Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Mau apa setelah menikah?


__ADS_3

Kia masuk kedalam rumah dengan langkah pelan. Ia melihat Mama Lisa tengah menenangkan sang Ayah dengan duduk berdua di sofa ruang depan rumahnya. Tampak amat stres saat ini, dan berantakan wajah nya karena memikirkan Kia. Kia pun lelah, tak ingin lagi bersitegang dengan Ayahnya.


"Yah, Kia pulang." ucapnya. Mama Lisa langsung menyingkir, agar mereka bisa bicara berdua disana.


"Kenapa pulang? Bukan kah, kamu mau menikah dengan nya?" jawab Sang Ayah, lesu.


"Kia memang mau menikah dengan Tuan Bisma. Tapi, Kia tetap mau Ayah yang menikahkan."


"Kamu keras kepala, Kia."


"Kia dapat sifat ini dari Ayah." timpalnya, masih tetap berdiri di sebelah sang Ayah saat ini.


Pak Arman mendengkuskan napasnya untuk yang kesekian kali. Rasanya berat, meski hanya untuk menoleh pada anaknya. Anak kandung yang selama ini Ia perjuangkan, meski caranya mungkin salah dan terasa mengekang

__ADS_1


"Kia hanya minta, agar Ayah menikahkan Kia. Setelah itu, Ayah akan bebas tanpa harus memikirkan bagaimana Kia disana."


"Bagaimana tak terfikirkan, jika kamu menkahi pria yang..... Aaah, astaga." Pak Arman mengusap wajahnya dengan kasar, menahan ucapaan yang lagi-lagi akan terlontar secara menyakitkan untuk Kia. Biar bagaimanapun, Bisma adalah calon suami anaknya sekarang. Yang jelas, calon menantunya meski Ia tak ingin.


Kia kemudian duduk, Ia menggandeng lengan sang ayah dan menggelendot manja disana. Sudah sekian lama, kearkaban itu tak mereka rasakan. Sejak keputusan Kia kuliah dibidang kesehatan, mereka mulai berdebat dengan argumen masing-masing.


"Kia mohon, nikahkan Kia dengan Tuan Bisma. Setelah itu, Kia ngga akan pernah repotin Ayah lagi. Kia janji." mohon nya pada sang Ayah.


"Tapi syaratnya, pernikahan itu tak boleh dilaksanakan secara meriah. Dan jika pihak Bisma mau acara tetap ada, Ayah tak akan datang untuk pestanya." Kia hanya mengangguk dengan jawaban sang Ayah. Baginya, itu semua adalah sebuah angin segar bagi hubungan mereka.


"Liana, Hp ku." pinta Bisma, saat mendengar hpnya berbunyi. Liana dengan sigap memberikan Hp itu dan memberikan nya pada Bisma setelah Ia angkat.


"Nona Kia." ucap Liana, dan Bisma mengangguk dengan senyumnya.

__ADS_1


"Hay, Kia?"


"Hay, Tuan. Aku hanya ingin memberi kabar, jika Ayah mau menikahkan kita. Tapi dengan syarat, agar tak ada pesta meriah nantinya. Maaf, jikq mungkin ayah masih..."


"Ya, Kia... Aku mengerti dengan semuanya. Aku akan segera melakukan perundingan dengan keluarga, mengenai pernikahan kita."


"Tak ada proses lain? Lamaran, atau apa gitu?" tanya Kia, karena pernikahan terlalu tergesa-gesa baginya. Tapi, Ia sudah terlanjur menyanggupi semuanya dengan mereka.


"Tidak... Aku tak ingin mengulur waktuku lagi. Aku akan segera menikahimu dalam beberapa hari ini." jawab Bisma dengan sangat yakit.


Bibir Kia hanya ternganga mendengarnya. Ia terkejut dengan antusiasnya Bisma untuk menikahi nya, bahkan dengan keseriusan yang Ia janjikan. Yang bahkan mereka hanya beberapa kali bertemu tanpa perkenalan selama ini.


" Ketemu aja tabrakan mulu. Gimana kalau udah nikah? Mau apa, coba? Apa nanti akan jadi perawatnya aja, atau beneran jadi istri. Istri tugasnya apaan aja sih?"

__ADS_1


Kia merasa mendadak bodoh dengan semua yang ada. Cengo, dan Ia merasa semua pengetahuan dan ilmunya hilang karena semua yang Ia alami hari ini. Untung saja Ia masih ingat akan dirinya dan lingkungan disekitarnya.


"Apakah ini, yang dinamakan linglung?" tanya Kia pada dirinya sendiri. Bisma hanya tersenyum kembali mendengarnya, karena panggilan yang belum Kia matikan dari sana.


__ADS_2