Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Mas Bisma!


__ADS_3

"Korupsi? Apa itu korupsi? Korupsi itu jika ada proyek dan aku tak mengelolanya dengan baik, lalu aku menyunat semua keuangannya. Disini aku hanya memanfaatkan apa yang kalian berikan padaku. Aku manager, dan aku bisa melakukan semuanya."


Padahal sudah manager, tapi Surya masih saja tak bersyukur dengan pemberian Bisma padanuya. Yang Ia inginkan adalah jabatan tinggi tanpa Ia berusaha dengan tenaganya setara Ceo.


"Pemanfaatan itu ku ambil setelah kau KO, Bisma. Aku menghandle semuanya, dan memasukkan beberapa pendapatan kedalam rekening pribadiku. Itu sangat nikmat, Bisma. Maka dari itu, aku tak ingin kau bangun dengan cepat. Aku bahkan ingin kau tidur untuk selamanya. Tapi gagal," Yang awalnya penuh ambisi dan keinginan, wajah itu langsung berubah dengan wajah penuh rasa putus asa.


Ia langsung duduk dan termenung dilantai, menjatuhkan kepalanya dengan pasrah dan menatap kedepan dengan fikiran yang kosong. Ia amat menyayangkan nasibnya yang kembali malang setelah bisma sadar dari komanya saat itu, saat Ia belum puas dengan hidupnya yang indah. Saat Daksa tak bisa mengawasinya dengan ketat karena fokusnya yang bertambah.


"Aku masih ingin bersenang-senang, hang out, dan menikmati semua wanita yang selalu datang padaku. Kau tahu bukan, bagaimana rasanya dikerubungi wanita cantik dan seksi? Yang bahkan mereka mau memberikan apa saja untukku?"


"Laknat kau Surya! Kau mengkhianati Jinan adikku! Jika terjadi sesuatu padanya, kau akan...."

__ADS_1


"Akan apa? Bahkan kau belum tentu bisa melindungi dirimu sendiri dari aku saat ini." cibir Surya.


"Dan kau tahu, jika hanya dengan jentikan jariku ini kau bisa tamat, Surya!"


"Dan bahkan kau tak akan bisa menjentikkan jarimu sendiri dari sekarang!!" Surya bangkit, Ia memasang kuda-kuda lalu berlari ke arah bisma.


Surya berlari dengan kuat dan menabrakkan diri pada tubuh besar bisma yang saat itu belum sempat mengambil ancang-ancang untuk melawannya. Dan lagi, posisinya tepat dipinggir kapal yang hanya berbatas dengan pagar besi.


Byuuuurrr! Tubuh Bisma jatuh kedalam air laut yang dalam itu.


"Astaga! Apa yang aku lakukan? Aku mendorongnya kesana! Apakah dia akan mati?" Surya yang cemas langsung berlari tunggang langgang, lalu masuk kedalam kamarnya kembali. Ia segera menguncinya, dan menyelimuti tubuh gemetarnya itu dengan selimut tebal yang ada. Padahal Ia tak dingin, justru amat kepanasan dengan segala rasa takut yang ada.

__ADS_1


"Mas Bisma!" Kia tersentak dan bangun dari tidurnya. Ia segera meraba sebelah dan Bisma tak ada disana kala itu.


Cemas, dan Ia pun segera meraih pakaiannya lagi untuk keluar dari kamar mencari suaminya. Ia berkeliling di semua ruangan kapal, namun tak Ia temukan jejak keberadaan Bisma saat itu.


"Nyona cari siapa tengah malam begini?" tanya seorang pelayan padanya.


"Suami saya. Maaf, Pria yang membawa tongkat?" tanya Kia. Pelayan itu mengerti, lalu menjelaskan jika Ia sempat melihat Bisma keluar ditemani rekannya.


Kia pun diajak menghampiri rekan pelayannya tadi, dan jujur Ia jawab jika Ia mengantar Bisma keluar.


"Katanya mau bertemu seseorang, tapi saya berhenti disini karena banyak peketjaan." terang pelayan itu.

__ADS_1


Kia langsung panik dan berjalan disekitar sana untuk mencari suaminya. Ia tak menemukan Bisma, hanya tongkatnya berada di dekat pagar pembatas itu. Firasat Kia pun amat buruk dan langsung membungkuk melihat kebawah.


" Mas Bisma!! Mas dimana? Ya Allah, jangan sampai tercebur, Mas!" Kia langsung menangis sejadi-jadinya saat itu, menbayangkan apa yang terjadi pada suaminya yang mungkin memang tercebur kedalam air laut yang dingin.


__ADS_2