
Bisma tampak menuruti janjinya, bahwa Ia akan diam selama Daksa bekerja. Tapi tak hanya diam, Ia juga mencermati setiap laporan yang sengaja Daksa baca dengan jelas agar Ia bisa mendengarnya. Daksa pun membawanya untuk hadir ke beberapa rapat, dan mereka semua mengerti akan kondisi Bisma.
"Bagaimana kabarmu, Tuan Bisma?" sapa salah seorang rekan kerja padanya.
"Saya baik. Ya, meski tak sebaik yang terlihat saat ini." jawab Bisma, yang tersenyum meski sulit dengan keadaan nya. Bahkan memberi salam pun Ia butuh bimbimbingan atau sang kolega yang menyambut tangan kanan nya terlebih dulu.
"Saya tahu, Anda adalah orang kuat. Apalagi, ada Daksa yang selalu disamping anda dan menemani sampai seperti ini." puji sang kolega pada pada tangan kanan kebanggaan nya itu.
Ya, Bisma hanya mengangguk dan megiyakan semua yang diucapkan. Karena memang Daksa begitu membanggakan baginya saat ini. Tak ada yang bisa Ia percaya selain Daksa sebagai tangan kanan nya.
" Saya doakan, agar Tuan segera me dapat donor untuk mata anda. Dan segera sembuh untuk kembali mengikat kerja sama antara kita."
"Terimakasih, Tuan Mark." balas Bisma padanya.
__ADS_1
Daksa meminta Liana untuk membawanya istirahat sejenak di ruangan. Ia tak boleh terlalu lelah, karena kondisi kepala yang terbentur pun seperti nya belum sembuh benar. Tampak ketika Bisma sesekali merintih dan memijat dengan tangannya sendiri. Tapi Ia menolak, jika diajak untuk melakukan Rontgent ulang pada bagian yang nyeri.
"Ada yang Bapak inginkan?" tawar Liana, dengan segelas air putih di tangan nya. Tak lupa membantu Bisma untuk meminumnya, karena mendengar tenggorokan nya sudah kering karena semua obrolan dalam rapat yang Ia jalani.
Wajar saja, karena hampir setahun Ia vacum dari kehidupan kantornya yang melelahkan. Tapi, selalu dirumah juga tak kalah lelah di bandingkan semua aktifitas yang ada.
"Tak ada, Liana. Aku hanya akan istirahat sejenak, dan bangunkan ketika akan pergi."
"Anda ikut? Rapat nanti akan diadakan di luar. Saya takut jika Anda..."
"Baiklah," angguk Liana yang pasrah. Kemudian meninggalkan ruangan itu dengan Bisma yang tidur di sofanya.
Bisma belum mencium keberadaan Surya saat ini. Ia sibuk, atau hanya sekedar meliburkan dirinya seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang Bisma perintahkan pada beberapa petinggi yang ada. Bahwa jangan pernah melihat Surya sebagai adik iparnya, tapi pandanglah Ia sebagai pegawai di hotel. Agar semua dapat menilai dengan apa adanya yang Surya lakukan.
__ADS_1
Bisma bangun setelah Ia merasa istirahatnya cukup. Kebetulan saat itu, Daksa juga baru keluar dari ruang rapat dan duduk sejenak untuk meregangkan ototnya. Liana pun datang, untuk membantu Bisma mengganti pakaian nya yanh mulai berkeringat. Tak ada bau. Hanya saja itu memang kebiasaan Bisma yang kurang nyaman dengan keringat yang terlalu basah ditubuhnya.
"Beginilah, kalau suka nge Gym." puji Liana pada tubuh atletis Bisma yang sama sekali tak memudar dengan aktifitasnya yang berubah.
"Kau lihat apa? Bukan kah, kau sering lihat?" ucap Bisma padanya.
"Saya sering lihat. Dan apakah, perawat itu keluar karena menahan rasa agar tak jatuh cinta pada Bapak?" goda Liana, mengundang tawa Daksa dari tempatnya.
"Haish, Kau ini!" geram Bisma, nyaris menyentil dahi Liana. Tapi, wanita itu keburu menghindar darinya.
Obrolan mereka sudahi. Daksa kembali membawa Bisma untuk keluar dari ruangan nya. Mobil pun telah menunggu di bawah untuk mengantar mereka ketempat tujuan. Keduanya masuk, dan kali ini Liana menggandeng tangan Bisma sepanjang perjalanan. Sedangkan Daksa mendahului karena nyaris telat dari jadwal mereka.
Suara langkah kaki, berjalan dengan begitu cepat. Dari aroma tubuhnya, Bisma sangat mengenali itu dan langsung menyunggingkan senyum di ujung bibirnya. Apalagi, jika langkahnya semakin terasa mendekat.
__ADS_1
Buuuuggghh! Ia kembali menabrak Bisma untuk kesekian kalinya.
"Aaakh, sakit." lirihnya mengelus kepala yang menabrak tepat di dada keras Bisma. Ia pun mendongak kan kepala, dan nyaris terjungkit ketika lagi-lagi bertemu dengan Bisma di saat yang tak tepat.