Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Ancaman Kia


__ADS_3

"Hallo, yah?" panggil Kia saat mengetahui sang ayah menelpon dirinya. Ia bahkan menyingkir sejenak ke kamar mandi agar Bisma tak mendengar obrolannya dengan sang ayah. Yang pada aslinya, Bisma akan biasa saja mendengar obrolan kedua ayah dan anak itu meski dihadapannya.


"Ayah melihat wawancaramu barusan. Puas, menjatuhkan nama ayahmu dihadapan semua orang?"


"Hey... Kia ngga ada menjatuhkan siapapun disana,"


"Tanpa sadar, Kia. Saat kamu membahas semua itu didepan media, pasti mereka akan dengan sendirinya mencari tahu siapa ayah yang kamu maksud. Yang selalu ingin mengekang dan tak pernah memberimu kebebasan untuk sekedar memilih jalan hidup,"


"Kia ngga ada bilang gitu. Ayah.... Ah, sudahlah, Kia capek kalau harus tengkar lagi sama ayah saat ini." Kia menyibak rambut didahinya dengan kasar, dengan helaan napas panjang yang memang menandakan jika Ia tengah lelah saat ini.


"Kau lelah? Lelah mengurus suami butamu itu?"


"Ayaaah!" Kia tampaknya mulai jengah lagi. Ingin rasanya mematikan Hp dan memblokir nomor sang ayah dari hidupnya, tapi Iaa masih takut di cap durhaka meski mungkin sang ayah sudah lama memberi label itu padanya.

__ADS_1


"Tak usah menyembunyikan keadaan, Kia. Ayah tahu benar, bagaimana rasanya mengurus Istri yang sakit. Ibumu, contohnya. Tapi setidaknya Ibumu bisa melihat, hingga Ia sedikit bisa mandiri dan tak terlalu bergantung dengan ayah."


"Kia... Sayang, kok lama?" panggil Bisma dari luar.


"Nah, kan... Belum beberapa menit saja dia sudah terus memanggilmu, bagaiman jika lama atau ayah mengambilmu darinya?"


"Jika ayah berani ambil Kia dari Mas Bisma, Kia jamin jika Ayah jatuh miskin dalam sekali kibasan tangannya." ucap Kia penuh ancaman pada sang ayah, lantas mematikan hpnya dan menghampiri sang suami yang telah ada di depan pintu  toilet menunggunya untuk segera keluar.


"Ya, Mas?" tanya Kia yang keluar dari toliet dan memberikan senyumya. Bisma tahu, karena Ia segera meraih wajah itu dan menyentuh senyum indah yang terlengkung dari bibir manis istrinya yang selalu  bisa membuatnya gemas tiada tara.


"Aku minta Liana mencarikan obat untukmua."


"Obatnya cuma makan. Ini juga udah masuk jam makan siang... Yuk, makan dikantin?" ajak Kia dengan menggandeng lengan kekar suaminya. Keluar dari ruangan besar Bisma dan menyusuri setiap lorong kantor besar itu menuju kantin. Meski tak dapat melihat Ia ada di ruang mana saat ini, tapi Ia menunjukkan arah yang benar menuju kantin dengan petunjuk yang Kia berikan. 

__ADS_1


"Pak Bisma, ada yang bisa saya bantu?" sapa dan tanya seorang karyawan yang menghampirinya dengan ramah.


"Kamu?"


"Maaf, saya Amir dari bagian keuangan. Apa Bapak dan Ibu mau kekantin?" tanyanya lagi, dan dijawab anggukan Kia padanya.


"Kami sudah dekat, bukan? Saya tak salah jalan?" tebak bisma.


"Ya, Bapak tak salah dan hanya tiggal lurus saja dan Bapak Ibu menemukan kantin kita."


" Baiklah, Amir... Terima kasih," ucap Bisma. Masih ingin mebantu, tapi Kia menolaknya dengan gelengan kepala dan Amir megerti akan kode yang diebrikan. 


Pria ramah itu mempersilahkan keduanya lewat sembari terus mengawasi keduanya. Ia kagum dengan Bisma, yang dengan segala kekurangannya, tapi sensitifitasnya pad lingkungkan kantor amat luar biasa. Seperti sudah sangat hafal dengan seluk beluk hotel itu, dari tempat yang besar hingga lorong terkecil sekalipun.

__ADS_1


"Keren, emang... " pujinya pada sang Bos.


__ADS_2