
"Seberantakan itukah?" tatap Bisma pada istrinya. Ia tahu, bahwa Kia pasti amat malu dengan segala kondisinya.
"Maaf, Kia ngga sengaja. Tapi, Kia punya alasan kok."
"Alasan apa? Hmmm?" ledek Bisma yang akhirnya menemukan satu lagi benda misteri yang tampaknya lebih lembut Ia sentuh. Hingga terbayanglah dalam fikirannya itu, kamar yang berantakan dengan baju dan pakaian dalam yang berserakan dimana-mana. Bisma pun pernah menjadi anak kost, tapi Ia tak seberantakan itu menurut apa yang Ia bayangkan.
"Mas... Udah, jangan dicari lagi. Kia janji Kia bakal beresin semuanya kok," rengek Kia saat tahu fikiran Bisma makin liar dengan apa yang Ia temukan. Kia bersimpuh didepan Bisma, berusaha merebut apa saja yang Bisma pegang saat ini dengan terus menjelaskan alasan dibalik semua berantakan yang ada.
"Kia kan tinggal sendiri, dinas pagi, sore, malem dan urus semuanya sendirian juga. Kadang double shift, capek. Ayolah Mass, biarin Kia beresin dulu semuanya." rengek Kia pada kejahilan suaminya. apalagi mendengar suara Kia yang manja dan menggemaskan itu baginya sungguh membahagiakan dan lucu.
__ADS_1
Kia sedikit berdiri, kakinya bertumpu diantara kedua kaki Bisma dan meraih bahu Bisma yang kokoh agar dapat meraih tangan Bisma yang memegang barang keramat itu. Dengan gerakan yang seperti itu, membuat sesuatu kini berada tepat didepan mata Bisma yang bisa melihat tapi bisa merasakan apa yang tersentuh disana. Bisma lantas menelan salivanya dalam dalam saat sadar benda itu ada didepan mata.
"Mas, lepasin. Kia malu,"
"Tapi ini," tatapan mata Bisma tepat ada di dada Kia saat ini. Kia yang sadar langsung terkejut dan menghindar, tapi justru membuatnya terpeleset dan membawa Bisma jatuh dibawahnya.
"Arrkhh!" Bisma mengerang saat tubuh Kia jatuh dengan kasar diatas tubuhnya saat ini.
"Kau masih gugup denganku? Kenapa?" Bisma meraih kembali wajah Kia dan merabanya seperti biasa, Dan terasa butiran keringat dingin mengalir dari dahi ke wajahnya.
__ADS_1
"Kia hanya... Hanya..." Bahkan Kia gugup dan bingung harus menjawab apa pada Bisma yang saat ini menatapnya dengan amat lekat, membuat suasana dan suhu ruangan itu terasa amat berbeda dari biasanya.
Tangan Bisma meraih kepala belakang kia dan mendorongnya agar mereka semakin dekat. Hidung keduanya bertemu saat ini, dan Bisma menelengkan kepalanya agar bisa meraih bibir manis sang istri yang sellau bisa menggidanya meski belum pernah Ia lihat bagaimana. Tapi Ia selalu ingin merasakaan manis itu setiap hari agar bisa membuat hidupnya semakin memiliki cahaya didalam semua gelap yang Ia rasa.
"Pintu sudah Kia kunci?" tanya Bisma dengan bisikan lirih sembari menyambangi ceruk leher Kia secara perlahan.
"Be-belum, Mas..." jawab Kia jujur, pasalnya Ia langsung berlari saat Bisma memegang benda keramati itu ditangannya. Bisma lantas melepas pelukannya dari Kia dan mengeglengkan kepala pada istrinya, pertanda agar Kia segera mengunci pintu itu sekarang juga.
Meski ragu, Kia menurutinya. Ia menatap Bisma yang segera duduk saat mendengar pintu itu telah dikunci dengan rapat disana, seolah menyambut Kia kedalam pelukannya sekali lagi dan berbeda posisi. Untung saja Kia sudah memperkenalkan Bisma sebagai suaminya pada Ibu kost, hingga tak akan ada yang curiga jika terjadi sesuatu didalam sana.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu, sekarang..." lirih Bisma dengan bisikan mesranya, saat Kia telah duduk diatas pangkuan dan menghadap pada dirinya saat itu. Tangan hangatnya kembali meraih tengkuk Kia dan memperdalam pangutaannyaa, begitu dalam dan mentuntut bahkan nyaris membuat Kia kehabisan napas dan melepasnya sejenak.
Tangan Kia mulai aktif dibahu dan mengusap rambut Bisma, pertanda mulai gelisah dengan apa yang suaminya lakukan padanya. apalagi saat kecuupan Bisma mulai turun ke ceruk leher dan semakin turun pada sesuatu yang mulai Ia sukai dari tubuh Kia. Sontak membuat Kia bersuara dan melentingkan tubuhnya saat mulai disentuh secara intens oleh bibir dan jari-jari Bisma yang aktif disana walau belum sepenuhnya terbuka.