
Genggaman tangan Kia semakin erat pada Bisma. Jantung pria itu langsung bergemuruh seolah tak dapat terkontrol lagi saat ini. Bukan kali pertama jatuh cinta, tapi rasanya memang beda terhadap Kia. Gadis yang memang Ia ingin kan sejak lama.
Pak Arman mendengkus kesal, Ia pun segera berdiri dan pergi meninggalkan mereka semua disana. Termasuk Rangga, yang tengah geram karena kekalahan yang Ia alami saat ini.
"Ada apa lagi?" tatap Kia pada pria itu.
"Tidak ada. Hanya saja, Aku yakin kau akan menyesali keputusan mu itu. Lihat saja nanti," tantang Rangga, kemudian menyusul untuk pergi dari hadapan mereka semua.
Hanya Kia saat ini, ada diantara Bisma dan para sahabatnya. Ia terdiam, bingung dan tak tahu harus melakukan apa lagi setelah ini. Bahkan Ia bingung akan pulang kemana nanti. Ia masih butuh restu sang ayah, yang mungkin itu akan sulit Ia dapatkan nantinya.
"Kia? Hey, ada apa?" Bisma menolehkan tubuhnya menghadap Kia, meraba wajah dan mengusap air matanya tanpa ragu. Justru Kia yang rasanya sungkan dengan perhatian yang Bisma berikan padanya.
Dan Bisma. Ia sangat senang karena pada akhirnya dapat menyentuh dan mengusap wajah Kia sedekat itu, meski Ia belum dapat melihat wajahnya. Hanya dengan rabaan tangannya, Ia yakin jika Kia adalah gadis yang cantik sesuai ekspetasi yang Ia miliki.
"Eeehm... Maaf, Pak. Saya hanya masih,..."
__ADS_1
"Kau masih ragu, dengan keputusanmu?"
"Oh, tidak... Tidak sama sekali, Pak. Saya sudah yakin dengan semua keputusan yang saya ambil. Hanya saja...."
"Kenapa? Ayah?"
"Ya, itu yang saya fikirkan. Maaf jika.. Jika ayahlah yang membuat semuanya rumit. Dia yang ingin, tapi akhirnya dia yang keras kepala." sesal Kia.
Melihat semua kemistri yang terjalin, Daksa dan Liana hanya tersenum. Pertanda jika mereka juga bahagia dengan apa yang Bisma dapatkan. Meski nanti akhirnya, mereka berdua lah yang akan kembali lelah untuk mengurus semuanya. Lagi dan lagi hanya mereka.
"Menikah..." jawab Kia tanpa ekspresi.
"Kamu yakin?" tanya Bisma. Ia tak ingin Kia terpaksa, meski pada kenyataan nya seperti itulah adanya. Hanya Bisma tak ingin membuat Kia semakin tertekan nantinya.
"Ya, saya yakin. Tapi, beri kesempatan untuk bicara dengan Ayah. Dua hari. Saja." pinta Kia. Bahkan jika memang mau, Bisma bisa memberi waktu lebih dari itu. Ia yakin jika Kia bukan lah gadis yang bisa mempermainkan janjinya.
__ADS_1
"Baik... Aku izinkan kamu melakukannya. Dengan catatan, laporkan apapun yang terjadi padaku. Dan bicaralah, apapun yang Ayah lakukan padamu. Aku tak ingin kau terluka nantinya."
"Iya," angguk Kia. Bisma meraihnya, agar Kia jatuh dalam dekap hangatnya. Mengusap rambutnya dengan lembut, dengan segala rasa tulus yang Ia miliki.
Kia pun merasakan nya. Bisma begitu hangat dan tulus padanya, membuat Kia tak enak hati jika nanti Ia lah yang akan menyakiti Bisma dengan perasaan nya.
"Aku akan mencoba membuka hati. Baiklah, truma itu sudah lama. Dan lagi, yang penting Bisma akan menyelamatkan ku dati Ayah." gumam Kia dalam hati.
Setelah semjua diskusi, Bisma akhirnya mengantar Kia untuk pulang kerumahnya dengan Daksa dan Liana diantara mereka. Sayangnya, Kia belum mengizinkan mereka masuk untuk bertemu kembali dengan ayahnya. Kia tahu, jika ayahnya telah dirumah karena mobil telah terparkir rapi di garasi.
"Maaf... Saya hanya tak ingin menambah keruh suasana. Biarkan saya bertemu dengan ayah kali ini. Sendiri," pinta Kia.
Bisma mengangguk. Tapi sebelum Ia pergi, Bisma meminta izin untuk meraba wajah Kia sekali. Dan Kia mengizinkan nya. Ia menganggap itu sebuah perkenalan agar Bisma yakin dengan keputusan yang ada. Hanya meraba wajah, mata, hidung dan bibirnya. Untuk menggambarkan betapa nyaman Bisma di dekat Kia.
" Pergilah, dan hati-hati."
__ADS_1