
Obrolan mengenai Kia barusan, seketika membuat Nanda rindu pada Kakaknya. Ia mengajak sang Mama untuk menjenguk Kia kerumah Bisma, dan mama Lisa menyambut niatnya itu dengan sangat antusias. Bahkan menyiapkan beberapa makanan kesukaan Kia untuk Ia bawa kesana dalam jumlah yang cukup banyak agar bisa makan bersama dengan keluarga mereka.
"Bentar lagi Nanda jemput, ya?"
"Iya, sayang... Mama siap-siap dulu."
Nanda yang telah menyelesaikan semua pekerjaannya, lantas merapikan meja dan bersiap untuk pergi. Ia bahkan telah meminta izin Pak Arman, meski dengan jawaban yang dingin saat Ia bertanya.
"Ya, sekalian mengawasi Kia disana. Bagaimana caranya mengurus suami yang buta dengan segala kesibukkan yang ada. Sampai kapan Ia akan kuat dan bertahan dengan posisi seperti itu," ucapan Pak Arman masih saja meremehkan putrinya. Ia masih menganggap jika Kia adalah gadis yang terlahir manja dengan segala pelayananan dan fasilitas yang selalu Ia berikan. Meski Bisma juga kaya, tapi selalu ada minus dimata pak arman pada menantunya itu.
"Hallo... Kak, Kakak dimana sekarang?" panggil Nanda via teleponnya.
"Masih di kantor, kenapa?"
"Pulang jam berapa? Nanda sama Mama mau kerumah Kak Kia, kangen."
"Kangen? Baru beberapa hari, lebay ah..."
"Beneran loh ini. Mama juga masakin buat Kak Kia, yang banyak karena mau makan bersama sama Oma."
__ADS_1
"Aduh, dirumah ada Jinan pula. Gimana nih?" galau Kia, yang ngeri saat Jinan bertemu Nanda dan Mamanya. "Bisa-bisa, nanti Nanda lapor macem-macem sama ayah."
"Kia... Ada apa?" panggil Bisma yang membaca kegelisahan istrinya.
"Nanda sama mama Lisa, katanya mau main kerumah. Boleh, Mas?"
"Kenapa ngga boleh? Sekarang kita pulang dan menyambut mereka dirumah. Beritahu Oma juga, agar oma meminta Bi Is memasak yang enak untuk mereka." jawab Bisma dengan amat antusias. Kia hanya mengangguk dan menuruti perintah suaminya, lalu membawanya turun lagi untuk pulang. Dijalan bertemu Bisma, dan pamit karena alasan yang sama.
"Nanda, adik Kia?" Daksa langsung melotot mendengar nama itu ditelinganya.
"Ya, kenapa?"
"Daksa..."
"Iya... Aku hanya suka, ketika mendengar namanya. Salam, ya?" colek Daksa pada sahabatnya itu. Kia hanya mengerenyitkan dahinya, saat mendengar ketertarikan Daksa pada adik sambungnya itu.
"Pernah ketemu?" Kia lupa, saat Ia meminta nanda menggantikan dirinya bertemu Bisma kala itu.
"Ya... Waktu kamu kabur dalam pertemuan, aku ajak Nanda mojok buat awasin kalian. Kan, kalian berdua sama anehnya. Satu ngejar mulu, satu sok-sokan kabur..."
__ADS_1
"Siapa, Kia?" tunjuknya pada diri sendiri.
"Ya, siapa lagi?" tatap Daksa sinis pada Kia. Wanita itu langsung tersipu malu membayangkan semua kebodohan yang Ia lakukan kala itu. '
"Kia... Pulang," panggil Bisma yang melerai keduanya. Kia hanya membalasnya dengan anggkan, lalu menggandeng Bisma sembari menelpon Yanto untuk menemui mereka di Lobi.
Perjalanan tak terlalu panjang bagi keduanya. Mereke telah tiba di rumah lebih cepat dari Nanda dan mama Lisa yang akan datang, karena butuh setengah jam agar sampai disana. Belum lagi, persiapan mama Lisa yang cukup banyak dengan masakan yang Ia buat untuk Kia dirumah barunya.
"Mama sama nanda mau datang, Oma. Jadi Kia pulang cepet sama Mas Bisma," terang Kia yang mulai masuk ke dapur untuk mengolah beberapa bahan makanan. Dari apa yang Nanda jelaskan mengenai bawaan sang Mama, Kia hanya membuat beberapa tambahan menu sayuran agar lebih sehat. Apalagi dengan Bisma yang harus terus menjaga kesehatannya hingga waktu operasi tiba.
"Maaf, sayang... Oma lagi urus sena, jadi Oma ngga bisa bantu. Sama Bi Is aja, ya?"
"Iya, Oma... Ngga papa, lagian ngga terlalu repot kok. Jinan kemana?" tanya Kia basa basi.
"Jinan itu masih seperti remaja. Kumpul dengan teman-teman dan jalan-jalan ngga tahu waktu. Padahal sena begitu butuh perhatian dan masih Asi," keluh Oma akan cucunya yang satu itu.
Jiwanya yang masih jiwa bersenang-senang, dan sama sekali belum bisa berfikir jauh kedepan itu sungguh membuat Oma sakit kepala. Belum lagi jika Senanya rwel dan tak bisa diam jika bukan Mamanya yang turun tangan. Tapi Jinan cuek dan seperti nalurinya sebagai ibu itu sama sekali belum ada.
"Pusing Oma mikirnya,"
__ADS_1