Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Cahaya dalam kedinginan itu


__ADS_3

Rumah sakit Charitas, ruang VVIP. 


Daksa melangkahkan kakinya masuk sendirian keruangan itu saat Ia yakin tak ada satupun yang memngikuti dirinya kala itu. Langkah kakinya terdengar, dan Bisma segera bangun dari tidurnya yang lelap dengan seragam khusus pasien yang Ia pakai.


"Kau datang? Mana Kia?" tanya nya dengan antusias."


"Bangunlah, akan ku gantikan dulu pakaianmu dengan yang lebih baik. Kau macam gelandangan memakai seragam ini," tukas Daksa pada sahabatnya. 


Daksa mengambil baju yang memang tersedia dihotel, dikamar khusus milik Bisma. Ia lantas membawanya secara diam  diam tanpa ada satu orangpun yang tahu saat itu.


"Kia baik-baik saja, dan sudah ku antar pulang kerumah."


"Baiklah... Aku tahu dia bisa," angguk Bisma.

__ADS_1


Flashback Daksa to Bisma.


Malam itu, rasanya amat gelisah bagi Daksa. Ia amat tak tenang dan tak fokus dengan segala pekerjaan yang ada. Ia terus terbayang Bisma yang tengah ikut dalam kapal pesiar besar itu.


"Pak Daksa kenapa?" tanya Liana padanya. Kebetulan, lembur itu mereka amsih dikantor bersama dengan segala tugasnya.


"Bisakah aku menyusul Bisma malam ini?" tanya Daksa padanya.


"Bapak kenapa? Bahkan disetiap sudut kapal itu sudah Bapak pasang CCTV. Kenapa masih cemas?" Liana berusaha menenangkan wakil direkturnya itu. Tapi, tak ada pengaruhnya sama sekali bagi kegelisahan yang Daksa alami saat ini.


Liana akhirnya pasrah, Ia segera menelpon beberapa rekan untuk memberi info mengenai sebuah Sky boath yang siap berangkat malam ini juga menuju kapal pesiar yang Bisma tumpangi. Meski sedikit lama dan sukar, akhirnya Liana mendapatkannya dan akan segera berangkat sesuai perintah. 


Daksa langsung antusias, Ia mengajak Liana segera pergi menemaninya menuju dermaga.  Liana tak ikut saat itu, hanya beberapa pegawai yang memang Ia panggil untuk memgawal Daksa menemui Bisma disana. Namun, dari kejauhan Daksa menatap sesuatu yang janggal dimatanya. Untungnya dalam boath itu ada sebuah teropong dan Daksa memakainya untuk melihat dari kejauhan sana.

__ADS_1


Daksa melihat Bisma tengah bicara dengan surya diujung kapal. Pembicaraan tampak amat serius dan menegangkan dari kejauhan, tapi sayang itu semua hanya terhubung oleh tab yang Ia tinggal dikantornya. Daksa mengulur tangan agar pengemudi boat itu berhenti dan stay ditempat mereka saat itu.


"Andai aku bisa mendengar obrolan itu," gumam Daksa, karena tepat disebuah sisi pagar itu Daksa menaruh cctv kecil untuk mengawasi Bisma jika tersesat dan hilang tanpa pengawasan.


Obrolan mereka tampak semakin menegangkan, dan tatapan surya tampak semakin tajam dan menusuk kearah Bisma. Daksa mencium sesuatu jahat. Dan benar saja, secara spontan Surya mendorong Bisma hingga jatuh kelaut yang dalam itu.


"Tuan?!!"" pekik salah seorang dibelakangnya. Ingin menolong, tapi Daksa menahannya sejenak agar tak terburu-buru mengambil keputusan.


"Biarkan Surya pergi. Jangan sampai Ia melihat kita disini," titah Daksa yang langsung dituruti anak buahnya.


Dan benar, setelah semua panik itu Surya segera pergi. Dan sesaat kemudian Bisma mengapung dan mulai berenang entah kemana instingnya mengarahkan. Ia memang sudah begitu dalam tercebur diair itu, namun seolah mendapat sebuah cahaya menyinari matanya. Dan seketika itu, Ia teringat akan Kia dan langsung berenang naik keatas untuk berenang. hIngga Ia merasa ada yang memanggil, mendekat lalu meraih tubuhnya saat itu. 


Air yang amat dingin membuat telinganya berdenging, hingga tak menyadari siapa saja yang menolongnya. Tapi yang jelas Ia selamat dan bersyukur dapat naik ke permukaan.

__ADS_1


"Ini Aku, Daksa." Samar-samar suara itu terdengar ditellinga Bisma, dan Ia tersenyum menyambutnya kala itu. Helaan napas lega Ia keluarkan, saat Ia selamat meski harus bersembunyi dari semua orang.


__ADS_2