
"Jinan... Balikin mobil Kakak," pinta Bisma, masih dengan suara lembut saat ini.
"Keterlaluan, ya? Jinan cuma mau pakai, salah juga. Kakak lagi ngga bisa pakai loh itu, jadi buat apa Kakak minta mobilnya? Mau buat istri Kakak ini? Setelah ini, apa yang akan Kia minta dari Kakak? Haknya dirumah ini?" omel Jinan dengan segala rasa kesalnya.
"Ya... Kalau Mas suami ikhlas, ngga papa sih kalau dikasih." sahut Kia, yang sontak membuat Jinan semakin terpancing amarahnya. Dalam hatinya mengumpat, dan bahkan ingin meraih rambut Kia dan menjambakinya hingga rontok dan botak.
"Kamu..." Jinan meminyirkan bibirnya menahan segala rasa kesal yang ada.
"Kakak hanya tak suka, barang pribadi Kakak kamu pakai seenaknya bahkan tanpa izin. Kamu seperti tak pernah diajarkan sopan santun, Jinan."
"Iya ngga pernah, kenapa? Papa sama Mama itu perdulinya sama Kakak aja, kan? Mana pernah perdulikan Jinan. Jinan disekolahin ditempat yang Jinan ngga suka. Jinan dilarang ini itu dan semua hanya Kakak yang di bolehin!" Jinan dengan suara bernada tinggi, hingga harus membangunkan Oma yang tengah istirahat dikamarnya dan keluar melihat semua itu.
"Oma? Oma kenapa keluar?" Kia langsung menghampiri dan membawa Oma duduk diantara mereka.
__ADS_1
"Jadi... Kamu anggap semuanya ngga adil bagi kamu?" tanya Bisma dengan nada yang amat santai, tak seperti Jinan yang terpancing emosinya saat ini.
"Iya... Papa Mama emang ngga adil sama Jinan. Bahkan untuk pergaulan saja dibatasi,"
"Dibatasi saja kamu masih bisa kebablasan, Jinan! Bagaimana jika tidak? Apa kamu akan punya anak tanpa tahu siapa Bapaknya?" kini Bisma yang tampak geram pada sang adik.
"Lantas, kamu mau apa dari semua ini? Mau keadilan? Mau hak kamu setara dengan Kakak?"
Jinan langsung melirik senang dengan apa yang Bisma katakan padanya. Harapannya tumbuh dan mekar seketika dengan apa yang Ia utarakan saat ini. Hampir satu tahun dalam semua kesulitan, meski hanya Ia yang merasa tak adil karena tak dimanja seperti biasanya.
"Loh... Kok gitu? Jinan ngga ada pengalaman dikantor, Kak. Kakak ngga bisa gitu,"
"Bisa... Karena ini keputusan Kakak. Mengenai sena... Kia dan Oma akan mengasuhnya dirumah."
__ADS_1
"Sena anak Jinan!"
"Yang bahkan tega kamu tinggal seharian bersama Oma?" sahut Kia yang akhirnya ikut bicara, saat mereka sudah membawa sikecil sena."
Suasana makin tegang, dan Oma tak mampu berkata apapun pada mereka. Oma hanya setuju pada Bisma yang akhirnya menindak adiknya dengan tegas. Karena selama ini Jinan memang tak pernah bersyukur dengan apa yang Bisma beri padanya.
Kurang apa lagi? Saat mereka menikah Bisma langsung memberikan sebuah rumah meski tak terlalu besar dan sebuah mobil untuk mereka. Tapi Jinan masih meminta pembantu dan segala kelengkapan lainnya karena Ia tak bisa mengurus semhanya sendiri. Wajar, anak manja dengan segala fasilitas mewah dalam hidupnya.
"Kakak jahat sama Jinan," ucap Jinan yang seolah masih tak percaya jika Bisma bisa seperti itu padanya. Lalu tatapannya beralih ke Kia, seperti tengah menuduh wanita itu sebagai dalang dari tegasnya Bisma padanya saat ini.
"Kakak hanya ingin kamu tahu, Jinan. Bahwa untuk menjadi seperti Kakak, tidaklah mudah. Tak seperti kamu yang mendapat semua fasilitas dengan gampang, tapi masih saja merasa kurang dengan segala pemberian yang ada. Kini, saatnya kamu tahu bagaimana rasanya mencari," tukas Bisma padanya.
Ia meraba dan meraih tangan sang istri, memintanya untuk kembali ke kamar begitu juga dengan Oma. Mereka berjalan meninggalkan Jinan dengan segala rasa gusar dalam hatinya. Ingin berteriak sekuat tenaga meluapkan segala amarah hingga lega dan emosi yang tak kunjung mereda.
__ADS_1
Jika Ia merasa bahwa Ia adalah anak perempuan yang tak pernah dituntut untuk bekerja, harusnya Ia juga sadae bahwa perlakuan orang tuanya memang berbeda karena harus mendidik Bisma lebih keras lagi sebagai pewaris tahta mereka. Tapi sayangnya Jinan tak peka, dan pemikirannya tak kunjung terbuka dengan semua kenyataan yang ada.
Kini Jinan harus belajar, bahwa semuanya tak semudah yang Ia lihat dan biasa Ia terima.