
"Tuan, Saya perlu waktu untuk berfikir. Dan setidaknya, Saya perlu bediskusi dengan Ayah saya. Bisakah memberi waktu?" Kia akhirnya berbicara dengan sedikit lembut, demi sebuah permohona pada Bisma. Membuat Bisma kembali tersenyum, dan mengagumi suara indah yang Ia nanti kan sejak awal pertemuan nya.
"Baiklah... Waktumu hanya beberapa hari setelah ini. Aku tahu, apa yang tengah dihadapi Ayah mu belakangan ini."
" Anda mengancam?"
"Tidak.. Aku hanya ingin membantu. Tapi, aku juga butuh kepastian darimu untuk mengambil sebuah keputusan."
"Sama saja Anda meminta Ayah menggadaiakan diri saya untuk Anda, Tuan. Anda sama saja dengan pria kaya lain, yang hanya memanfaatkan kesultan orang untuk obsesinya."
__ADS_1
Di saat ini, Bisma seolah merasa bersalah dengan apa yang Ia ucapkan. Tedengar sebuah nada kekecewaan dari apa yang Kia ucap dari bibirnya. Suaranya yang mulai parau, mendandakan Ia pun tengah menahan air mata yang seolah akan jatuh membasahi pipi nya yang pasti akan begitu menyakitkan jika terlihat oleh mata nya.
"Hey... Aku hanya... Aku... Aku minta maaf, " Sesal Bisma, dengan apa yang tengah terjadi pada Kia. Sedangkan gadis itu hanya diam dan tak ingin mengucapkan sepatah kata ppun untuk membahasnya. memilih mencari keberadaan sang adik sambung dan memintanya mengantar nya pulang saat ini juga.
"Kakak ngga papa?" tanya Nanda, yang mulai cemas dengan kondisi Kia.
"Aku minta pulang, jangan banyak bertanya." ucap Kia, yang kembali ketus pada adiknya. Nanda yang hanya bisa tertunduk dan mengangguk, lalu pamit pada Daksa dan Bisma sebagai perwakilan Kia.
"Permisi, Tuan." ucap Nanda, lalu berlari mengejar langkah Kia yang berjalan begitu cepat dan jauh meninggalkan nya.
__ADS_1
Daksa seketika menatap pada Bisma. Di wajahnya, terdapat bulir bulir penyesalan yang mendalam. Ia murung. Dan andai bisa, Ia pasti akan mengejar Kia dengan sejuta kata maaf yang akan Ia ucapkan padanya. Bahkan jika perlu berlutut di hadapan gadis yang begitu Ia inginkan untuk menjadi istrinya itu.
"Aku, salah." ucap Bisma dengan nada yang begitu berat di tenggorokan nya. Daksa tak menampik, jika kali ini Bisma tampak begitu tulus dengan perasaan nya pada Akia. Ia pun tak tega, melihat sahabatnya seperti ini dengan segala kelemahan yang Ia miliki.
"Kau lelah. Aku kan mengantarmu pulang terlebih dahulu. Setelaah itu, Aku akan kembali ke hotel untuk melanjutkan perkejaan." Bisma hanya mengangguk pasrah, dengan apa yang Daksa katakan padanya. Ia merasa begitu lemah saat ini, karena tak dapat memperjuangkan sendiri apa yang benar-benar Ia inginkan.
"Kak... Kakak kenapa? Kok sedih?" Nanda memberanikan diri untuk bertanya, karena sejak tadi Kia hanya murung dan bersandar di kaca jendela dengan tatapan kosongnya.
"Apa yang terjadi, dengan hotel Ayah saat ini?" tanya kia, di sela diamnya. Meski tanpa menoleh sama sekali pada adiknya.
__ADS_1
"Hotel? Kalau itu, Nanda ngga terlalu tahu. Nanda bergerak di bidang yang lain, tanpa berfikir merambah mengenai keuangan. Semua, Kak Arum Asisten Papa dan Papa sendiri yang mengatur dan mengelola nya. Maaf, karena Nanda belum berani bertindak terlalu jauh dalam hotel itu." jawab Nanda panjang lebar. Kia hanya mencebik kesal, karena tak puas dengan pa yang Nanda infokan padanya.
Akia kembali memilih untuk memejamkan matanya, berusaha melupakan segala rasa kesalnya pada pria itu. Yang Ia akui, meski seperti itu tapi Bisma memang begitu tampan dengan segala kesempurnaan yang ada. Hanya cahayanya yang menghilang, dan mungkin juga Ia tengah mencari nya saat ini. Entahlah... Kia merasa, jika pun Bisma menginginkan nya, tapi ia tak akan prrnah bisa menjadi cahaya indah seperti yang Bisma inginkan.