
Pak Arman mundur dari mereka, lari tunggang langgang mendengar semua ancaman Bisma padanya. Semua terdengar begitu menakutkan baginya, hingga membuat seluruh tubuhnya gemetaran. Ia bahkan kesulitan membuka kunci mobilnya saat itu hingga terjatuh kelantai parkiran. Dan saat Ia berjongkok mencarinya, Ia sadar memang banyak bekas goresan dimobil ity yang bahkan tak sempat Ia lihat dan Ia tutupi.
Tapi untuk apa sadar saat ini, karena semua sudah terlambat baginya. Daksa dan Bisma sudah tahu semuanya, dan mereka bukan anak ingusan yang bertindak tanpa memikirkan dulu apa yanh akan mereka lakukan sebelumnya. Ia juga yakin, jika Bisma tak main-main dengan ancaman yang Ia berikan saat itu.
"Aaarrrrggghh! Semuanya jadi begini!" pekiknya dalam mobil sendirian saat itu. Iapun segera memacu mobilnya dengan cepat dan pulang kerumah untuk menengkan diri, berharap agar Kia segera sampai dan mereka bisa bicara berdua dirumah.
*
"Mas, Kia pulang dulu." pamit Kia usai dirinya benar-benar merasa tenang saat ini.
"Daksa antar kamu?"
__ADS_1
"Ngga usah, ngg papa. Kia bisa sendiri," Kia meraih tangan bisma lalu mengecupnya untuk segera pulang kerumah. Setidaknya Ia ingin bicara dengan ayahnya mengenai masalah yang ada.
Disini lah penyesalan Bisma sebenarnya. Ia ingin menyelesaikan semuanya besok, saat surya mereka bereskan. Tapi nyatanya harus segera Ia bongkar karena kepalang basah dan demi tertutup mulutnya sang mertua mengenai keberadaannya.
Kia meninggalkannya saat itu bersama Daksa. Tapi Ia meyakinkan diri jika Kia tak benar-benar sendiri saat itu, melainkan beberapa oranh mengikutinya dibelakang dengan perintah Bisma demi keamanan istrinya.
Kia tiba dirumah, dan menemukan sang ayah duduk dikursi ruang tamu dalam keadaan berantakan. Ia hanya diam lalu menghampiri sang ayah duduk didekatnya.
"Ayah lihat? Seorang pria yang bahkan sempat ayah remehkan selama ini, berubah menjadi pria paling menakutkan dengan segala kekuatan yang dia punya. Apa itu alasan, ayah menentang hubungan Kia dan Bisma saat itu?"
"Ayah tahu kedaannya separah itu, tapi nurani Ayah tak tergerak sama sekali untuk menolongnya? Apa Ayah ink monster?" tukas Kia dengan air mata yang kembalu terurai membasahi pipinya saat itu.
__ADS_1
Bahkan diam-diam Nanda keluar dan menyaksikan perdebatan lirih keduanya, dan ikut perih dengan keadaan mereka disana. Sayang Ia tak tahu apapun, hingga tak berani mencoba untuk menengahi keduanya.
"Kamu selalu menuduh Ayah seburuk itu dimata kamu, Kia."
"Lalu apa? Ayah terus bilang, bahwa itu demi Kia. Demi apa? Apa yang Ayah korbankan demi Kia?"
"Demi menghadiri wisuda kamu, Kia! Ayah berpacu dengan waktu dari tempat satu ketempat yang lain demi kamu. Agar kamu bahagia setidaknya ada yang mendampingi saat itu. Pacar tak ada, Bunda meninggal. Lalu siapa? Hanya Ayah... Ayah sadar itu, Kia. Selalu kamu salahkan Ayah, lagi dan lagi." balas Pak Arman dengan napas suaranya yang serak. Tak tersembunyikan lagi ekspresinya yang menahan tangis kala itu didepan anaknya.
" Meski Ayah benci dan Ayah tak suka dengan apa yang kamu ambil, tapi setidaknya kamu sudah menyelesaikannya dengan baik. Ayah sadar itu," imbuhnya.
"Selama ini Kia ngga pernah menuntut apapun dari Ayah. Kia sadar betul jika Ayah tak ingin Kia menjadi perawat, bahkan Kia amat ikhlas saat Ayah tak akan pernah datang kesana. Terimakasih, Yah." ucap Kia kala itu, dengan apresiasi yang ayahnya berikan meski harus memakan korban.
__ADS_1
Dan setidaknya dengan itu Kia berharap sang Ayah melakukan hal yang sama pada suaminya. Setidaknya meminta maaf pada Bisma untuk apa yang telah Ia perbuat selama ini.
"Anggap saja, Kia sebagai penebus kesalah ayah saat itu. Kia harus mengurus Mas Bisma dengan keadaan pahit, yang rupanya ayah kia sendiri penyebabnya." timpal Kia, dan saat ini hatinya sedikit lega.