Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Antara lebih lama dan lebih hebat


__ADS_3

"Berapa lama lagi konser itu diadakan?" tanya Bisma pada Daksa. Saat ini keduanya tengah berdiri menghadap jendela kaca yang luas itu, dan Daksa menggambarkan semua suasana yang ada menjelang konser yang akan datang.


"Dua bulan lagi," jawab Daksa. Suasana dibawah sana sudah amat ramai, dengan para pekerja yang tengah mempersiapkan konser yang akan datang di lapangan besar yang mereka miliki.


 Lapangan yang amat luas dengan panggung yang telah dibuat dengan apik sesuai tema dari para sponsor untuk menyambut grup itu konser disana. Kamar hotelpun sudah nyaris fullboking oleh para fans nya sesuai dengan jadwal yang di tetapkan. Liana dan semua stafnya tampak amat sibuk untuk membuat souvenir untuk para penikmat kamar itu nantinya, dan karena kehebohan itu bahkan harga sewa kamar naik nyaris Dua kali lipat daripada biasanya. 


"Ayah mertuamu masih kekeuh untuk tak ikut andil dalam event ini." ujar Daksa, menceritakan semua penolakan dari sang mertua. 


"Ia tak mau jika ada bayang-bayangmu dalam kehidupannya. Entah kenapa, dia sepertinya amat membencimu," Daksa menghela napas panjangnya. Ia ingin kasihan, tapi Ia tahu jika Bisma lebih bahagia dari dirinya saat ini. Hingga Ia menyimpulkan bahwa, yang harus dikasihani adalah dirinya sendiri sekarang.


"Biarkan... Biarkan dia berjalan sesuai keyakinannya, dan tak usah lagi diyakinkan. Aku ingin tahu, bagaimana bisa bertahan sejauh ini."


Pak arman memang lebih dulu berkecimpung dalam dunia perhotelan, tapi Bisma lebih hebat dalam pengelolaan. Terbukti dengan Prada yang semakin naik dan tak terpengaruh dengan kebutaannya saat ini. Semua kolega sudah amat percaya dengan semua kinerja yang Bisma lakukan, apalagi dengan Darma selaku orang kepercayaan yang selalu bisa diandalkan.

__ADS_1


Daksa membawa Bisma kembali duduk, dan mereka membicarakan pekerjaan lagi saat ini. Terbesit rindu dihati Bisma pada istrinya, dan Ia meminta izin Daksa untuk menelponnya kali ini.


"Ya... Aku akan ambil minum untukmu sebentar. Kau hapal nomornya?" tanya Daksa, dan dibalas anggukan paham dari Bisma.


"Hay, sayang... Kau sedang apa?" tanya Bisma dengan suara yang amat lembut pada istrinya.


"Mas... Kia baru aja tiduran Sena, dia rewel daritadi." jawab Kia dengan suara lelahnya. Bisma jadi merasa tak enak karena mengganggu jam istirahat sang istri siang ini.


"Massss!" kesal Kia dari arah sebelah. Ia kesal, karena Bisma belum bisa mesra atupun romantis padanya. Bisma terlalu kaku, meski kadang manis jika sedang berdua dikamar.


"Ya, sayang?"


"Tanyain, udah makan belum, sekarang lagi apa, apa kek biar perhatian..." celotehnya. Ia memang sangat butuh perhatian, apalagi dari suaminya yang memang mulai amat Ia sayangi. Rasanya Kia mulai takut jika harus kehilangan Bisma, dengan segala kemungkinan yang terjadi. Apalagi, sepertinya satu persatu tabir dan misteri keluarga akan mulai terbuka.

__ADS_1


Bisma tersenyum dengan celoteh sang istri. Ia sadar, memang ia belum memiliki pengalaman memanjakan wanita karena tak pernah pacaran selama ini. Apa yang Ia lakukan pada kia, itu murni insting dari jiwa lelaki dewasa yang Ia miliki, dan itu tak perlu dipelajari secara khusus pada seorang guru.


"Iya, sayangku... Kia sedang apa? Sudah makan siangkah?" tanya Bisma menahan tawa.


"Kia belum makan siang, karena belum sempet. Mas, kayaknya Sena demam deh. Daritadi anget," balas Kia melaporkan kondisi keponakannya itu. Ia sudah melakukan semua tindakan, mengcek suhu tubuh, mengompres, dan memberi obat penurun panas. Tapi sena seperti ingin Mamanya saat ini, hingga terus mengis membuat Oma dan Kia bergantian menggendongnya. 


"Oma sampai ketiduran di sofa," imbuh Kia dengan suara lelahnya. 


Bisma kasihan saat itu. Terlebih lagi dengan keponakannya yang merindukan sang mama karena memang usianya yang masih bayi. Namun, Ia juga tak ingin segera degan mudah mencabut hukumannya pada Jinan. Ia ingin adiknya sadar jika hidup tak senaif yang Ia bayangkan.


"Aku... Akan membiarkan Jinan pulang lebih cepat sore ini, semoga bisa membuat Sena tenang." harap Bisma. Ucapan terimakasihpun terlantun dari bibir manis Kia, dan suaranya membuat Bisma semakin rindu dan ingin segera pulang.


"Rasanya... Aku ingin segera memakannmu," goda Bisma pada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2