Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Semua salah dimata Jinan


__ADS_3

"Kau  fikir, Istriku pelayanmu?" tatap nyalang Bisma pada adiknya. 


Jinan yang ada dihadapan nya saat ini hanya bisa meneguk salivanya dengan kasar. Respon kakaknya memang sangat cepat meski ada kekurangan lain di tubuhnya, hingga Ia Ia masih akan terkekang dirumah itu nanti. Terkekang saja masih bisa hamil di luar nikah, bagaimana jika Bisma membebaskan nya selama ini. Pasti akan banyak masalah dan lebih dari apa yang paling fatal dalam keluarga mereka. Jinan memang masih seperti anak kecil yang harus id awasi terus akan kontrol dirinya.


"Jinan... Jinan cuma minta tolong ambilin minum aja. Iya kan, Kia?" tanya Jinan pada Kia, sembari memberi kode dari matanya untuk sang Kakak ipar.


"Tak ku dengar kata tolong keluar dari mulutmu," jawab Bisma, datar,


"Ji,..."


"Mas, udahlah... Ngga papa kok, cuma minum aja. Kia memang kelamaan karena nolongin MA Bisma dulu tadi." Kia langsung berbalik dan kembali mengambil air untuk Jinan, dan segera memberikannya pada sang asik ipar. Jinan menerimanya dengan sedikit kasar, tak ketinggalan tatapan judesnya pada kia yang selalu jadi andalan. Untung saja kia tak terlalu perduli akan hal itu dan fokus pada suaminya.

__ADS_1


Jinan mengajak Bisma bermain bersama Sena. Meski tak dapat menggendong seperti biasa, tapi Kia aktif memberikan Sena pada Omnya. Tawa bahagia mengiringi ketiganya saat bermain bersama saat itu. Seketika menimbulkan kecemburuan dihati Surya pada Kia. Padahal untuk apa cemburu, toh mereka telah memiliki keluarga masing-masing saat ini.


"Aduh cucu Oma, serasi banget kelihatannya. Ini ngasuh keponakan aja begini menyenangkan, bagaimana jika memiliki anak sendiri?" goda Oma yang baru saja keluar dari kamarnya. Seketika membuat Kia tersedak meski Ia tak sedang minum atau bahkan sedang makan saat ini. Perihnya, hingga Ia mengeluarkan air mata saat itu.


Bik Is yang kasihan melihatnya langsung membawakan air untuk meredakan rasa sakitnya.


"Nona ngga papa?"


"Kakak!!!!" pekik Jinan yang langsung menghampiri mereka. Merebut kasar Sena dari tangan Bisma dan menenangkan sang putra.


"Jinan, maaf. Aku hanya..."

__ADS_1


"Udah tahu ngga bisa, ya ngga bisa aja. Kalau gini, lepas kan dari pengawasan. Mentang-mentang ada orang baru, orang lama dikacangin begini." racau Jinan pada mereka semua, membuat Surya terbangun dari tidurnya yang lelap dengan mimpinya yang indah.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya surya yang matanya masih sepet dan sulit terbuka.


"Nak, sayang. Ini semua salah oma, Nak. Oma yang godain kia, tadi. Jinan ngga usah marah-marah, kak Bisma ngga sengaja," mohon oma padanya. Oma pun menatapnya dengan sejuta rasa tak enak hati saat ini. Tapi sepertinya Jinan sudah terlanjur keras hati.


"Jinan, maaf... Aku ngga sengaja," kia mengimbuhi segala permintaan maaf dari mereka. Jinan hanya diam dan memeluk sena, seperti tak tersentuh sama sekali hatinya dengan semua permintaan maaf yang ada. Justru serasa menjadi seperti orang paling ditindas dan tersakiti saat ini. Apalagi, ketika Surya justru tak juga membelanya dan malah memihak mereka semua.


"Sudahlah... Toh, Sena ngga kenapa-kenapa. Mereka sudah minta maaf, dam tulus sama kamu dan Sena. Ngga usah seperti anak kecil lah." 


Entah alasan apa membuat Surya bicara sok dewasa dan bijak seperti itu. Atau, hanya memancing perhatian dari mantan kekasihnya yang duduk disana. Atau, sedang cari muka pada Bisma karena Ia membantu untuk membela sang istri dimata adiknya. Entahlah, Bismapun hanya bisa mengerenyitkan dahinya mendapati tingkah surya  seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2