
"Kenapa justru kau yang datang?" tanya Surya, yang saat ini seolah tengah menampakkan wujudnya yang asli. Benar saja karena Ia saat ini tengah mabuk dan dikuasai kegilaan di dalam kepalanya.
" Seorang pria menelpon istri orang lain tengah malam. Justru aku yang harusnya bertanya apa maksudmu saat itu. Kau masih menginginkan istriku?" tanya Bisma terang-terangan. Karena saat seperti ini, memang Surya tak bisa dikendalikan dengan kuasa yang Ia miliki. Bahkan mengingat anak istrinya pun tidak dalam keadaan mabuk begitu.
"Ya... Aku menginginkan Kia. Kenapa? Kau mau memukulku? Sini, pukul aku disini." Surya mendekat, meraih tangan Bisma dan memukulkan nya dipipinya sendiri. Bisma hanya diam, mengerenyitkan dahi dengan bau alkohol yang amat kental tercium dihidungnya saat ini.
"Kau gila, Surya. Lantas kau anggap apa adik dan keponakanku itu!!" sergah Bisma yang mulai terpancing amarahnya.
"Sena anakku... Iya, Dia darah dagingku dan aku mengakui itu. Tapi untuk Jinan? Dia tak berarti apapun untukku, Bisma. Kau tahu, Dia bahkan sudah tak suci lagi saat aku..."
__ADS_1
Buuggh!! Sebuah bogem melayang di rahang Surya, hingga Ia tersungkur ke lantai dan terpental cukup jauh karenanya.
"Ciiih!! Aku berdarah lagi. Dan aku ingat jika ini kau lakukan saat tahu aku menghamili adikmu tahun lalu." gerurtunya, berusaha berdiri dari tempatnya saat itu.
Mencium aroma Surya mulai mendekat, Bisma mulai mengambil ancang-ancang dengan tongkat ditangannya. Surya tertawa menatapnya, terdengar seperti tengah mengejek sang kakak ipar butanya saat ini.
"Dulu aku ingin lari saat ternyata Jinan hamil, karena aku takut jika kau akan membunuhku saat itu. Tapi salah, rupanya kalian memintaku menikahinya. Meski sebenarnya tak siap dan awalnya tertekan karena semua terpaksa, tapi aku berusaha berffikir positif dengan semuanya. Aku miskin, semua serba pas-pasan dalam hidupku, bahkan untuk biaya kuliah saja aku harus bekerja sekeras itu sendiri. Bahkan saat aku amat mencintai Kia, Ayahnya sama sekali tak melihatku karena semua kondisi yang ada. Sakit rasanya kala itu,"
Surya tengah menceritakan kemalangan hidupnya saat ini. Dan meski berusaha menjadi pendengar yang baik, Bisma tetap waspada dengan adik iparnya itu. Ia selalu meningkatkan isntingnya untuk menangkap pergerakan Surya disekitarnya.
__ADS_1
"Kau sakit saat miskin, tapi kau tak memanfaat kesempatan yang ku berikan untuk menjadi lebih baik, Surya. Harusnya itu bisa merubah hidupmu," balas bisma.
"Kata siapa tidak? Aku sudah berusaha dengan baik pada semua yang kau berikan. Saat ku fikir dengan menikahi anak konglomerat, minimal aku mendapat jabatan tinggi dihotelnya. Tapi rupanya, hanya manager dan itu manager dengan tingkatan paling rendah. Jadi apa gunanya semua itu jika aku masih harus bekerja sekeras itu seperti saat aku susah? Sama sekali tak bisa dimanfaatkan," racau surya, yang sudah terdengar lemah saat ini.
Ceritanya makin panjang dengan segala curahan hatinya yang terdalam, saat Ia masih harus ditekan dengan segala pekerjaan dan Ia lakukan demi meraih hati Bisma. Tapi masih juga tak dianggap dan selalu merasa jika Bisma akan terus merendahkan dirinya saat itu. Tak pernah dihargai meski sekuat apapun Ia bekerja dan berusaha. Itu yang mengganjal hatinya selama ini.
"Dan sat bekerja keras tak dihargai, maka aku akan bekerja dengan santai!! Hahahaha!!! Tetap santai, dan uang terus masuk kedalam rekeningmu tanpa henti. Baru itu namanya memafaatkan kesempatan." Surya menyeringai dengan bangganya. Ia tertawa tapi entah apa yang Ia tertawakan saat itu. Hanya saja Bisma menangkap arti yang berbeda dari apa yang Ia ucapkan.
"Kau korupsi dihotelku?" tanya Bisma. Lantas surya diam, dan langsung menatapnya dengan nyalang dan penuh kebencian.
__ADS_1