
Rapat selesai dengan keputusan yang baik antara keduanya. Nanda menyalami koleganya dan mengantar mereka keluar sembari berbasa basi dengan beberapa obrolan lain. Sedangkan Pak Arman masih diam dengan segala rasa kesalnya disana.
"Papa masih kesel?" tanya Nanda yang telah kembali dan duduk disebelah Papanya.
"Papa mendirikan hotel ini bersama Ibu Kia. Susah payah, jatuh bangun dengan segala derita yang kami alami. Tapi kenapa sekarang, selalu dikaitkan dengan Bisma? Papa ngga terima rasanya," ucap Pak Arman panjang lebar, dengan lenguhan napas panjang bersandar di bahu sofa yang Ia duduki saat ini.
" Ambil sisi positifnya, Pa. Kerjasama akan terjalin tanpa Papa susah payah meyakinkan.... "
" Papa mau mereka datang dengan keyakinan mereka sendiri atas nama Nala. Bukan dalam bayang-bayang Prada dan segala cabangnya," Keras kepala Papa datang lagi, membuat Nanda hanya bisa diam dan menghela napasnya panjang saat itu.
Keegoisan Papa sambungnya itu membuatnya sedikit takut, jika Papa Arman akan bertindak diluar ekspetasinya yang sudah terlanjur menganggap pria itu sebagai malaikat pelindung untuk Mama dan dirinya. Sosok pria tang telah mengangkat derajad sang Mama setelah Papa kandungnya pergi amat lama.
"Iya, Pa... Nanti, Nanda akan berusaha agar mereka tak fokus lagi pada Kak Bisma dan Prada. Mereka akan fokus pada Nala dan kita," angguk Nanda. Meski tak dipungkiri, membawa nama Bisma dan Prada adalah sebuah keberuntungan agar Ia dapat mengembangkan hotel mereka ke kancah Internasional.
__ADS_1
Nanda pun pergi dan meninggalkan Papanya yang masih dengan mode sama. Ia memilih menghindar daripada Ia menjadi sasaran omelan sang Papa. Dan baru Ia tahu, maksud Kia ingin bebas dari kekangan itu yang seperti apa untuk sekarang.
"Apa... Kalau nanti aku punya jalan sendiri atau ngga sesuai mau Papa, aku akan diperlakukan seperti Kak Kia? Aku takut kalau begitu, sedangkan untuk sekarang aja rasanya sudah mulai ada pergeseran antara Aku sama Papa." gumamnya, saat masuk dan duduk kedalam ruangan pribadinya yang nyaman.
Ia lantas melamun sejenak, membayangkan Kia yang telah bebas dari kekangan Ayahnya. Apa mungkin Ia akan bisa seperti itu, bisa bebas tanpa bayang-bayang sang Papa dan bahagia dengan caranya?
**
Wajah Kia yang tampak segar usai mandi dan keramas itu melanjutkan misi utamanya saat datang kedalam kostnya. Sementara Bisma masih duduk bersandar berte lan jang dada, mendengarkan semua yang Kia bacakan padanya.
Jadwal yang tertera disana amat lengkap, hari, jam pertukaran serta siapa saja yang bersama Kia hari itu. Meski Ia hanya satu bulan dan masih berpindah tempat karena belum memiliki ruangan dinas tetap.
"Hari rabu, tanggal... Kia dinas pagi, sama Rian, sama Nining, sama..."
__ADS_1
"Stop, sayang... Siapa tadi?"
"Rian, Nining?"
"Nining? Nining dari Rumah sakit? Bukankah dari yayasan?" Bisma kemudian mengingat perihal Nining. Apakah Nining yang Kia sebutkan itu sama dengan Nining yang sempat merawatnya dirumah saat itu.
Lantas, apa alasan Nining pergi karena Ia tak kuat terus ditekan oleh seseoranh? Maka itu, Ia pergi untuk menjaga perasaan.
"Perasaan? Maksudnya? Dia suka Mas Bisma?" tanya Kia, karena Ia tak tahu sama sekali mengenai hidup Bisma sebelum mereka menikah. Bahkan, berapa perawat yang mundur hanya gara-gara takut jatuh cinta dengan pria itu.
"Dia sempat bicara itu. Tapi, sepertinya yang dia maksud itu lain. Perasaan... Perasaan tertekan dengan sebuah perintah yang salah?" fikir Bisma. Andai Ia dapat melihat, pasti dengan cepat bisa mencari dan mengenali sosok Nining dan menangkapnya.
"Daksa.... Daksa yang tahu pasal wanita itu," gumam Bisma, karena Daksa yang bisa Ia andalkan selain istrinya saat ini.
__ADS_1