Cahaya Untuk Tuan Bisma

Cahaya Untuk Tuan Bisma
Surya yang terhebat


__ADS_3

Malam telah tiba, dan sesuai jadwal yang seperti biasanya bahwa Daksa datang untuk menggantikan tugas Kia. 


"Nanti kalau ada apa-apa, hubungi Kia. Okey?" kecup Kia dikening suaminya dengan begitu hangat. Genggaman tangan Bismapun seolah tak ingin lepas dari sang istri saat itu, apalagi dalam kedadaan yang seperti ini. Ia ingin selalu bersama dan memeluk cahayanya saat mata itu sudah bisa terbuka sempurna. 


"Besok Kia akan datang lagi, pagi-pagi seperti biasanya." bisik Kia menenangkan. Ia akhirnya pergi dengan berat hati, meninggalkan Daksa dan Bisma diruangan mereka.


"Bagaimana Surya?" Pertanyaan Bisma untuk yang pertama kali pada Daksa.


"Dia? Sebenarnya pekerjaan yang Ia lakukan cukup baik. Namun sayangnya semua harus dipaksa, karena dia memang suka mencari muka dan perhatian. Apalagi pengakuan dari setiap orang bahwa Ialah Direktur Prada saat ini, seolah yang paling hebat." ulas Daksa dengan jujur.

__ADS_1


"Andai Ia bekerja dengan baik selama ini, pasti aku juga akan mempertimbangkan dirinya dengan segala status yang ada. Dia tak bis amemanfaatkan itu semua," sesal Bisma pada adik iparnya itu.


Daksa hanya mengangguk saat itu. Ia juga menyayangkan semuanya, padahal Surya bisa saja diandalkan disaat Bisma memegang kendali yang lain. Tapi fikirannya sudah terkontaminasi dengan kekuasaan dan kemalasan, hingga bergabung menjadi satu hingga timbullah obsesi luar biasa dihatinya saat itu.


"Aku kadang kasihan dengan Jinan jika seperti ini, Daksa. Bagaimana keadaan adik dan keponakanku saat ini?" tanya Bisma yang memang selalu ingat Jinan. Tapi sayang Ia tak pernah boleh menghubungi adiknya selama perawatan.


"Oh... Jinan baik, Bisma. Justru Ia mengaku padaku, jika Ia semakin lama semakin terbiasa tanpa surya saat ini. Ia terbiasa untuk sendiri dan mulai bangkit memikirkan masa depannya. Dan entah mengap, Surya sudah tak ada dalam setiap rencananya." terang Daksa.


**

__ADS_1


"Pa, makan malam dulu. Nanti terlat makan malah sakit, ngga bisa kerja." paggil Jinan pada suaminya.


"Ya, Ma... Bentar, papa lagi buat susunan pidato Papa untuk perkenalan sebagai direktur baru di prada. Coba lihat?  Bahkan papa buat sebuah dokumenter perjalanan karier Papa selama bekerja dihotel. Dari Karyawan, manager hingga dipercaya sebagai Direktur saat ini."


Jinan menghampirinya dan hanya bisa tersenyum pasrah dengan tingkah sang suami. Obesesi itu membuatnya semakin gila dengan kekuasaan yang ada, membutakan mata dan hatinya untuk kenyataan yang ada. Pengakuan dan pengakuan, hanya itu yang Ia cari saat ini.


"Ini Nanti mau diputer kapan?" tanya Jinan.


"Beberapa hari lagi, saat pembukaan konser. Kan pas, mereka dapat mengagumi semuanya dengan tayangan dari tv besar yang ada." Surya bahkan takjub membayangkan dirinya sendiri berpidato didepan orang yang begitu banyak, bahkan dari seluruh penjuru negeri yang memang sengaja datang untuk menonton konser luar biasa itu. 

__ADS_1


Bayangan surya adalah dirinya yang terhebat dengan segala yang Ia capai. Adalah Dia yang paling bisa dibanggakan dengan apa yang ia peroleh saat ini. Tanpa Ia sadari, dalam semua kebanggaan itu ada istri yang sudah hambar bersamanya, dan ada sebuah kejutan yang tak pernah diduga akan datang padanya. Ia terlalu fokus dan bangga dengan apa yang Ia ambil secara paksa dengan segala cara.


__ADS_2