Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Bukan perhatian, tapi kewajiban


__ADS_3

Masakan telah selesai. Aroma harum dari masakan sang istri membuat Bisma tergiur dan turun dari kamarnya. Langkah kakinya menuruni tangga dengan tongkat yang selalu ada ditangannya, dan Ia tengah mencari sumber aroma lezat itu dengan indera penciumannya yang tajam.


"Dapur," toleh Bisma pada arah kiri, yang memang tepat menuju dapur. Langkah demi langkah mendekat, dan Ia mendengar suara sang istri yang tengah bersenandung sembari mencucuci piringnya.


Tak! Tak! Suara tongkat terdengar mendarat ke beberapa peralatan yang ada. Kia mendengarnya dan langsung menoleh karena tahu suaminya mendekat padanya saat ini.


"Mas, kok kesini?" Kia segera menghentikan pekerjaan dan menyambut Bisma. Sedangkan cucian piring Ia alihkan pada pelayannya yang lain, karena Bi IS tengah sibik mengasuh Sena bersama Oma.


"kamu masak?"


"Iya, Kia masak buat Mas Bisma. Kan harus banyak makan sayuran, dan nanti takutnya Mama Lisa bawa masakan pedas. Mas ngga makan," 


"Terimakasih, sudah perhatian..." ucap Bisma dengan lembut.


"Bukan perhatian, tapi kewajiban. Mas mau apa? Mandi yuk,"

__ADS_1


"Mau mandi sama-sama?"


"Eh.... Mas, ngomongnya!" Kia menutup mulut Bisma yang berbicara terlalu lantang. Menoleh kanan kiri dengan wajahnya yang mulai memerah seperti tomat kematangan. Bisma meraih tangan itu dan melepaskannya dari mulut yang terbekap.


"Aku hanya mengajak istriku untuk,.." 


"Eheeemmm," suara mala mengagetkan Bisma. Ia sama sekali tak tahu jika ada orang disana, padahal biasanya Ia amat peka dengan lingkungannya. Entah, apa karena Kia mengalihkan seluruh perhatiannya atau hanya sedang tak fokus. 


"Malu," geram Kia mencubit pinggang Bisma. Hingga suaminya itu meringis kesakitan tapi dengan tawanya yang khas saat bersama Kia. Ia segera menggandeng Bisma naik dan masuk ke kamar keduanya, mempersiapkan Bisma untuk menyambut mama dan Nanda.


"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Bisma dengan tatapan smirknya.


"Engga... Kia ngga ngapa-ngapain. Kia cuma dapet mainan baru. Suka deh," goda Kia yang tak kunjung membilas busa itu dari wajah Bisma. 


"Malah ditambahin? Nakal kamu ya...." Bisma yang gemas langsung menarik lengan Kia dan membawanya jatuh kedalam bathup hingga saat ini mereka berendam bersama.

__ADS_1


"Mas! Kia basah," 


"Bukankah, aku memang mengajakmu mandi bersama? Hah?" tangan nakal Bisma menggelitik pinggang istrinya hingga kegelian. Hingga Kia terpingkal-pingkal akan ulah suaminya itu, apalagi  memang Kia tak tahan geli dan bahkan bisa menangis karenanya.


"Mas... Udah! Kia nangis nih," rengeknya yang terasa lemas karena geli yang Ia rasa. 


Mendengar itu, Bisma langsung menghentikan aksinya. Ia melingkarkan tangan ke pinggang Kia dan mendekatkan keduanya, merasakan dingin disekujur tubuh Kia yang basah karena ulahnya.


"Kau kedinginan?" tanya Bisma yang saat ini menatapnya lekat meski tak terlihat.


"Sedikit," jawab Kia dengan anggukannya. tangan Bisma naik ke tengkuk Kia dan menekannya agar semakin dekat, lalu mel lu mat bibirnya dengan hangat. Dan memang amat hangat dirasakan Kia saat ini degan gelenyar yang ditimbulkan oleh tingkah Bisma padanya. 


"Mass... Mama sebentar lagi datang," Kia melepaskan semuanya perlahan untuk memberi penegrtian suaminya agar tak terlanjur ON dengan aksi keduanya.


"Ya... Baiklah, kiat bersihkan diri sekarang." balas Bisma, dan sama sekali tak kecewa dengan penolakan halus itu. 

__ADS_1


Kia pun segera membersihkan tubuh Bisma dan sekalian membersihkan dirinya sendiri yang sudah terlanjur basah. Keduanya keluar, dan Kia mendandani Bisma terlebih dahulu baru membenahi dirinya sendiri. Keduanya segera turun, untuk menyambut tamu mereka dibawah.


__ADS_2