
"Kak, maafin Papa." ucap nanda dengan tak enak hati. Sayangnya, Kia hanya menghela napas dan diam mendengar semua ucapan dari adik tirinya itu. Ia lelah, dan hanya ingin memejamkan matanya saat ini dan tak ingin terlalu larut dalam segala kesedihan yang ada. Nanda berusahan mengerti dan Ia izin keluar setelahnya.
Terdengar suara surya pulang kerumah. Dilihat dari raut wajahnya amat lelah dengan rambut yang acak-acakan dengan kantung mata menghitam. Seperti Ia telah bekerja keras untuk membatu dalam proses pencarian Bisma saat itu.
Jinan langsung menghampiri dengan menggendonga Sena didepan, "Gimana perkembangannya?"
"Hmmm? Sama sekali ngga ada tanda-tanda Kak Bisma didalam lautan. Hanya menemukan sepatunya terapung begitu jauh, dan itupun hanya sebelah." jawab Surya dengan bersadar lelah dibahu kursi.
"Atau Ia sudah tersesat disebuah pulau terpencit, dengan kepala terbentur dan lupa ingatan seperti yang sering ku lihat di sinetron Mamak ku dulu?"gumam surya dalam hati. Lebih tepatnya tak hanya bergumam, tapi Ia justru berharap akan demikian karena Ia tak ingin i.jika Bisma sampai kembali lagi.
"Tunggu sampai pengumuman resmi dibacakan, baru kita akan mendakan tahlilan."
"Kau kira suamiku mati?" tanya Kia, yang ternyata mendengar dan saat ini telah keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Kak Kia?" lirih Jinsn menatapnya sendu. Ia segera menghampiri dan memapahnya untuk duduk dan bergabung membahas Bisma bersama mereka.
Surya hanya diam, menggaruki kepalanya tanpa berani menjawab lagi.. Baginya, tatapan Kia amat menakutkan saat ini.
"Kenyataannya, Kia. Kamu harus berusaha dan bersiap untuk ikhlas akan kehilangan," tukas Surya, berusaha menasehati.
"Jangan ajarkan aku arti ikhlas, Surya. Kamu tahu hancurnya hidupku saat itu, tapi kamu memilih pergi." balas Kia.
"Sayang, tolong beri aku surat kuasa untuk menjalankan perusahaan mulai besok. Karena setelah Bisma pergi, maka kau yang akan menjadi pemegang perusahaan. Dan itu tak mungking, kan? Ada sena, dan kau..."
"Kenapa tak mungkin?" tanya Kia, yang memotong ucapan Surya saat itu. Padahal Jian pun baru ingin menjawab semuanya agar surya tak terburu-buru mengambil sebuah keputusan yang akan memperburuk keadaan. Dan jinan sadar, disinilah kedewasaan dalam pemikiriannya akan diuji.
"Hey, Kia. Kau tak tahu apa-apa, maka diamlah sejenak. Bukan kah kau sedih? Maka dari itu, kembalilah kekamarmu dan istirahat saja disana." balas surya dengan sedikit keras.
__ADS_1
Jinan mengerenyitkan dahinya melihat ekspresi sang suami. Saat itu Ia seperti pria yang berdiri dengan segala ambisinya dan akan sulit untuk dinasehati, apalagi dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Ia tak seperti surya yang pernah Ia kenal selama ini.
"Pa... Masuk," pinta Jinan pada suaminya.
Surnya hanya mendengus napas kesal, dan berdiri langsung masuk kekamarmya untuk istirahat saat ini. Ia tak perduli apapun, hanya ingin tidur tanpa gangguan dari orang lain termasuk istri dan anaknya sendiri.
"Kak, maafin Papanya Sena. Dia cuma,..."
"Selalu ikuti ucapan Daksa, Jinan. Biar kamu tahu bagaimana suamimu," ucap Kia lirih.
Sebenarnya sakit membayangkan saat Ia mengikuti semua rencana yang ada. Ia sempat takut kehilangan surya, dan anaknya akan besar tanpa ayah saat itu. Tapi, semua memang harus berjalan sesuai rencana agar kehidupan mereka kembali baik.
"Kau tak perlu takut, ada Aku disini." ucap Kia, memeluk keduanya saat itu.
__ADS_1