
Hari telah larut malam, tapi Bisma tak kunjung dapat memejamkan matanya untuk istirahat. Ia dibantu Daksa tengah menghafal ijab qabul, yang akan Ia ucapkan untuk Akia besok. Dan karena hanya sederhana, maskawin pun tak terlalu mewah dan banyak untuknya.
"Tapi aku sudah memberi hadiah lewat Liana. Dia tahu kesukaan wanita, dan itu mahal. Sepertinya mewah." ucap Bisma di sela latihan nya.
"Tapi tak semua gadis suka kemewahan."
"Iya... Kia juga bilang begitu. Dia tak terlalu suka dengan barang mewah seperti itu." tutur Bisma.
"Hhhh... Entah kenapa, Kalian seperti drama perbucinan korea." cicit Darma sembari mempersiapkan persiapan akad esok hari.
"Kau pernah nonton?"
__ADS_1
"Liana yang sering. Aku hanya ikut-ikutan." Bisma hanya mengangguk kan kepalanya. Ia kemudian menyandarkan diri di ranjangnya.
"Tidurlah, besok kau kesiangan. Nanti kau telat, makin berang calon ayah mertua mu itu." ledek Daksa padanya. Bisma hanya tersenyum kala itu, dengan perasaan nya yang campur aduk tak terkira.
Sedangkan di kamar yang berbeda, Jinan dan Surya tak kalah gelisahnya dengan calon mempelai saat ini. Fikiran mereka adalah, bagaimana cara menggagalkan pernikahan itu. Jinan terlalu naif dengan segala rasa takutnya akan Kia. Gadis yang bersedia di nikahi secara mendadak dan sederhana, baginya itu adalah sesuatu yang janggal.
"Apa sih, yang. Kok malah kamu yang gelisah?" tegur sang suami padanya.
"Udah lah. Itu keputusan Kak Bisma, kita bisa apa? Yang ada nanti kita repot lagi kalau dia gagal nikah. Lihat aja, dan awasi bagaimana nanti."
"Mas kok bisa santai banget? Atau, Mas tahu mengenai gadis itu? Ayo ngaku!" todong Jinan pada sang suami yang tengah menepuk-nepuk bahu anaknya.
__ADS_1
Surya tak mau ambil pusing dengan cecaran pertanyaan yang ada. Ia memilih memejamkan mataya untuk menghindari segala ocehan sang istri, sembari mengenang masa lalu nya dengan Kia.
Ya, masa lalu yang menurutnya indah kala itu. Berpacaran sejak jaman SMA, dan Ia berhasil membuat gadis itu bucin hingga menuruti apa maunya. Membelikan nya sesuatu yang Ia inginkan, menuruti kemanapun Ia ajak pergi dan mentraktir nya makan di cafe atau restaurant mewah. Hidupnya sangat indah saat itu.
Hanya saja, Ayah Kia membaca gelagatnya dan menolak hubungan mereka. Apalagi Surya yang pengangguran akut dan sulit untuk pekerjaan. Luntang lantung, dan sok tegas menolak ketika Kia meminta untuk bekerja di hotel sang Ayah dengan alasan gengsi. Sudah menambah penilaian buruk dari Pak Arman saat itu.
Kia sebenarnya ingin memperjuangkan, tapi sayangnya malah kenyataan demi kenyataan memperlihatkan semua yang ada. Surya menghilang saat Kia butuh dan begitu sayang padanya. Hingga Kia mendengar Surya telah menghamili seoranh wanita dan akhirnya harus bertanggung jawab pada wanita itu.
"Bagaimana besok, kalau Kia tahu aku jadi adik iparnya? Pasti Dia akan kaget dan heboh? Apakah, Dia masih mencintaiku? Kenapa dia mau menikah dengan cara seperti ini? Karena begitu sulit move on dariku?"
Berjuta pertanyaan terisi dalam kepala Surya yamg mulai kacau. Semuanya kenangan akan Kia, seolah tak sadar dengan sang istri yang juga telah mengorbankan segalanya untuknya.
__ADS_1
" Dasar! Diajak ngobrol malah tidur. Kebiasaan," kesal Jinan pada suaminya. Ia menyusul tidur disampingnya, dengan sang putra ada ditengah mereka dan memeluknya bersama.