Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Bisma, Serius?


__ADS_3

"Ta-tapi, Kak. Nanti Papa-..."


"Papa mu itu ngga akan marah sama kamu. Paling nanti kamu lihat kami ribut sebentar. Udah biasa, dan ngga usah di bawa serius."


Kia membujuknya dengan sedemikian rupa. Nanda masih tertunduk kebingungan mencari jawaban sesuai dari dalam hati dan singkron dengan isi pikiran nya saat ini. Satu jawaban untuk sebuah pembuktian, dan satu lagi agar Papa Arman tak tersinggung dan memarahinya.


"Ngga usah kebanyakan mikir. Iya aja, udah. Katanya mau aku maafin? Kalaupun jadi, antra kamu sama dia. Toh, masih perusahaan Ayah yang untung.


" Baiklah... Nanda akan datang ke pertemuan itu, menggantikan Kak Kia." pasrahnya. Tapi Ia senang, ketika Kia tersenyum dengan keputusan itu. Berharap agar setelah ini, kondisi mereka akan membaik dari sebelumnya.


Nanda pamit, dan mempersilahkan Kia untuk segera tidur. Ia pun akan mempersiapkan diri untuk pertemuan besok.


***

__ADS_1


"Pagi, Oma..." sapa Daksa yang membantu Bisma turun untuk sarapan bersama. Ia pun membawa Bisma duduk dan melayaninya dengan baik. Nining sampai seperti tak ada gunanya jika Dakada ada disana, karena semua akan diambil alih oleh pria itu. Sampai pada pemerian obat yang seharusnya adalah tugas Nining sebagai perawat pribadinya.


"Tuan, lalu tugas saya apa pagi ini?" Nining memberanikan diri untuk bertanya. Karena ia merasa seperti tengah menikmati gaji buta tanpa bekerja.


"Tugasmu hanya diam, dan tak perlu banyak bicara. Sampai kan pada Tuanmu, jika kau telah bekerja dengan baik." jawab Bisma yang meraba dan menikmati sarapan nya.


Oma sekar hanya memijat dahinya, begitu pening jika memikirkan tingkah Bisma yang masih begitu ketus pada Nining. Padahal menurutnya, pekerjaan Nining begitu baik dan tanpa cacat sedikitpun.


"Daksa,"


"Bisma serius? Daksa kenapa ngga bilang dulu sama Oma, Nak?"


Perdebatan kembali terjadi. Oma hanya sangsi, dengan apa yang jadi keputusan Bisma cucunya. Disaat seperti ini, akan begitu sulit untuk mencari yang tulus meski statusnya adalah pria kaya dengan beberapa usaha miliknya diluar hotel yang besar.

__ADS_1


"Mereka hanya akan manfaatin Bisma nantinya. Oma hanya takut itu terjadi, dan Oma ngga mau jika Bisma sakit hati gara-gara wanita.Atau, Oma ikut untuk...."


"Tidak... Bisma saja, bersama Daksa. Dan tolong, Surya pun tak boleh tahu akan hal ini." pinta Bisma, meraih satu persatu obatnya untuk Ia minum. Daksa tampak tak mmembantunya, hanya melihat agar Bisma semakin mandiri dengan apa yang harus Ia lakukan.


Hari ini pun Bisma ikut Daksa ke kantor. Ia hanya duduk, dan mendengarkan semua laporan di baca dengan laporan lain yang ada. Termasuk tindakan Surya yang sering kali membuatnya geram. Membawa para sahabatnya untuk menginap sesuka hati, dan membuat tagihan menggunakan rekening kantor. Seketika itu pula, Bisma langsung memblokir semua yang sempat Ia pegang dari perusahaan.


"Jika dia tak setuju, suruh Dia menghadapku sekarang juga."


"Baik, Pak." angguk salah seorang Staf yang melapor hal itu. Ia tak gentar, karena Bisma selalu ada di belakangnya selama ini. Dan Daksa yang mengawasi semua atas perintah Bisma.


Dan benar saja. Tak lama setelah itu, Surya muncul dengan segala emosi di di dadanya. Dengan napas yang naik turun, sok kuat mendobrak dan masuk langsung menatap nyalang pada Daksa di tempatnya.


"Kau! Seenaknya saja kau memblokir semua fasilitasku! Apa kuasamu, HAH! Breng...."

__ADS_1


"Aku, yang memblokirnya." sahut Bisma dari tempatnya, yang tak disadari oleh Surya.


Pria itu seketika gelagapan, menelan salivanya dengan kuat hingga jakun nya nampak naik turun karenanya.


__ADS_2