipula, untuk apa rasa bersalah itu baginya. Ia tak melakukan apapun dan surya hanya masa lalu yang sudah sangat lama. Dan saat itu, Surya yang menghampiri dan bukan dirinya.


__ADS_2