Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Tangan nackal


__ADS_3

"Mas, hari ini kekantor?" tanya Kia yang tengah membantu Bisma untuk mandi. Entah kenapa rasanya Kia tak ingin ditinggalkan oleh Bisma hari ini.


"Aku ada beberapa pertemuan bersama Daksa dan Liana. Kenapa?"


"Engga, hanya saja... Rasanya Kia ngga mau ditinggal hari ini." ucapnya dengan amat manja. Menggosok tubuh Bisma dengan sabun beraroma menyegarkan. Amat cocok untuk relaksasi tubuh Bisma yang tampak lelah itu.


"Kita sudah ada perjanjian, bahwa saat menghukum Jinan maka kau asuh sena dirumah. Ingat?" Ucapan itu hanya dibalas anggukan Kia. Memang telah perjanjian dan Ia akan mengasuh keponakannya itu selama hukuman berlangsung. Berharap Jinan sadar dari segala egoisnya dan tak keras hati lagi sepert biasanya.


Kia membilas tubuh basah itu, dan kini tak segan untuk mengecup dadanya yang bidang. Itu semua membuas Bisma geli dan sedikit tertawa dengan tingkah sang istri. Rasanya semakin tak sabat untuk Ia mendapat donor kornea dan dapat melihat istrinya.


"Apakah ada kemungkinan sembuh tanpa donor?" tanya Bisma pada Kia. Ia amat berharap adanya keajaiban yang datang dan membantu dirinya saat ini. Amat sangat ingin, karena banyak yang harus Ia selesaikan.

__ADS_1


"Agak mustahil, tapi tak ada salahnua berharap. Doa kia selalu ada buat Mas Bisma,"


Ingin rasanya memeluk, tapi sadar tubuhnya basah. Ia pun keluar untuk mengganti pakaiannya dengan apa yang telah Kia siapkan diatas ranjang, sementara Kia sendiri tengah gantian untuk mandi. Ia hanya khawatir jika Sena masih seperti kemarin, belum mandi karena Papa dan Mamanya sibuk sendiri.


Dan benar saja semua dugaan Kia. Bahkan Jinan sudah berani mengantar sena kekamarnya untuk Ia urus, sementara Ia ingin berdandan sendiri dikamarnya.


"Mandiin anak udah ngga sempet lagi?" tanya Kia yang masih dengan kimononya, menerima sang keponakan yang bahkan masih belum sempurna membuka mata.


"Ngga sempet, aku mau urus suamiku dulu."


"Udah deh, jangan mulai membandingkan. Lagian sena masih tidur, jadi aman kalau kamu dandan nanti." Jinan berlalu meninggalkan sang putra disana, Kia hanya mendengkus kesal lalu menaruh Sena diatas ranjangnya yang juga telah Ia rapikan. Bahkan Jinan memberikan sang anak lengkap dengan pakaian ganti dan susunya, seperti telah pasrah pada Kia untuk Ia asuh seharian ini.

__ADS_1


"Sena belum bangun?" tanya Bisma, saat Kia menghampiri untuk memasangkan dasinya.


"Belum, Mas. Jinan kenapa makin gini, malah ngga kelihatan rindu sama anak setelah bekerja." keluh Kia, yang menyayangkan sikap jinan yang acuh pada putranya. Padahal itu adalah masa emas, dimana harusnya diberi perhatian lebih dalam setiap perkembangan yang ada.


"Ini salah satu alasan aku memilihmu. Saat kau bisa ku percaya melebihi siapapun selain Daksa," kecup Bisma dikening istrinya. Ia tahu Kia masih dengan kimononya, dan rasanya gemas terhadap sesuatu yang belum tertutup rapat dibawah sana.


Tangan nakal itu mulai meraba dan mencari area favoritnya, tapi tangan itu segera ditepis sang istri dengan cukup keras.


"Aaakkh!" Bisma memekik dengan pukulan yang Ia terima.


"Makanya jangan nakal. Udah mau berangkat kerja, juga."

__ADS_1


"Betapa indah jika aku dapat melihatnya. Pasti sangat menggoda," Bisma mengangkat kedua tangan dan membentuk sebuah bulatan seolah Ia tengah memegangnya. Bulatan itu sesuai dengan apa yang hampir tiap hari Ia sentuh dan Ia nikmati setiap hari, tapi Iapun tak pernah puas dan kenyang melahapnya.


"Eeehhh! Apaa?!" Kia melipat tangan itu dengan pekikan, Bisma tertawa membayangkan ekspresi malu dari sang istri. Pasti wajahnya memerah saat ini dan sangat imut. Semua terbayang, karena Bisma telah paham dengan bentuk wajah Kia yang tergambar dari setiap sentuhan yang Ia berikan.


__ADS_2