
"Mama, Nanda? udah dateng daritadi?" tanya Kia yang keluar menggendong Sena.
Mama Lisa menatap sena yang begitu lucu, dan ingin segera menggendong dan menciumnya karena gemas dan melupakan sapaan Kia. Untung Kia tak tersinggungan karena Nanda yang mewakili sang mama untuk membalas pertanyaan Kia saat itu.
"Iya, Kak... Oma yang sambut di depan. Katanya Kakak lagi mandiin keponakan, sena." Kia hanya menganggukkan kepala mendengarnya. Ia mempersilahkan duduk, Mama dan nanda. Serta menuntun suaminya menuju sofa yang ada diruang tamu itu.
Sebenarnya sempat tercengang dengan luasnya rumah itu, baik Mama ataupun Nanda. Rumah yang amat besar dengan bangunannya yang mewah, sepertinya cukup untuk menampung begitu banyak orang disana. Tapi terasa amat sepi, dengan hanya Oma serta kedua pasutri itu disana dan bebepa asisten rumah tangga.
"Kak Bisma ngga ada perawat?" tanya Nanda, yang terfikir betapa repotnya Kia merawat Bisma sendirian.
"Tidak... Tak ada perawat yang bertahan lama dengan ku, "jawab Bisma yang duduk santai menggenggam tongkatnya. "Hanya ada Kia, dan hanya dia yang berhak saat ini." Bisma mempertegas jawabannya pada Nanda. Bahwa memang hidupnya telah bergntung pada Kia dari bangun tidur hingga akan tidur lagi.
__ADS_1
Sementara Kia menyaksikan keduanya bicara sembari menimang dan memberi susu pada sena. Duduk disamping Mama Lisa yang yang membantu untuk menepuk nepuk kakinya yang mungil agar segera tidur dengan nyaman. Karena memang, Mama Lisa melihat sena sudah amat lelah dan mengantuk setelah mandi dan tubunya segar seperti itu.
Mama Lisa menanyakan mengenani Mamanya sena, tapi Oma yang datang untuk menjawabnya sembari memberikan teh untuk menjamu tamunya. Sedangkan Bi Is dan mala tengah mempersiapkan hidangan yang mereka bawa di meja makan dengan rapi lalu menutupnya. Setidaknya mereka menunggu Jinan dan surya pulang untuk makan bersama malam ini. Karena jika tidak, Jinan mungkin akan kembali menderita dengan segala rutukan dalam hatinya dan menyalahkan Kia atas segala yang Ia alami saat ini.
"Namanya anak masih labil, Bu. Menikah terlalu muda, itu aja karena..."
"Oma,.." tegur Bisma agar Oma tak kebablasan dama bercerita mengenai Jinan. Oma kembali diam dan menunduk mengatupkan mulutnya.
Suara mobil terdengar berhenti di depan rumah. Suara yang jelas terdengar ditelinga Bisma, bahwa Jinan memakai mobil kesayangannya saat itu tanpa meminta izin terlebih dulu padanya. Tangannya mengepal, dan rahangnya menegang saat sadar kenyataan bahawa adiknya itu belum berubah hingga saat ini. Masih seenaknya saja, dan makin menjadi saat Ia lemah seperti ini.
"Jinan... Sudah pulang, Nak?" tanya Oma pada cucunya.
__ADS_1
"Dia tak pulang, Oma. Dia juga datang bertamu, seperti Nanda dan mama." balas Bisma pada ucapan Oma, yang langsung membuat Jinan menarik napas panjang dan geram pada Kakaknya.
"Apa Jinan sudah ngga dianggap dirumah ini?"
"Kamu yang ngga pernah menganggap kami ada, Jinan. Seenaknya pergi meninggalkan anak hingga kelaparan seperti itu, tanpa tanggung jawab sama sekali. Untung ada kia yang terampil mengurusnya,"
"Jinan ngga titip sama Kia, Jinan titip sama Oma..." sergah Jinan, langsung berjalan mengambil Sena dari dekap hangat Kia yang duduk disofa. Ia meraih tubuh gembul itu tanpa rasa terimakasih, bahkan memasang wajah masam pada kakak iparnya itu.
"Terimakasih Jinan," ucap Kia bernada sindirian, dan lagi-lagi membuat Jinan kesal setengah mati, Menatap kedua pasutri yang akan semakin kompak menyerang dirinya dirumah itu.
Bibir Jinan rasanya ingin sekali membalas mereka. Tapi Oma meliriknya dengan gelengan kepala untuk mencegahnya bicara, apalagi tengah ada tamu diantara mereka saat ini. Jinan akhirnya hanya bisa mencebik kesal, dan membawa putranya itu masuk kedalam kamar untuk istirahat dari segala rasa lelah yang Ia rasaka setelah main hampir seharian.
__ADS_1
Memang benar, jika ego Jinan masih tinggi. Masih ingin bermain dan berkumpul bersama para sahabatnya yang rata-rata masih kuliah atau bekerja dan hidup bebas tanpa tekanan sana sini. Apalagi jengahnya bertambah, saat Bisma menonaktifkan beberapa credit card yang biasa Ia pakai dalam jumlah tak terhingga itu.
"Harus minta penjelasan! Ngga bisa seenaknya gini sama aku," geram Jinan pada tingkah otoriter sang kakak saat ini.