
"Aaah... Capek," keluh Jinan yang tengah memijati betisnya sendiri. Rasanya bengkak, dan tumitnya lecet karena terlalu banyak bergerak mengenakan heelsnya yang tinggi. Ia ingin segera kembali kerumah dan tidur dengan nyaman, tapi lagi-lagi harapannya harus sirna mengingat adanya Sena dirumah itu.
"Aish... Lupa kalau udah punya anak," rengeknya lagi, membayangkan betapa malang nasibnya kali ini. Ia yang biasa menjadi tuan putri dengan segala fasilitas yang ada, kini harus merasaan bagaimana susahnya bekerja dan mencari uang dengan bekerja seperti ini. Sangat tak pernah Ia bayangkan jika Kakaknya memberi pelajaran yang tak pernah tanggung padanya begini.
"Kau kelelahan?" tanya Daksa yang datang memnberikan sebotol minuman padanya. Iapun duduk di depan Jinan yang masih merintih perih dengan kakinya, belum lagi tengkuk dan pinggang yang rasanya ingin patah karena semua pekerjaan itu.
"Udah tahu, kenapa pake nanya? Udah, lanjutin laporannya ke Kak Bisma. Biar dia tersenyum puas dan behagia mendengar Jinan tersiksa begini," tukas Jinan, meneguk air segar yang ada didepan matanya itu.
Tak perlu membuka, karena Daksa telah mengendurkan tutup untuk mempermudah dirinya membuka botol. Daksa paham bagaimana Jinan sebenarnya karena sejak kecil mereka selalu bermain bersama saat Ayahnya masih bekerj seperti Daksa dan Bisma saat ini. Ia juga amat tahu, bagaimana Jinan selalu dimanja dan bagaimana sayangnya Bisma pada adiknya. Meski Ia tak pernah mengungkapkan itu dengan sebuah kata-kata atau tindakan romantis seperti yang sering Ia lihat diluar sana.
__ADS_1
"Bisma tak pernah ingin jika kau tersiksa, tak pernah." tatap Daksa datar pada arah didepan matanya.
"Belain aja terus. Toh, Kak Daksa digaji gede buat urusin Kak Bisma kan? Jadi, Kak Daksa harus selalu bela dia sesalah apapun itu." tukas Jinan yang masih saja berfikiran buruk mengenai Bisma.
"Aku tunduk dalam pekerjaan, itu memang benar. Tapi sebagai sahabat, aku wajib mengingatkan jika Ia melakukan kesalahan, atau bahkan menegurnya dengan keras untuk kebaikannya."
"Jadi, Kak Daksa setuju saat Kak Bisma memperlakukan Jinan seperti ini?" tatapnya nanar pada pria yang sempat Ia kagumi dimasa kecilnya itu. Yang bahkan Ia sempat memiliki cita-cita untuk mengajak pria itu menikah saat dewasa nanti, namun sayagnya tak berhasil. Ia justru menikah dan terjebak semua ini karena menikah dengan surya.
"Ya, karena tak lain akulah yang memberi saran meski Ia yang tak tega pada awalnya. Tapi karena kau tak kunjung berubah, Iapun menyetujuinya." ucap Daksa dengan jujur, dan seketika membuat Jinan tercengang padanya. Untung saja tak tersedak, dan menimbulan kegiatan aneh bagi keduanya seperti yang sering terjadi di sinetron televisi. Karena tak lama saat itu, Surya datang menjemput Jinan untuk pulang bersamanya.
__ADS_1
"Udah selesai? Kenapa ngga kasih tahu? Aku nungguin kamu daritadi," omel Surya yang tak kalah lelah dengannya. Ia meraih minuman Jinan dan menyeruputnya dengan amat rakus karena Ia juga haus dan dalam kondisi kantong yang cukup kering saat ini.
"Aaah... Mana gajian masih lama lagi," gerutunya. Yang entah sadar atau tidak pada kehadiran Daksa disana. Berkacak pinggang seperti seorang juragan empang kaya raya, padahal hidupnya tak seberapa. Jinan mendelik, mengisyaratkan suaminya agar sedikit sopan saat itu.
"Apa?! udah diluar jam kerja kan? Bebas lah." sergahnya.
"Sudah, Jinan... Kakak udah biasa lihat dia begini, asal jangan didepan kolega besar saja." tukas Daksa, yang lantar membuat Jinan malu dengan tingkahnya.
Jinan berdiri dan meminta maaf pada Daksa, kemudian pergi menggandeng tangan surya untuk pergi dari sana. Meski sebenarnya, ada banyak pertanyaan yang ingin sekali Iautarakan pada Daksa saat ini.
__ADS_1
Selama ini Ia selalu dirumah, dan sangat jarang bertemu orang lain hingga pandangannya hanya tertutup pada surya dan anaknya. Ia tak pernah tahu bagaimana diluar sana, bagaimana bisma dan bagaimana semua yang hidup diluar dirinya. Yang hanya dengan ucapan Daksa saja, isi fikirannya baru berkembang untuk mencari tahu semuanya.
"Kalau bener sayang, kenapa serasa dibuang?" tanya Jinan dalam hati.