Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Cieee, keramasan.


__ADS_3

Akia bangun pagi sekali hari ini. Dengan kaos oblong dan hotpantsnya, Ia turun menghampiri Bi Is dan yang lain untuk membantu mereka nenyiapkan sarapan. Sekaligus, belajar mengetahui apa saja yang Bisma suka dan tak suka.


Bi Is pun amat ramah pada Kia. Mereka cepat akrab dan dengan mudah bekerja sama, dan yang lainpun begitu. Kia sama sekali tak segan bertanya jika ada sesuatu yang tak Ia mengerti tentang masak memasak. Maklum, selana kabur dan tinggal di kost, Ia hanya masak seadanya dan kadang beli sayur matang dikantin. Itu mempermudah hidupnya selama pelariannya dari sang ayah.


Kia beralih sejenak dari dapur. Ia membersihkan meja makan dan merapikan ruang tamu yang berantakan karena semalam bermain dengan keponakannya. Biasanya para Asisten membersihkan malam hari, sekaligus mengepel karena menghindari terpelesetnya Bisma. Tapi malam tadi, mereka seperti kelelahan hingga istirahat lebih cepat dari biasanya.


"Non, biar Bibi saja atau Mba Ani yang nyapu ngepel. Nona duduk saja santai, atau mandiin Mas Bisma." tegur Bi Is padanya.


"Mas Bisma belum bangun, Bi. Masih lelap banget kayaknya. Biarin deh, Kia beresin. Daripada nganggur, kan?" jawab Kia padanya. Ia pun terus membereskan semua ruangan dirumah besar itu, bahkan hingga ke kolong meja dan kurisnya.


Sepertinya tak lelah pasca pertempuran semalam. Apalagi, itu yang pertama bagi Kia yang harusnya Ia masih lemas dan sedikit perih di intinya. Tapi Kia memang lain, Ia tak pernah manja meski Bisma selalu akan memanjakannya.

__ADS_1


"Cieee, yang keramasan. Uhuuu!" siul Surya saat menemui Kia ditempatnya. Ia yang baru saja mandi dan keluar untuk mencari barangnya dimobil, bertemu Kia yang rajin tengan membersihkan rumah. Wajahnya tampak cerah, dengan bibirnya yang merona indah. Begitu segar dipandang mata surya yang sepet karena istrinya.


"Apa urusanmu kalau aku keramasan? Urusin saja istri dan anakmu, yak! Aku males,"


"Ngga usah sok ngga kenal gitu, Ki. Biar bagaimanapun, kita itu..."


"Iya, aku inget. Inget semua malahan, apalagi saat kamu tinggal aku pas aku butuh kamu. Untung aja ngga aku kejar,"


"Aku kejar kamu, mayan kalau Dua jutaku balik. Bisa beli skincare sama yang lain, biar bisa semakin menyenangkan suamiku." jawab Kia dengan amat tenang.


Gleeek! Surya menelan salivanya dalam-dalam. Ia tak menyangka, setelah sekian lama tapi Kia masih saja ingat uang yang pernah Ia pinjam dulunya. Surya spontan kabur, dengan alasan dasi dan pekerjaan yang telah menunggunya.

__ADS_1


"Dasar... Masih aja ngga ada perubahan, Yak... Yak..." geram Kia pada mantannya itu.


Kia membereskan semuanya. Ia naik untuk mulai mengurus suaminya dikamar. Membantunya mandi sembari bersenda gurau sebentar menciptakan tawa antara keduanya. Tawa Bisma amat lepas pada sang istri. Andai Daksa dan Liana tahu, pasti mereka akan bengong melihat pemandangan itu.


"Aku mau kekantor hari ini,"


"Hah, emang bisa?" tanya akia. Bukan meremehkan, tapi Ia khawatir jika akan ada sesuatu dikantor.


"Bisa, bersamamu." ucap Bisma pada sang istri. Menghela napas lega, tapi Ia juga khawatir jika ikut kesana. Apalagi Bisma akan memperkenalkan kia sebagai istrinya.


"Kenapa, ngga mau?" tanya Bisma yang mendapati istrinya mendadak diam seribu bahasa. Meski tangannya masih terus bergerak untuk memakaikannya kemeja seperti yang telah dipersiapkan.

__ADS_1


"Bukan ngga mau. Tapi, rasanya belum siap." jawab Kia. Ia yang selama ini menjauh dari urusan hotel, kini justru harus masuk ke hotel yang lebih besar dari milik sang ayah.


__ADS_2