Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Masa berkabung


__ADS_3

"Mau kemana kamu, Kia?" tegur surya saat Kia telah tampak rapi dan menyandang tas keluar dari rumah. 


Ini sudah Tiga hari sejak Bisma dinyatakan hilang dari kapal, dan masih dalam suasana berkabung. Tapi kia justru berdandan cantik dan akan keluar dari rumah itu entah kemana.


"Aku ingin kerumah ayah, kenapa?" Kia membalas dengan wajah judesnya, dan itu membuat Surya makin geram dan merasa tak Ia hormati saat ini. Ya, setelah Bisma pergi surya bertindak seolah menjadi kepala keluarga yang baik saat ini. Tak lain dan tak bukan adalah untuk menarik simpati Jinan dan Oma.


"Kamu ngga bisa menghormati masa berkabung? Ini belum Empat puluh hari, Kia!" bentak surya padanya.


"Suamiku belum meninggal, Surya. Jasadnya bahkan belum ditemukan sama sekali. dan belum ada surat keputusan dari pihak berwajib."


"Lalu apa yang kamu harapkan dari pria buta yang tercebur kelaut? Kamu berharap dia masih hidup?" tukas Surya.

__ADS_1


Saat itu Ia amat yakin jika Bisma sama sekali tak selamat dari peristiwa itu, karena Ia sempat mengamati selama beberapa lama dan Bisma tak kunjung menyembul ke permukaan. Dan jika seperti itu, maka Ia simpulkan jika Bisma sudah tenggelam dengan amat dalam


"Lagipula, siapa yang bisa naik dan bernapas saat sudah tenggelam dengan begitu dalam?" gumam Surya, yang kebetulan didengar oleh Kia.


"Kamu tahu seberapa dalam air itu? Atau kamu tahu, sudah berapa lama jarak Mas Bisma tercebur disana? Apa kamu tahu?" tatap Kia dengan tajam, bahkan berjalan perlahan mendekati adik iparnya itu. Tak dipungkiri, saat itu Surya tampak gugup dan berusaha membuang muka saat Kia memperhatikan matanya dengan detail. 


"Kamu mau nuduh aku apa? Aku semalaman tidur, bahkan saat kalian berpesta dan bermesraan dipinggiran kapal."  kilah Surya. Kia hanya menganggukkan kepalanya sejenak, lalu diam untuk kembelia melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.


Kia pergi sendiri tanpa ditemani siapapun menggunkan mobil kesayangan Bisma. Entah kemana, dan siapapun tak ada yang tahu soal itu. Surya juga curiga jika Kia bohong dengan alasan pulang kerumah ayahnya.


"Papa kenapa?" heran Jinan pada suaminya itu.

__ADS_1


"Itu, Kia. Dia sembarangan keluar terus sebebas itu, alasan mau kerumah ayah. Belum Empat puluh hari aja udah begitu, ngga ada hormant-hormatnya." geram surya.


Jujur, sebenarnya Jinan juga tersinggung oleh ucapan surya saat itu karena Ia yakin Kakaknya masih hidup dan ada disuatu tempat. Hanya saja Ia ingat ucapan Daksa dan Kia yang mengharuskannya tetap tenang dan menuruti semua maunya surya saat ini.


"Eh iya, sayang. Aku dan pengacaraku sudah membuat surat pengalihan perusahaan. Nanti kamu tanda tangan, ya? Aku ngga ada niat mau kuasain, hanya mau bantu jaga agar tetap stabil. Soalnya, kalau perusahaan tanpa Direktur itu akan mudah goyah. Lagian kam sibuk, jadi mana mungkin kamu yang ambil alih." bujuk surya dengan nada yang begitu manis. 


Jinan kali itu hanya mengangguk, meski Ia amat berat untuk melakukan semuanya saat ini. Tapi surya terus mendesak dirinya, dan terus mengeluarkan jurus mautya yang selalu membawa sang anak dalam pembicaraan.


"Yaudah, besok Kak Daksa juga Jian suruh kesini , biar..."


"Kenapa harus dengan Daksa? Dia ngga ada hubungan keluarga dengan kita. Kamu selalu bawa-bawa dia sih? Kamu masih ada rasa?" tukas Surya.

__ADS_1


Kepala Jinan terasa menyut saat surya mulai berani menuduhnya macam-macam. Ia ingin marah dan membentak pria itu, tapi Ia tahan demi semua rencana mereka. Apalagi Ia hanya bertiga  dengan suami dan anaknya disana, dan Oma pergi kerumah adiknya untuk mengungsi dan menenangkan diri dengan semua kekalutan yang ada. 


"Yaudah, bertiga sama pengacara kamu aja." pasrah Jinan pada akhirnya. Surya melenkungkan senyumnya, lalu memeluk erat istri dan anaknya itu. 


__ADS_2