
"Kia, Bisma. Kalian sudah mandi, Nak?" tanya Oma yang menghampiri. Wajahnya amat tampak sangat lelah, mengasuh dan menggendong sena yang tampak mulai rewel merindukan Mamanya.
"Ya, Oma? Sena belum mandi?" Kia langsung mengambil sena yang lusuh itu dari buyutnya, dan menimang berusaha menenangkan anak itu.
"Belum, Kia. Daritadi nangis terus, Oma pusing. Bi Is pun pusing, bingung mau diapain. Mau manggil Kia, lagi sibuk urusin Bisma." ucap Oma.
Sedangkan Bisma yang ada diantara mereka juga tampak cemas, meraih wajah Sena dan mengusapnya. Dapat Ia rasakan air mata sena yang mengalir amat deras di pipinya saat ini. Menggelengkan kepala dengan sikap adiknya yang semakin menjadi sejak tinggal bersama mereka. Ia makin bebas pergi meninggalkan anaknya bersama Oma.
"Biar Kia aja yang mandikan, Oma. Oma bisa, carikan baju untuk Sena? Kia ngga enak, kalau harus masuk ke kamar mereka." pinta Kia pada Oma.
"Yasudah, Oma ambilkan alatnya. Mandikan ke kamar Oma saja," jawab Oma, lalu pergi kekamar Jinan untuk mencarikan pakaian untuk Sena. Tak perduli cocok, matcing, atau apalah yang sering Jinan ucapkan. Yang penting anaknya segar dan wangi hingga nyaman untuk tidur sore ini.
__ADS_1
Kia membawa Sena ke kamar Oma. Direbahkan nya tubuh mungil itu diatas ranjang, sembari menggelitik mengajaknya bermain dan tertawa bersama. Bisma pun ada disana, mendengarkan setiap celotehan Kia dan tawanya bersama sang keponakan. Kia terdengar sangat menyayangi sena, dan bahkan sangat telaten mengurusnya.
"Maaf, aku tak bisa bantu." sesal Bisma dalam diamnya. Pasti akan sangat mengasyikan, saat Ia ikut bermain bersama mereka dengan canda dan tawa yang ada.
"Ngga papa, Mas. Ini sena nya anteng kok, ngga nangis lagi. Malah ketawa terus mainan sama tante. Iya kan, sayang?" tangan lincah Kia aktif memijat tubuh mungil itu. Sena tampak keenakan dengan segala pijatan yang diberikan tantenya.
"Kia, ini bajunya. Mandiin di wastafel oma aja, ya? Sabunnya juga udah ada." Oma memberikan semuanya, dan Kia membawa tubuh mungil dan semok itu kedalam kamar mandi. Ia memandikannya didalam wastafel Oma, dengan mengucurkan air ketubuhnya begitu segar.
"Udah, ya? Nanti masuk angin," Kia lantas menggendong sena untuk kembali ke kamar dan memakaikannya baju, bedak, dan semua hingga tubuhnya wangi sekarang. Sangat segar, hingga Kia menciumnya berkali-kali dengan begitu gemasnya.
Sebotol susu pun sudah tersedia disamping keduanya. Hanya Bisma dan Oma sudah keluar, dan tak lagi menemaninya. Kia lantas menggendong sena untuk menidurkannya, tak sadar berjalan hingga keluar.
__ADS_1
"Loh, Nanda udah dateng? Mama Lisa?" Kia langsung menghampiri saat tahu Nanda telah datang. Hanya memberi kecupan, karena tahu Kia tengah sibuk dengan bayinya saat inj.
"Ini, keponakan. Anak Jinan, adiknya Mas Bisma." terang Kia pada keduanya, meski Oma juga sudah memberitahu mereka akan hal itu.
"Aduh, kok udah cocok ya? Semoga segera dapet juga deh, gemes mama lihatnya..." ucap Mama Lisa, yang memang sangat gemas melihat kebersamaan keduanya.
Mama Lisa saja gemas, apalagi Bisma yang tak bisa melihat keduanya. Pasti akan lebih gemas lagi dari ini, atau bahkan sudah mengajak keduanya untuk jalan-jalan layaknya keluarga lengkap yang bahagia.
"Doakan saja, Ma. Bisma, juga akan berusaha sekuat tenaga," celetuk Bisma pada keinginan mama mertuanya itu. Sedangkan Kia, hanya melotot menatap mereka semua yang amat antusias mendoakan keduanya untuk segera diberi momongan.
"Haduh, mati aku. Bakalan ada yang gencar menanam benih kalau begini," cicit Kia dalam hati.
__ADS_1